Suara.com - Eks PM Malaysia Mahathir Mohamad yang baru mundur dari pemerintahan belum lama ini tengah menjadi buah bibir warganet Indonesia.
Pasalnya, beredar klaim yang mengatakan Mahathir Mohamad menyebut anak-anak Indonesia terlalu banyak belajar agama sehingga cenderung tak menguasai ilmu sains.
Perlu diketahui, kendati jabatannya telah berakhir, Mahathir Mohamad diketahui masih menjalin hubungan baik dengan Indonesia.
Selain itu, dia juga diketahui memiliki relasi yang baik dengan Presiden Jokowi.
Sebelumnya, kedua tokoh negara tersebut pernah menjajal mbol bersama dan kompak menghadapi Uni Eropa terkait pelarangan produk sawit.
Terlepas dari hubungan baik antara Presiden Jokowi dan Mahathir Mohammad, baru-baru ini beredar kabar miring di media sosial perihal Eks PM Malaysia tersebut.
Kabar itu memuat tentang komentar yang diduga milik Perdana Menteri ke-4 dan ke-7 Malaysia itu.
Berhubung pernyataannya menyinggung perihal Indonesia, tak diragukan lagi ramai warganet menyorotinya.
Disadur dari Hops.id -- Jaringan Suara.com, Mahathir Mohamad diklaim mengatakan sekolah di Indonesia seakan terlalu banyak belajar agama sehingga tertinggal dalam bidang sains.
Baca Juga: Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Harus Fokus Pada Keberlanjutan
Klaim tersebut beredar di Facebook dengan narasi sebagai berikut:
"...Pelan-pelan anak-anak sekolah negeri di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains. Umurnya habis untuk menghafal ayat-ayat dan doa, belajar soal haram, dosa, bidadari, menghitung pahala, mencari dalil, memikirkan akerat. Setelah kalah bersaing lalu memusuhi pemerintah dan mendirikan negara syariah sebagai solusi semuanya (Mahathir Mohammad)".
Dikutip dari Antara, tidak ditemukan kebenaran perihal pernyataan Mahathir Mohamad tentang pendidikan di Indonesia, terkhususnya soal pelajaran agama sebagaimana diklaim oleh unggahan Facebook tersebut.
Merujuk pemberitaan Tempo.co berjudul "Mahathir Mohamad Akan Kurangi Silabus Agama di Sekolah Malaysia" pada 22 Desember 2018, Mahathir memberikan pernyataan terkait rencana pengurangan silabus pembelajaran agama di Malaysia.
Menurut dia, pembelajaran agama dapat mengurangi kemampuan dalam mata pelajaran lain yang diperlukan untuk mencari pekerjaan.
"Seseorang telah mengubah kurikulum di sekolah dan sekolah negara telah menjadi sekolah agama," demikian pernyataan Mahathir Mohamad.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
Terkini
-
Pilihan Mobil Keluarga Harga Terjangkau Jelang GIIAS 2026
-
Ekspor Mineral Kritis Tersendat, Kementerian ESDM Benahi Aturan Kandungan Logam Tanah Jarang
-
61,1 Persen Publik Tak Yakin Koperasi Merah Putih Akan Berkembang
-
Film Live-Action Look Back Masuk Kompetisi Festival Film Venesia ke-83
-
Review Film The Dink: Transisi Karir Atlet Muda hingga Menjadi Pelatih
-
Kenapa Perry Warjiyo Mundur dari Jabatan Gubernur BI?
-
2 Lokasi Terancam Tsunami Usai Gempa Bumi Besar di Kumamoto Jepang
-
Review See You at Work Tomorrow: Cinta yang Diuji oleh Rahasia Masa Lalu
-
Biar Sadar! Bahaya Tramadol Bakal Masuk Materi Khotbah Jumat di Jakarta Pusat
-
Zulhas Pastikan Koperasi Merah Putih Tak Akan Matikan Warung dan UMKM