News / Metropolitan
Rabu, 07 Juli 2021 | 15:40 WIB
Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia, Ade Armando (Dok SMRC)

Suara.com - Aksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang memarahi HRD perusahaan non esensial karena membuka kantor selama PPKM Darurat telah menjadi sorotan. Terbaru, salah satu perusahaan tersebut, PT Equity Life Indonesia mengeluarkan klarifikasi jika perusahaannya masuk dalam sektor esensial.

Hal itu tentunya memicu perdebatan mengenai kemarahan Anies. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Ade Armando pun menyindir Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu karena dinilai memarahi perusahaan sektor esensial.

Melalui akun Twitternya, Ade mengaku takut dosa jika menertawakan sikap Anies Baswedan. Ia bahkan menyentil Anies sebagai "gubernur magang".

"Takut dosa ah ngetawain kebodohan gubernur magang," sindir Ade di Twitter seperti dikutip oleh Suara.com, Rabu (7/7/2021).

Dalam cuitannya ini, Ade turut membagikan tangkapan layar sebuah cuitan sebuah akun warganet. Akun ini menjelaskan jika PT Equity Life merupakan perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan yang masuk dalam sektor usaha esensial.

Ade Armando Sentil Anies Baswedan. (Twitter/@adearmando1)

"Tadi siang Pak @aniesbaswedan sidak dan marah-marah di PT Equity Life. Ternyata PT Equity Life adalah perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan, yang termasuk sektor usaha esensial," jelas akun itu.

"Menurut peraturan (perusahaan sektor esensial) dibolehkan untuk tetap beroperasi. Duh pak, bisa kerja gak sih, jadi salah yakan," lanjutnya.

Sentilan Ade ke Anies sendiri telah di-retweet hingga 300 kali dan mendapatkan lebih dari 1.300 tanda like. Warganet juga ramai mengomentari cuitan itu dengan berbagai pandangan.

Sebagian warganet membela sikap Anies memarahi perusahaan, apalagi salah satu pekerja sedang hamil tapi tetap masuk kantor. Sedangkan yang lainnya nampak mendukung pernyataan Ade.

Baca Juga: Kapolda: Penambahan Titik Penyekatan Kurangi Volume Kendaraan di Jakarta

"Hadewww. Ketawain aja diri sendiri bung, tuh ada ibu hamil tetap dipekerjakan, jumlah yang kerja juga melampaui. Ah, sudahlah," kritik warganet.

"Ternyata pendukung pelanggar PPKM banyak disini. Pantes Covid gak kelar-kelar," tambah yang lain.

"Kalau saya sih gak mikirin dosa apalagi soal surga neraka, mas bro. Selagi masih hidup sebagai manusia biasa maka tertawalah selama tertawa itu sehat (lahir dan batin) dan tak dilarang serta tak bayar pajak ini," komen warganet.

"Kalau saya yang jadi kepala disitu udah saya balikin, Bapak jangan marah-marahin saya dulu. Bapak tahu aturannya atau tidak," tambah lainnya.

"Boleh beroperasi dengan kapasitas 50 persen, tapi kalau ruangan yang kerja full 100 persen ya pelanggaran!," tegur warganet.

"Kalau aku warga DKI pasti malu banget. Untungnya aku warga luar DKI," sindir warganet.

Load More