Suara.com - Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton menulis lewat buku barunya bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah meminta bantuan Presiden China Xi Jinping agar dia terpilih kembali dalam pemilihan presiden 2020.
Bolton, penasihat dalam kebijakan luar negeri dan penganjur perang yang dipecat Trump atas perbedaan beleid, juga mengatakan bahwa presiden AS itu telah menyatakan keinginannya untuk menghentikan penyelidikan-penyelidikan kriminal untuk memberikan "keberpihakan pribadi kepada para diktator yang dia sukai".
Pernyataan-pernyataan Bolton itu dikutip oleh koran terkemuka The New York Times, Wall Street Journal, dan Washington Post dari buku bertajuk "The Room Where It Happened: A White House Memoir" yang dipublikasikan pada Rabu.
Gedung Putih menyerang Bolton tapi tak berkomentar atas isi bukunya.
Tuduhan-tuduhan itu merupakan bagian dari sebuah buku yang pemerintah AS pada Selasa tuntut untuk menghadang Bolton menerbitkan bukunya. Pemerintah berpendapat bahwa buku itu berisi informasi rahasia negara dan akan merongrong keamanan nasional. Pemerintah sedang mengupayakan dengar pendapat dengan pengadilan pada Jumat.
Bersama-sama, koran-koran itu juga menggambarkan seorang presiden AS, yang dicemooh oleh para penasihat utamanya, yang memaparkan dirinya pada tuduhan-tuduhan pelanggaran hukum yang jauh lebih luas dari pada tuduhan yang mendorong DPR yang dikuasai Partai Demokrat untuk memakzulkan Trump tahun lalu.
Senat yang dikuasai Partai Republik membebaskan Trump (dari pemakzulan) pada awal Februari. Trump dituduh menahan bantuan militer AS tahun lalu untuk menekan Presiden Ukrania yang baru terpilih Volodymir Zelensky agar memberikan informasi yang merugikan lawan politiknya Joe Biden dari Partai demokrat.
"Andaikan penasihat pemakzulan Demokrat tak terobsesi dengan serangan kilat Ukraina 2019, andaikan bersabar untuk menyelidiki lebih sistematis tentang perilaku Trump atas kebijakan luar negerinya yang menyeluruh, hasil pemakzulan mungkin berbeda," tulis Bolton menurut nukilan dari bukunya yang diterbitkan Wall Street Journal.
Kritikus Bolton mencatat dia menolak bersaksi di depan penyelidikan DPR saat pengungkapannya dapat menjadi penting, alih-alih patuh pada arahan Gedung Putih.
Baca Juga: Trump Teken RUU Sanksi Atas Perlakuan China Terhadap Muslim Uighur
Anggota DPR Adam Schiff, wakil Demokrat California yang memimpin dakwaan terhadap Trump yang anggota Republik, mencela Bolton karena bilang saat itu bahwa "dia akan menuntut jika dipanggil untuk bersaksi."
"Namun dia menyimpannya untuk sebuah buku," Schiff mengatakan di Twitter. "Bolton boleh jadi seorang pengarang tapi dia bukan pembela negara."
Tuduhan-tuduhan Bolton memberikan amunisi baru bagi kritikus menjelang pilpres 3 November, termasuk peristiwa-peristiwa di balik layar mengenai percakapan Trump dengan Xi Jinping yang, dalam satu hal, telah menjadi topik sensitif dalam pemilu AS.
Sumber: Antara/Reuters
Berita Terkait
-
AS Teken UU Seruan Sanksi Soal Muslim Uighur, China Langsung Bereaksi
-
Trump Teken RUU Sanksi Atas Perlakuan China Terhadap Muslim Uighur
-
Pegunungan Himalaya, Ada Apa di Balik Pertikaian Militer India dan China?
-
Darah Tumpah di Perbatasan, Narendra Modi Kasih Sinyal Keras ke Beijing
-
Kabar Baik, Uji Coba Vaksin Corona di China Tunjukan Hasil Menjanjikan
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Momen Kajari Karo Akui Salah di Depan Komisi III DPR Soal Kasus Amsal Sitepu: Siap Salah Pimpinan
-
Jadwal Pemulangan Jenazah Prajurit Indonesia Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Jumat Agung 2026 di Katedral Jakarta: Ini Jadwal Ibadah dan Lokasi Parkir Jemaat
-
Dampak Kasus Amsal Sitepu: Pekerja Kreatif Khawatir Kerjasama dengan Pemerintah
-
Demi Selat Hormuz, PBB Hari Ini Akan Putuskan Pengerahan Kekuatan Militer untuk Keroyok Iran
-
Prinsip 'No Service No Pay': Badan Gizi Nasional Bakal Cabut Insentif SPPG yang Lalai
-
Hemat BBM, Pejabat Pemkot Mataram Wajib Bersepeda ke Kantor Mulai Pekan Depan
-
Safaruddin Ngamuk di DPR, Soroti Gaji Guru Polri Rp 100 Ribu per Jam: Harusnya Rp 5 Juta per Jam!
-
BMKG Prakirakan Hujan Ringan di Sebagian Besar Ibu Kota Provinsi saat Jumat Agung
-
Dikritik DPR soal Kasus Amsal Sitepu, Kajari Karo Minta Maaf dan Janji Evaluasi