Suara.com - Pandemi virus Corona semakin memberatkan perjuangan jutaan anak miskin di India dalam mengenyam pendidikan. Mereka yang tak memiliki akses belajar daring atau online, kini harus sekolah di kolong jembatan atau flyover.
Menyadur Sky News, Minggu (30/8/2020), ada lebih dari 120 siswa dari segala usia yang kini belajar di sekolah gratis yang dikelola oleh Satyendra Pal Shakya di Delhi.
Sebagai seorang mahasiswa, dia mulai mengajar anak-anak dari komunitasnya di bawah pohon di dataran banjir Sungai Yamuna lima tahun lalu.
Sekolah itu dimulai sebagai pondok jerami dengan beberapa meja dan bangku. Tetapi karena jumlah murid yang sangat banyak, dia terpaksa mengadakan kelas di luar--di bawah flyover atau jembatan layang.
"Saya ingin sekolah saya dibuka kembali dan guru kami mengajar kami seperti sebelumnya," kata Archana, pelajar berusia 15 tahun.
"Saya menghadapi banyak masalah karena saya tidak memiliki telepon dan tidak dapat melakukan kelas online," tambahnya.
Kata-katanya digaungkan oleh banyak orang lainnya, termasuk Rahul yang berusia 14 tahun. Dia duduk di kelas 10, tahun yang penting.
"Saya tidak punya telepon jadi saya tidak bisa mengikuti kelas online. Bahkan bagi mereka yang punya telepon, tidak ada listrik untuk mengisi daya mereka dan jaringan seluler menjadi masalah," jelas Rahul.
Kini, Rahul dan anak-anak lainnya harus berjuang mencari ilmu dengan beratapkan langit dan konstruksi jalan layang yang belum selesai.
Baca Juga: Selain untuk PNS, Pemerintah Siapkan Bantuan Pulsa Internet Buat Pelajar
Duduk di atas permadani, anak-anak ini tidak terganggu oleh suara benturan alat berat saat pekerjaan konstruksi terus berlangsung di atas mereka.
Rajesh, seorang siswa kelas 10 mengaku senang bisa mengikuti sekolah gratis di bawah flyover, meski beberapa waktu lalu, saat ada hujan muson, sebagian dari mereka harus mengarungi air untuk bisa bersekolah.
"Saya telah meningkatkan matematika dan sains saya dengan datang ke sini. Tuan mengajar dan menjelaskan segalanya kepada kami," kata Rajesh.
Di India, sekolah telah ditutup sejak Maret dan semua pengajaran dilakukan secara online. Tetapi bagi jutaan anak miskin di sini, e-learning adalah hak istimewa yang tidak mampu mereka beli.
Satyendra selaku pengajar mengatakan bahwa pandemi virus Corona telah menyebabkan masalah di mana-mana. Kini, proses belajar mengajar sebagai salah satu gerbang menuju masa depan yang lebih baik bagi anak-anak India, ikut terdampak.
"Tiba-tiba Anda tidak bisa mengharapkan orang yang tidak memiliki rumah yang layak untuk tinggal, tidak ada listrik atau air minum dan tidak ada tempat yang layak untuk anak-anak mereka belajar, untuk membeli smartphone, laptop atau tablet," kata Satyendra.
Berita Terkait
-
Nadiem: Siswa Dapat Kuota Internet 35 GB, Mahasiswa 50 GB, Gratis!
-
Rincian Kuota Internet Gratis untuk Guru dan Pelajar dari Kemdikbud
-
Detik-detik Dua Pelajar Naik Motor Dilindas Roda Truk
-
Total Rp 8,9 Triliun, Siswa hingga Mahasiswa Diberi Kuota Internet Gratis
-
Kecelakaan di Serang, Dua Pelajar Tewas Terlindas Truk
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
3 Shio Paling Beruntung Pekan Ini, Ketiban Rezeki dan Kesuksesan Mulai 10 Agustus 2026
-
Teks Dasa Darma dan Tri Satya Pramuka, Lengkap dengan Tips Mudah Menghafalnya
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?