Suara.com - Pantai yang membentang di Kecamatan Kuta, Provinsi Bali terus menerus diancam abrasi. Sejumlah pihak khawatir, pantai-pantai ini akan hilang dalam beberapa dekade mendatang.
Dilansir dari BBC News Indonesia—jaringan Suara.com, dengan mengenakan kaos hitam, celana olahraga, kacamata dan topi di kepala, Made Supatra Karang berjalan perlahan di atas pasir menuju bibir Pantai Kuta.
Sesampainya di pinggir pantai, pria berusia 65 tahun itu memulai ritual sembahyang dengan memegang sesajen atau canang di tangan kiri dan dupa menyala di tangan kanan. Wajahnya lurus ke depan, menatap laut Pantai Kuta.
Berdoa pagi semacam ini rutin dilakukan Made Supatra Karang sebagai ungkapan syukur sekaligus upaya mendapatkan energi sebelum memulai aktivitas.
Pada penghujung ritual, dia meletakkan canangnya di atas pasir, yang kala itu langsung tersapu ombak karena air laut sedang pasang.
Made Supatra Karang sudah sejak kecil akrab dengan kehidupan di Pantai Kuta. Ia sudah tumbuh bersama pantai jauh sebelum ramainya wisatawan domestik maupun turis mancanegara berdatangan ke Kuta.
Satu hal yang paling dirasakannya adalah semakin berkurangnya lahan Pantai Kuta, dibanding masa kecilnya dulu. Menurutnya, abrasi yang terjadi di pantai Kuta cukup fatal.
"Yang kami rasakan di Kuta ini, boleh dikatakan sangat fatal. Dari umur lima tahun saya di sini, saya sudah melihat perubahannya. Di titik sini misalnya," katanya menunjuk pinggir pantai.
"(Dulu) ada bangunan, kebun-kebun, sehari-hari orang lihat di sini ada pohon katang-katang."
Baca Juga: Dua Laboratorium Uji Spesimen Covid-19 di Bali Sudah Beroperasi
"Kita telah kehilangan sekitar 100 meter akibat abrasi di pantai Kuta ini," katanya menaksir dampak abrasi.
Sebera Parah Abrasi di Kuta?
Pernyataan Made Supatra Karang mengenai abrasi bukan intuisinya belaka.
Secara umum, dari total pesisir Bali yang mencapai 633 km, lebih dari sepertiganya, sepanjang 230 km, kini tengah dilanda abrasi, menurut Made Denny Satya Wijaya selaku Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Air dari Balai Wilayah Sungai Bali Penida.
Spesifik di Kecamatan Kuta, yang pesisirnya mencakup antara lain Pantai Tuban, Kedongganan, Kuta, Legian, hingga Seminyak, rekam jejak abrasi tampak jelas.
Data pemerintah menunjukkan bahwa pada 1981-2010, Pantai Legian dan Seminyak mengalami kedalaman abrasi sejauh 5-15 meter.
"Kalau kita bicara kondisi pantai yang ada di Kuta, sebenarnya tahun 1970-an dan 1980-an itu sudah terjadi [abrasi]. Kami juga pernah melakukan studi di tahun 2009, itu kita potret melalui citra satelit. Ternyata di beberapa ruas pantai di Kuta, kemundurannya cukup besar. Rata-sata 5-15 meter kemundurannya," papar Made Denny Satya Wijaya.
Untuk memastikan bahwa pesisir sepanjang Kecamatan Kuta terjadi abrasi, sekelompok wartawan dan pegiat lingkungan yang didukung oleh Indonesian Data Journalism Network dan Internews' Earth Journalism berupaya menganalisis citra satelit dengan menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS).
Seperti diketahui, perbedaan panjang gelombang elektromagnetik yang ditangkap oleh satelit dapat memisahkan obyek darat dengan laut. Garis pertemuan dari kedua obyek tersebut digambarkan sebagai garis pantai.
Melalui data lembaga United States Geological Survey yang dapat diakses publik ini, Sigit Purwono, Hanggar Prasetio, dan Komang Robby Patria bisa memahami tingkat keparahan abrasi pantai di Kecamatan Kuta.
Data menunjukkan tren abrasi pantai di sepanjang Kecamatan Kuta mencapai -0,46, yang artinya, dari 1972 hingga 2020, terjadi pengikisan pantai sebesar 46 cm per tahun.
Di beberapa titik terparah, abrasi bisa mencapai sekitar 55 meter dalam 48 tahun terakhir (1972-2020).
Hasil pantauan melalui satelit Landsat menunjukkan bahwa pada setiap tahun pengamatan, garis pantai Kuta berubah-ubah seperti pada gambar di bawah ini.
Bagaimana Penanganannya?
Menyusutnya garis pantai di Bali, dan secara khusus di Kuta, mendapat perhatian pemerintah provinsi setempat. Lebih dari 100 kilometer garis pantai telah ditangani, kata Made Denny Satya Wijaya selaku Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Air dari Balai Wilayah Sungai Bali Penida.
Salah satu wujudnya, pantai yang berada di belakang Mall Centro, Jalan Kartika Plaza, dipasangi tumpukan batu-batu kapur untuk menahan air laut.
"Abrasinya parah, sudah berlangsung lama. Sampai beberapa waktu lalu masih kita lakukan penanganan," ujarnya.
Dia menambahkan, proyek pengamanan pantai di sepanjang Kuta sudah selesai pada 2009. Namun mereka juga terus melakukan survei setelah ada indikasi terjadinya abrasi di satu wilayah. Setelah diidentifikasi penyebab, solusi konstruksi akan diajukan dan dieksekusi.
Umumnya, selain disebabkan faktor cuaca ekstrem, abrasi di Bali juga disebabkan oleh ulah manusia seperti pembangunan di pesisir yang tak berkelanjutan.
"Lokasi-lokasi tertentu yang memang itu diakibatkan adanya konstruksi oleh pihak swasta yang memang dalam proses perencanaannya, pelaksanaan, tidak dilakukan dengan koordinasi yang baik dan perhitungan yang tepat," kata Made Denny Satya Wijaya.
Menanggapi pernyataan tersebut, pakar tata ruang Rumawan Salain menyoroti pembangunan di pesisir yang tidak dilengkapi dengan upaya perlindungan alam yang memadai.
Dia mendorong pemerintah untuk bergerak cepat, sehingga kerusakan dapat diminimalisir.
"Pantai itu ada dewanya, Baruna. Saat orang meninggal, upacaranya ada urusannya dengan laut. Di satu sisi, pantai juga fungsi publiknya. Dan, bukankah setiap perhelatan [agama] jadi pertunjukan di Bali ini? (Pantai) jangan sampai hilang, segera ditangani, segera didata, ambil prioritas," tutupnya.
Berita Terkait
-
225 Ribu Pelaku UMKM Dapat Fasilitas Perluas Pangsa Pasar di Kanal Digital
-
World Water Forum 2024: Tol Bali Siapkan Jalur Khusus untuk Para Delegasi
-
Bertepatan Hari Raya Nyepi, Warga Muslim Desa Adat Tuban-Badung Bali Sepakat Shalat Tarawih Pertama di Rumah
-
Cegah Laka Lantas Saat Libur Nataru 2022, Forkom Lalu Lintas Provinsi Bali Gelar Kolaborasi
-
Pariwisata Bali Berangsur Pulih, Untuk Memudahkan Wisatawan Digitalisasi Layanan Makin Ditingkatkan
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
Terkini
-
6 Fakta Kasus Yaqut Cholil Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
-
Duplik Laras Disambut Tepuk Tangan, Kuasa Hukum: Tak Ada Mens Rea, Ini Kriminalisasi!
-
Ikut Jadi Tersangka, Ini Peran Vital Gus Alex di Skandal Korupsi Kuota Haji
-
Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Gus Yaqut Janji akan Kooperatif
-
Sebut KPK Agak Lambat, Luluk Nur PKB Tetap Apresiasi Penetapan Tersangka Eks Menag Yaqut
-
Kerugian Korupsi Haji Masih Misteri, BPK Sibuk Berhitung Usai Gus Yaqut dan Gus Alex Tersangka
-
Pasar Kerja Timpang, Belasan Juta Pekerja Dipaksa Terima Upah Murah
-
Modus Jemput Pakai Sepeda Mini, Pedagang Takoyaki di Kalideres Tega Cabuli Bocah di Bawah Umur
-
Jejak Mentereng Gus Alex: Orang Dekat Yaqut, dari PBNU Kini Tersangka Korupsi Haji Rp1 T
-
Jadi Tersangka KPK Kasus Haji, Inilah Daftar Harta Rp13,7 Miliar Milik Yaqut Cholil Qoumas