Suara.com - Pendidikan harus tetap diberikan kepada anak meski pandemi Covid-19 meredam dering bel sekolah di pagi hari, para guru pun tak kehabisan akal untuk terus mengabdi memastikan satu atau bahkan dua generasi tidak kehilangan pembelajaran.
Avan Fathurrahman, seorang guru Sekolah Dasar di Sumenep, Madura bercerita selama sembilan bulan pandemi, dirinya tak pernah mengajar jarak jauh, bukan karena tak takut tertular corona, melainkan karena infrastruktur digital belum memadai untuk belajar online.
"Mau tidak mau saya harus keliling untuk menemani siswa saya satu persatu belajar di rumah masing-masing," ujar Avan.
Dia mengatakan sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama pada Maret 2020, sekolah di Sumenep langsung ditutup dan dirinya selalu membawa papan tulis mini setiap harinya, keliling ke rumah siswa untuk membantu belajar di rumah.
Beberapa pekan kemudian, anak didiknya mulai merasa bosan belajar di rumah karena minim interaksi belajar bersama dengan teman sebayanya.
Avan langsung menyiasatinya dengan mengubah metode pengajaran dengan menggunakan boneka puppet, sehingga anak usia SD tertarik menyimak materi ajar yang disampaikan oleh boneka tersebut.
"Terus mereka tidak lagi bosan, bahkan kalau saya tidak bawa boneka, saya bawa buku seperti biasa itu malah ditanya bonekanya kemana, kadang saya juga bawa mainan lainnya, pakai ular tangga raksasa, saya bermain dengan anak sehingga seolah anak itu bermain sambil belajar," jelasnya.
Semua media pengajaran ini, kata Avan berasal dari kantongnya pribadi, tidak peduli di masa pandemi yang berpengaruh terhadap ekonomi keluarganya, dia tetap memilih berkorban demi anak didiknya.
Lain cerita dengan Wilfridus Kado, guru di Ende, Nusa Tenggara Timur yang sudah mencoba berbagai metode pembelajaran jarak jauh, baik melalui teleconference maupun media sosial.
Baca Juga: Seniman Wayang Uwuh: Berkarya dan Peduli Lingkungan di Tengah Pandemi
Namun dia justru menemui anak-anak tidak belajar saat berada di rumah, ada yang membantu orang tua bekerja hingga bermain saat PJJ masih berlangsung.
Oleh sebab itu, sekolah langsung memutuskan untuk menggelar adaptasi kebiasaan baru pembelajaran tatap muka di sekolah namun terbatas.
"Jadi anak ke sekolah dua hari, yang kelas 10 hari senin kamis, kelas 11 selasa jumat, kelas 12 rabu sabtu, pembelajaran sampai sore," ucap Wilfridus.
Menurut guru honorer ini, sistem pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan ini lebih efektif ketimbang PJJ, sebab siswa bisa belajar dengan fokus dan perkembangan berada dalam pengawasan sekolah.
Oleh sebab itu, baik Avan dan Wilfridus menyambut baik rencana pemerintah untuk membuka kembali sekolah per Januari 2021 dengan protokol kesehatan yang ketat.
"Ini jadi hal yang kami tunggu-tunggu di daerah terutama untuk siswa karena memang selama ini yang paling merindukan suasana sekolah itu ya siswa dan guru, tapi keputusan itu harus dilakukan dengan ketat," kata Avan.
Berita Terkait
-
Seniman Wayang Uwuh: Berkarya dan Peduli Lingkungan di Tengah Pandemi
-
Inovasi di Tengah Pandemi Bisa Kurangi Ketergantungan Alat Kesehatan Impor
-
Gawat! Perkawinan Anak Melejit Karena Pandemi Covid-19
-
Pemerintah: Perlawanan Terhadap Covid-19 Masih Terus Berlanjut hingga 2021
-
Pertanyaan Anak SD Ini Malah Bikin Sri Mulyani Bahas soal Utang Negara
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Pimpinan MPR Panggil-Tegur Juri LCC Kalbar, Sanksi Sesuai Aturan BKN Menanti?
-
Kisruh LCC Kalbar Berlanjut ke Meja Hijau, Pimpinan MPR Bilang Begini
-
The Beast Muncul di Beijing, Kedatangan Trump Malam Ini Bikin China Tegang
-
'Biar Andrie Kapok!': Pengakuan Kapten Nandala soal Jiwa Korsa di Balik Penyiraman Air Keras
-
Resmi! Ketua MPR Putuskan LCC Kalbar akan Ditanding Ulang
-
Prabowo Siapkan Rp10 T Hasil Denda Satgas PKH Buat Renovasi Puskesmas Terbengkalai Sejak Pak Harto
-
KTT AS-China: Xi Jinping Bakal 'Kulit' Trump Begitu Injak Kaki di Beijing
-
Tinjau Sekolah Rakyat, Ketum Karang Taruna Budisatrio Djiwandono Motivasi Siswa
-
Greenpeace Sebut Aturan Pilah Sampah DKI Dinilai Belum Cukup, Mengapa?
-
Bolivia Lumpuh Akibat Mogok Nasional, Buruh dan Petani Tuntut Presiden Rodrigo Paz Mundur