"Jadi (yang) hancur itu bukan hanya sekolah saja, tapi kita punya anak-anak perempuan juga sudah hancur, kita sudah hancur, rumah sudah hancur semua. Jadi sudah hancur dan (TPNPB) sudah pergi. Jadi sekarang sudah aman, Bapak-bapak (Aparat Kemanan) sudah datang, sudah aman," kata Pdt Jopinus Uamang dalam video viral.
"Jadi kita panggil kembali keluarga yang sudah hilang (menghilang) di hutan-hutan, guru-guru. Nanti dari pemerintah juga mereka akan datang melihat kondisi yang terjadi di Beoga," sambungnya.
Walaupun dalam video itu Pdt Jopinus Uamang tak menyebut soal pemerkosaan, media massa memberitakan siaran pers Satgas Nemangkawi Polri menyebut dugaan pemerkosaan itu didasarkan kesaksian dari Pdt Jopinus Uamang (dalam pemberitaan tentang dugaan pemerkosaan itu dituliskan sebagai “Pendeta Jopinus Wama”) dalam video yang viral itu.
Uamang mengakui terus ia memikirkan pernyataannya yang viral itu.
“Setelah saya pulang ke rumah, saya berpikir lagi bahwa pernyataan tersebut salah. Karena bisa berdampak buruk. Jadi maaf. Itu salah. Tidak ada pemerkosaan di beoga. Ketika itu sewaktu itu saya grogi bicara, karena banyak aparat tentara dan Brimob, sehingga saya minta maaf atas pernyataan saya tentang ada pemerkosaan yang dilakukan oleh TPNPB terhadap warga. Itu tidak benar,” katanya.
Sementara Juru bicara TPNPB Sebby Sambom menegaskan, tudingan pasukan TPNPB melakukan pemerkosaan massal di Beoga tidak benar.
"Itu hanya propaganda aparat militer Indonesia," kata Sebby Sambom.
Dia menegaskan, kebanyakan anggota TPNPB adalah orang asli Papua yang berasal dari kawasan pegunungan tengah Papua.
Ia menyatakan, adat dan tradisi orang asli Papua dari wilayah pegunungan tengah melarang setiap laki-laki yang sedang berperang untuk melakukan hubungan seksual selama masa perang.
Baca Juga: Rizal Ramli: Andai Jadi Presiden, Saya Hapus Omnibus Law, Habib Cs Dilepas
“Kami orang Papua asli dari pegunungan tengah yang berbusana koteka tahu hukum perang. Saat perang, [kami] tidak boleh tidur dengan perempuan, [bahkan] sekalipun [dengan] istri [sendiri] tidak boleh. Hukum perang [dalam tradisi] kami ini masih berlaku sampai hari ini,” kata Sambom.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Raih KWP Awards, Legislator NasDem Arif Rahman: Anggota DPR Harus Selalu Turun ke Rakyat
-
Megawati Beri Hard Warning ke Kader PDIP: Jangan Korupsi,Turun ke Bawah!
-
Petugas PPSU di Pejaten Barat Tewas Ditabrak Mobil Saat Sedang Menyapu
-
Aksi Kamisan ke-904, Sumarsih: Perjuangan Ini Lahir dari Cinta
-
Bukan Sekadar Pajangan, Andre Rosiade Dedikasikan Penghargaan KWP Awards 2026 untuk Rakyat Sumbar
-
Misteri Kerangka Manusia Nyangkut di Sampah Citarum, Ciri Kawat Jadi Kunci
-
Sapu Jalan Berujung Maut: Petugas PPSU Tewas Ditabrak Mobil Oleng di Pejaten
-
Petani Tembakau Madura Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Rokok Ilegal
-
DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH
-
Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah