Pada 2010, Marko memulai kariernya di Boeing sebagai industrial engineer. Di perusahaan dirgantara ini, ia pernah mengerjakan proyek pesawat komersial tipe 787 dan 777 di Italia dan Seattle, sebelum akhirnya menggarap roket untuk NASA di New Orleans. Roket Space Launch System rencananya akan diluncurkan secara perdana tanpa awak ke antariksa pada November mendatang.
Pesawat Komersial Baru
Diperkirakan ada puluhan pegawai asal Indonesia yang bekerja di berbagai fasilitas Boeing yang tersebar di seluruh AS. Salah seorang pegawai lainnya adalah Avelino Ernestanto (26 tahun), yang bekerja sebagai network system engineer di Seattle, negara bagian Washington.
Pria kelahiran Jakarta ini sedang mengerjakan pesawat jenis baru 777-9, jet bermesin ganda terbesar di dunia yang disebut-sebut akan lebih hemat energi dan mengeluarkan lebih sedikit emisi. Sebagai pakar elektro, salah satu tugas Avelino adalah memproses berbagai piranti lunak dari para pemasok untuk diaplikasikan di pesawat.
“Kita integrasikan (piranti lunaknya), terus kita pasang di pesawatnya, terus kita tes, setelah itu kita laporkan lagi ke supplier, ‘oh ini salah atau kurang ini, gitu.’ Dan kita ulangi prosesnya, sampai ada produk akhirnya,” katanya kepada VOA.
Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah menyaksikan penerbangan perdana pesawat 777-9 pada Januari 2020.
“Kita semua berdiri di rumput, dekat runway, nonton. Terus semuanya ‘hore,’ everybody cheered (bertepuk tangan),” tuturnya.
Itu mungkin kali terakhir Avelino bisa berkumpul dalam jumlah besar bersama para kolega sebelum diberlakukannya pembatasan sosial akibat pandemi virus corona. Kini sebagian besar pekerjaannya dilakukan dari rumah.
“Agak sulit bagi saya karena saya orangnya senang bertemu dengan orang-orang di kantor,” ujarnya.
Baca Juga: Ford Adu Mobil Elektriknya Melawan Roket, Sebabnya Bikin Penasaran
Meski ada tantangan, lulusan Teknik Elektro dari Universitas Maryland ini mengaku mencintai profesi ini karena bisa membantu masyarakat.
“Saya ingatkan diri sendiri, ‘apa tujuan akhirnya? Oh, ini pesawat bisa membawa barang ke negara lain, mempertemukan keluarga, membantu orang mengeksplorasi dunia.’ Saya senang jadinya,” kata pria yang mengantongi gelar Master Sains dari Universitas Washington ini.
Pengalaman Berharga
Avelino, yang dibawa orang tuanya pindah ke AS pada usia tiga tahun ini, mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi insiyur ataupun menyukai dunia aviasi. Sewaktu masih SMA di Colonel Zadok Magruder High School di Derwood, Maryland, dia sebenarnya lebih menunjukkan minat pada bidang desain grafis. Namun, itu semua berubah ketika magang di perusahaan manufaktur tempat ayahnya bekerja.
“Wow, kayak a whole new world (seperti dunia baru.red)! Magang pengalaman sangat membuka pikiran. Karena sebelumnya saya nggak terbuka pikirannya. Saya siap apply desain grafis. Ayah saya bilang, ‘jangan takut untuk mengeksplorasi bidang lain,’” kata Avelino yang memiliki seorang putra berusia 10 bulan ini.
Selama tiga bulan di musim panas, Avelino remaja menceburkan diri dalam dunia kerja. Tugasnya mulai dari menyolder papan sirkuit, mengepak dan mengirim barang, mengelola barang-barang milik perusahaan, hingga membeli kopi.
Pengalaman itu membuatnya mantap memilih jurusan teknik elektro di Universitas Maryland.
Avelino mengaku tak pernah mengalami kesulitan mencari pekerjaan karena kampusnya aktif membantu mencarikan peluang bagi para mahasiswanya. Perkenalannya dengan perusahaan Boeing berawal dari career fair atau pameran lowongan kerja di kampusnya.
“Meja Boeing panjang banget (antreannya). Saya penasaran kenapa panjang sekali antreannya? Kenapa banyak mau apply? Jadi saya ikut baris. Waktu saya di career fair habis untuk menunggu giliran. Akhirnya saya ngobrol dengan mereka, dan saya jadi tertarik untuk melamar,” kenangnya.
Selepas lulus, laki-laki yang hobi badminton ini pindah ke Seattle untuk bekerja. Selama empat tahun lebih di Boeing, Avelino pernah terlibat dalam proyek pesawat komersial tipe 767, 747, dan 737 sebelum ditempatkan di 797-9. Pada usia 26 tahun, ia sudah dipercaya untuk memimpin sebuah tim.
Berita Terkait
-
Pakai 3.000 Dinamit, Gedung Kasino Bekas Milik Donald Trump Dirobohkan
-
Diduga Terlibat Pencurian Siber Rp 18 Triliun, AS Tuntut 3 Pria Korea Utara
-
Terkuak! Edhy Prabowo dan Istri Beli Barang Mewah Pakai Kartu Kredit di AS
-
Planet Mars Kini Dikelilingi Banyak Pesawat Alien
-
Besok! Penjelajah Baru NASA Siap Mendarat di Mars, Ini Cara Melihatnya
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Iran Tolak Buka Selat Hormuz Meski Diancam AS, Harga Minyak Naik Tipis
-
CORE Nilai Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen dalam Asumsi APBN Terlalu Optimistis
-
Traveling Makin Praktis, Sewa Mobil Kini Bisa Dipesan Lewat Aplikasi
-
Gempa Bumi Flores, BRI Prioritaskan Keselamatan Nasabah dan Pekerja: BRI Peduli Salurkan Bantuan
-
Apakah Anak-Anak Perlu Sunscreen? Ini Jawaban dan Panduan Memilihnya
-
Di Tengah Gempa Bumi Flores, BRI Jaga Layanan Perbankan dan Pastikan Bantuan BRI Peduli Hadir
-
Bareskrim Ungkap Modus Pengolahan Emas Ilegal di Apartemen Sunter
-
BRI Pastikan Bantuan BRI Peduli Hadir Cepat Untuk Korban Gempa Bumi Flores
-
Loki Season 1: Petualangan Multiverse yang Mengubah Karakter Sang Dewa Penipu
-
5 Perbedaan Serum Retinol vs Bakuchiol, Mana yang Aman untuk Kulit Sensitif?