News / Nasional
Minggu, 04 April 2021 | 15:05 WIB
Penampakan senjata diduga airgun milik wanita terduga teroris yang menyerang Mabes Polri. (istimewa)

Suara.com - Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Laksamana Muda (Purn) Soleman Ponto menyebut perkembangan kelompok teroris di Indonesia terjadi karena pengawasan terhadap peredaran senjata tajam, senjata api, dan bahan kimia tidak serius dilakukan pemerintah.

Soleman menyebut selama ini banyak orang yang membeli bahan peledak atau senjata yang lolos pengawasan aparat sehingga kelompok teroris semakin berkembang.

"Mari kita awasi peredaran senjata, mesiu, alat-alat yang dapat dimanfaatkan untuk membuat bom, sekarang kan kita tidak pernah mengawasi bahan kimia itu siapa saja yang beli dalam jumlah besar," kata Soleman dalam diskusi crosscheck, Minggu (4/4/2021).

Dia menilai teroris yang sudah terpapar paham radikal tidaklah berbahaya, sebab pemikiran bisa dilawan dengan pemikiran lain untuk mencari persamaan yang bisa membangun.

"Sepanjang tidak ada bom atau senjata itu tak masalah, kita hadapi saja logika berpikir dengan logika berpikir, beda pendapat itu kan kawan berpikir, yang ditakuti itu kan kepemilikan bahan peledak," jelasnya.

Soleman mencontohkan sebelum bom bali 2002 terjadi, ada orang bukan petani yang membeli bahan kimia dari toko pupuk dengan jumlah yang abnormal, hal seperti ini patut dicurigai.

"Namun ini membutuhkan awareness seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya intelijen, tidak hanya TNI-Polri, penjual pun bertanya ada apa ini, kalau hanya untuk dipakai sehari-hari jumlahnya 10 kok ini jadi 100, ada apa ini," tutupnya.

Load More