-
Netanyahu segera mendeportasi aktivis Global Sumud Flotilla demi meredam kemarahan diplomatik global.
-
Perlakuan tidak manusiawi Menteri Itamar Ben Gvir dinilai melanggar nilai dan norma Israel.
-
Negara sekutu seperti Italia, Prancis, Belanda, dan Kanada mengecam keras penculikan di perairan internasional.
Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengambil langkah darurat mendeportasi aktivis kemanusiaan asing demi meredam isolasi diplomatik global. Langkah ini diambil setelah aksi menteri radikalnya memamerkan tindakan tak manusiawi tahanan memicu kecaman keras dari negara-negara sekutu.
Kebijakan deportasi kilat ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi internal kabinet sayap kanan Israel yang mulai pecah suara. Konflik terbuka kini tak terhindarkan setelah cara-cara kekerasan yang dipamerkan ke publik justru merugikan posisi geopolitik negara tersebut.
Tekanan internasional yang masif memaksa Netanyahu mengorbankan ego politik domestiknya demi menyelamatkan muka Israel di panggung dunia. Sikap tegas akhirnya diambil untuk menghentikan kegaduhan yang dipicu oleh bawahannya sendiri.
Netanyahu mengkritik langkah yang dilakukan Ben Gvir terhadap para aktivis. Dia menyebut hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel.
"Cara Menteri Ben Gvir menangani aktivis Flotilla tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan dikutip dari Al Jazeera.
"Saya telah menginstruksikan pihak berwenang terkait untuk mendeportasi para provokator sesegera mungkin," kata Netanyahu.
Keputusan evakuasi paksa ini diambil setelah rekaman video interogasi tak manusiawi sengaja disebarluaskan oleh pejabat tinggi mereka sendiri. Keangkuhan politik di media sosial tersebut kini berubah menjadi blunder diplomatik yang fatal.
Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir sebelumnya dengan sengaja mengunggah video yang memperlihatkan kepongahannya memperlakukan para tahanan kemanusiaan. Tayangan visual tersebut langsung memicu gelombang kemarahan publik internasional karena melanggar konvensi kemanusiaan.
Dalam rekaman video itu, para relawan dipaksa tunduk dalam posisi yang sangat merendahkan martabat manusia. Tangan mereka terikat kuat ke belakang dengan posisi dahi yang dipaksa menempel di lantai.
Baca Juga: Menlu Sugiono: Penangkapan 9 WNI Misi Gaza oleh Israel Adalah Pelanggaran Kemanusiaan
Ironisnya, tindakan intimidasi terhadap para aktivis kemanusiaan asing tersebut diiringi oleh pemutaran lagu kebangsaan Israel secara demonstratif. Ben Gvir bahkan menyertakan takarir provokatif berbunyi 'Selamat datang di Israel' pada unggahan media sosial miliknya.
Beberapa relawan yang tertangkap bahkan terlihat masih menggenggam paspor negara asal mereka saat interogasi brutal berlangsung. Tindakan sewenang-wenang ini langsung memicu respons keras dari negara-negara barat yang warganya ikut menjadi korban penahanan.
Gelombang protes langsung meledak di berbagai belahan dunia segera setelah video penyiksaan tersebut viral di jagat maya. Boikot diplomatik mulai membayangi Israel setelah negara-negara sekutu strategis menuntut penjelasan resmi atas insiden tersebut.
Sejumlah negara maju seperti Italia, Prancis, Belanda, hingga Kanada langsung mengambil tindakan diplomatik yang sangat tegas. Mereka memanggil pulang serta memeriksa para duta besar Israel yang bertugas di ibu kota masing-masing negara.
Sikap kolektif negara-negara tersebut merupakan bentuk kemarahan atas operasi penangkapan sepihak yang dinilai melanggar hukum teritorial. Pemerintah asing mengecam keras penculikan armada bantuan kemanusiaan Gaza yang terjadi di wilayah perairan internasional tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Spesifikasi Pesawat Sukhoi Su-35 Milik Iran yang Disiapkan Oleh Rusia
-
Gunung Anak Krakatau Siaga, Badan Geologi: Isu Tsunami Hoaks, Warga Banten-Lampung Harap Tenang
-
LPDP Tambah 14 Kampus Top Dunia Khusus STEM, Ada NUS Hingga UCLA!
-
Jangan Tertipu! Video Erupsi Anak Krakatau Itu Hoaks, Ini Radius Bahaya yang Sebenarnya
-
Teror Drone Granat Sasar Pengacara di Tangsel, Pelaku Beri Pesan: Ini Baru Permulaan!
-
'Emang Kenapa Kalo Gue Tampol?' Identitas Pria Arogan di Jagakarsa Terkuak, Polisi Buru Pelaku
-
Sengketa Lahan Berujung Teror! Rumah Advokat Sulardi Dilempar Molotov, Pelaku Terekam CCTV
-
Menteri PPPA Sentil Lagu Om Zein: Pengalaman Biologis Perempuan Bukan Bahan Candaan!
-
Gara-gara Berkas Tak Lengkap! Kasus Heli Anggota DKPP Tio Aliansyah Resmi Dinyatakan Gugur
-
Penuhi Titah Prabowo, Pramono Siapkan Lahan 8 Hektare Bangun Sekolah Rakyat Permanen di Jakarta