Suara.com - Penulis buku 'The Coming Collapse of China', Gordon Chang menyebut RRC telah mengumpulkan DNA dari seluruh dunia selama bertahun-tahun untuk mengembangkan senjata biologis.
Menyadur Fox News (09/12), Chang menyebut senjata biologis ini lebih mematikan dari virus corona dan menyasar etnis tertentu.
"Virus Corona bukan patogen terakhir yang dihasilkan China. Kita harus waspada bahwa penyakit berikutnya lebih mudah menular dan lebih mematikan daripada virus corona baru," ungkap Chang.
Chang juga menyebut China curang dalam berdagang dengan Amerika dan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan DNA dari negara tersebut.
"China membeli perusahaan Amerika yang memiliki profil DNA, mensubsidi analisis DNA untuk perusahaan leluhur, dan meretas," kata Chang.
Ia menyebut China pernah meretas perusahaan asuransi terbesar kedua di AS, Anthem pada 2015 dan kini mereka menggunakan virus corona untuk memperluas basis DNA miliknya.
"Kami akan memberikan vaksin ini kepada Anda, tetapi kami harus menyelesaikan uji coba dan kami akan menggunakan populasi Anda sebagai pengujian."
"Jika Anda tidak berpartisipasi dalam uji coba ini, Anda tidak mendapatkan vaksin China," ujar Chang menirukan langkah China.
China saat ini memiliki lima kandidat vaksin Covid-19 yang sudah mencapai uji klinis fase 3 yang diluncurkan secaraluas termasuk di Brasil, Turki, Maroko dan UEA.
Baca Juga: Konspirasi Vaksin Covid-19, dari Mengandung Microchip hingga Mengubah DNA
Selain senjata biologis, Chang memprediksi satu hal lain yang memotivasi China dalam melakukan hal ini yaitu mendominasi industri bioteknologi.
"Mereka memiliki inisiatif 'Made in China 2025' yang merupakan program selama satu dekade untuk mendominasi industri tertentu."
China membantah tuduhan bahwa pandemi virus corona, yang diyakini beberapa orang muncul dari laboratorium pemerintah di Wuhan, adalah senjata biologis.
Pada tahun 1984 China menandatangani perjanjian Konvensi Senjata Biologi dan Racun (BWC) yang melarang mereka mengembangkan, memproduksi atau menimbun senjata biologi atau racun.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Begini Cara Satgas PRR Manfaatkan Kayu Hanyutan di Wilayah Terdampak Bencana
-
Respons Gempa Sulut: Mensos Pastikan Beri Santunan Ahli Waris dan Kirim Bantuan Sesuai Kebutuhan
-
Gegana Turun Tangan! Gereja di Jakarta hingga Bekasi Disisir dan Dijaga Ketat Jelang Ibadah Paskah
-
Kesimpulan DPR Kasus Amsal Sitepu: Desak Eksaminasi dan Evaluasi Kejari Karo
-
Tegas! 1.256 SPPG di Timur Indonesia Disetop Sementara BGN Akibat Abaikan SLHS dan Tak Punya IPAL
-
KPK Akan Maraton Periksa Agen Perjalanan Haji dan Umrah Pekan Depan
-
Iran Pastikan Selat Hormuz Terbuka untuk Dunia, Tapi....
-
Kasus Kuota Haji, KPK Perpanjang Masa Penahanan Gus Alex Hingga 40 Hari ke Depan
-
2 Siswa SMP Terkena Peluru Nyasar, Marinir Ungkap Alasan Tolak Tuntutan Rp3,3 Miliar
-
Gerak Cepat TNI Pasca-Gempa Sulut: Ratusan Prajurit Evakuasi Korban hingga Sisir Dampak Tsunami