Suara.com - Sebuah tim yang terdiri dari 10 ilmuwan internasional akan mendatangi Kota Wuhan di China bulan depan, untuk menginvestigasi asal mula pandemi Covid-19, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Beijing selama ini enggan menyetujui penyelidikan independen dan butuh waktu berbulan-bulan untuk bernegosiasi agar WHO diizinkan mengakses kota itu.
Virus corona diperkirakan berasal dari sebuah pasar hewan di Wuhan.
- Sempat jadi pusat pandemi, Wuhan sekarang jadi tujuan turis
- Kajian virus corona muncul di Wuhan sejak akhir Agustus, China sebut hasil itu 'sebagai hal yang konyol'
- Virus corona di Wuhan: Dari jalan yang sunyi hingga kolam renang yang padat
Namun, pencarian asal muasal virus ini telah memicu ketegangan, terutama antara China dengan Amerika Serikat (AS).
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menuding China mencoba menyembunyikan asal muasal wabah Covid-19.
Apa tujuan dari investigasi ini?
Seorang pakar biologi yang tergabung dalam tim yang akan mendatangi Wuhan berkata pada kantor berita Associated Press, bahwa WHO tidak mencari-cari kesalahan, namun berupaya untuk mencegah wabah di masa mendatang.
"Ini benar-benar bukan tentang menemukan negara yang bersalah," ujar Fabian Leendertz dari Institut Robert Koch di Jerman.
"[Penyelidikan] ini berusaha untuk memahami apa yang terjadi dan melihat, berdasar data yang didapat, apa yang bisa kita coba lakukan untuk mengurangi risiko di masa depan."
Dr Leendertz berkata bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu kapan virus corona mulai menyebar dan apakah virus itu memang benar-benar berasal dari Wuhan.
Baca Juga: Kehidupan Setelah Pandemi di Wuhan: Sudah bisa keluar dan Senang-senang.
Misi penyelidikan ini diharapkan akan selesai dalam empat hingga lima minggu, kata Leendertz.
Di mana dan kapan virus itu pertama kali terdeteksi?
Pada hari-hari awal pandemi, virus itu dilacak ke "pasar basah" di Wuhan, Provinsi Hubei, dan diduga di sinilah virus itu ditularkan dari hewan ke manusia.
Namun para pakar kini meyakini bahwa virus itu kemungkinan semakin berkembang di sana.
Penelitian menunjukkan bahwa virus corona yang mampu menginfeksi manusia mungkin telah beredar tanpa terdeteksi pada kelelawar selama beberapa dekade.
Desember lalu, Li Wen Liang, seorang dokter di rumah sakit pusat Wuhan, mencoba memperingatkan koleganya tentang kemungkinan wabah virus baru, namun dia diperintahkan polisi untuk "berhenti memberikan pernyataan keliru". Dia bahkan diselidiki karena "menyebarkan rumor".
Dr Li meninggal dunia pada Februari setelah terpapar virus ketika merawat pasien di kota itu.
Pada April, kecurigaan dan tudingan muncul bahwa virus itu mungkin berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan.
Surat kawat Departemen Luar Negeri AS menunjukkan bahwa pejabat kedutaan khawatir tentang keamanan hayati di sana.
Direktur badan intelijen nasional AS kala itu mengatakan bahwa walau virus bukan buatan manusia atau hasil rekayasa genetika, para pejabat sedang menyelidiki apakah wabah itu dimulai melalui kontak dengan hewan atau melalui kecelakaan di laboratorium.
Laporan terbaru di media China menunjukkan bahwa Covid-19 mungkin dimulai di luar China.
Namun para analis mengatakan bahwa laporan ini tak berdasar, dan kampanye tersebut mencerminkan kecemasan para pemimpin di Beijing tentang rusaknya reputasi internasional negara itu akibat pandemi.
Apakah akses ke Wuhan akan memberikan jawaban?
Analisis oleh Naomi Grimley, koresponden kesehatan BBC
Penyelidikan independen mengenai asal-usul virus corona telah menjadi bagian dalam geopolitik internasional dan pertikaian dengan WHO.
Pemerintahan Trump selalu mengambil garis keras, dengan alasan bahwa WHO terlalu lunak terhadap China dan mengutip contoh pejabat yang memuji rezim China atas tindakannya seperti melakukan karantina wilayah atau lockdown di Wuhan, pengujian massal, dan publikasi kode genetik virus.
Bagaimanapun, banyak negara lainnya mengatakan bahwa diperlukan penyelidikan terkait asal muasal virus - termasuk Australia dan Inggris.
Associated Press mengungkap transkripsi percakapan video dari pejabat WHO pada Januari lalu. Para pejabat tersebut mengeluh tak mendapatkan data valid yang mereka perlukan dari pihak berwenang di China.
Tim WHO yang terdiri dari dua orang telah mendatangi China musim panas ini dan kesulitan mendapatkan akses ke Wuhan.
Penyelidikan kali ini, jika itu memang benar terjadi, mungkin akan berkonsentrasi pada pertanyaan biologi mendasar: apakah virus itu berasal dari kelelawar? Apakah ada "inang perantara" yang menghubungkan kelelawar dengan manusia? Dan apakah pasar hewan Wuhan menjadi pusat wabah itu bermula?
Bagaimana respons terkait laporan China atas virus itu?
Penanganan China terhadap krisis yang sedang berkembang dipuji pada Januari oleh Kepala Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr Mike Ryan, yang mengatakan "tantangannya besar tetapi responsnya sangat luar biasa".
Beijing telah membantu memperlambat penyebaran virus, kata WHO, dengan secara sukarela membagikan pengetahuannya tentang kode genetik virus.
Namun, AS - di antara sejumlah negara lain - mengajukan pertanyaan tentang apakah China sepenuhnya transparan ketika virus pertama kali muncul di sana.
Pada Maret, kepala WHO di China, Dr Gauden Galea, berkata kepada BBC bahwa ada "kekurangan" dalam menanggulangi wabah di masa-masa awal, namun para ahli akan melihat bagaimana masalah bisa dihindari di masa depan.
Trump kemudian menyerang WHO yang dianggapnya terlalu "China-sentris" karena memuji Beijing, dan mengatakan bahwa organisasi itu "benar-benar gagal" dengan panduan awalnya selama wabah.
Ia mengumumkan bahwa AS menarik diri dari WHO dan mencabut pendanaan untuk organisasi itu.
Akan tetapi, presiden terpilih Joe Biden, yang akan mulai menjabat pada 20 Januari 2020, telah membentuk tim kebijakan luar negeri yang ditugaskan untuk mengembalikan posisi AS di WHO.
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Kata-kata Benjamin Netanyahu Aktivis Global Sumud Flotilla Diperlakukan Tak Manusiawi
-
Jaksa Ungkap Ada Kode Amplop 1 untuk Dirjen Bea Cukai Djaka Budi dalam Kasus Blueray
-
Menlu Sugiono Pastikan Pemerintah Terus Upayakan Pemulangan 9 WNI dari Israel
-
Menteri PPPA Respons Dugaan Kadis P3A Sarankan Korban Kekerasan Seksual Nikahi Pelaku
-
Terekam CCTV Keluar Hotel Sendirian, Jemaah Haji Indonesia Hilang Misterius di Makkah
-
Kejagung Mulai Lelang Aset Harvey Moeis, Kapuspenkum: Kami Transparan
-
Sekolah Rakyat Hadir di Daerah 3T, Anggota DPR RI: Sangat Dirasakan Manfaatnya
-
"Jangan Melawan, Video Saja", Pesan Tegas Prabowo ke Rakyat Hadapi Aparat Tak Beres
-
Warga Daerah Cuma Dapat Makan, KPK Sebut Duit Program MBG Balik Lagi ke Kota Besar
-
Terbukti Palsu, 14 Jam Tangan Mewah Jimmy Sutopo Ternyata Cuma Barang KW