Suara.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan jumlah anak putus sekolah meningkat pada masa pandemi Covid-19. Pada 6 Maret lalu, dilaporkan sejak Januari 2021 terdapat 34 siswa putus sekolah karena menunggak biaya SPP. Puluhan anak itu berasal dari keluarga miskin.
Angka tersebut baru yang terhimpun KPAI, diprediksi jumlahnya bisa lebih. Sebab, merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), dilaporkan pada 2020, 1 dari 1.000 siswa SD/sederajat putus sekolah. Kemudian, dari 1.000 siswa SMP/sederajat, 10 di antaranya putus sekolah. Terakhir, pada jenjang SMA/sederajat, 11 dari 1.000 siswa SMA/sederajat putus sekolah.
Meningkatnya angka anak putus sekolah, turut dibarengi dengan angka kemiskinan, masih dalam laporan BPS disebutkan pada Maret 2020 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 26,42 juta. Angkanya meningkat menjadi 27,54 juta pada Maret 2021.
Peningkatan jumlah anak sekolah dan kemiskinan terjadi selama pandemi Covid-19. Patut diduga, angka kemiskinan dan putus sekolah saling mempengaruhi satu sama lain.
Sedih rasanya menyaksikan data tersebut, padahal pendidikan merupakan modal utama kemajuan suatu bangsa. Seperti yang diungkapkan Jurnalis Senior, Najwa Shihab, "Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bisa bertahan.”
Di kawasan pinggiran Jakarta Barat tepatnya di Kelurahan Grogol berdiri kembali sebuah tempat pendidikan informal gratis, bernama 'Sekolah Sookses.’
Terlahir kembali dari keresahan Naif Haqsan, tentang nasib pendidikan anak-anak yang berasal dari keluarga miskin atau prasejahtera yang serba kesulitan pada masa pandemi Covid-19.
“Jadi sekarang pada masa pandemi ini, banyak mereka yang susah (orang tua siswa), ada yang pengangguran, ada yang meninggal karena Covid-19. Sudah tidak punya penghasilan karena Covid-19 dan mereka harus memikirkan sekolah anak-anaknya. Itu sulit, jadi mau tidak mau sekolah ini harus ada. Kami buka,” kata Naif Haqsan saat ditemui Suara.com, Selasa (27/6/2021) kemarin.
Mati Suri Gara-gara Penggusuran
Baca Juga: Cuitan Mahfud MD Dinilai Kurang Tepat, Sosiolog: Tak Perlu Meromantisasi Pandemi
Beranjak dari persoalan itu, pada awal Juli 2021 Sekolah Sookses kembali dihidupkan, setelah sempat mati suri sejak 2016 karena tidak menemukan lokasi baru akibat penggusuran. Dua kamar sangat sederhana berukuran sekitar 3x5 di sebuah bangunan indekos di Jalan Dr Makalwe I Nomor 18, RT 13/RW 02, Grogol, disewa sebagai ruang kelas sementara.
Karena kondisi dan situasi yang masih sangat terbatas, Sekolah Sookses hanya menerima murid untuk jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak dengan rentang usia tiga sampai 6 tahun.
Naif Haqsan menjelaskan, jenjang pendidikan yang diprioritaskan masih untuk anak usia dini, karena pada umur 3-6 tahun merupakan fase ‘Golden Age,’ tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak yang paling penting.
Dengan memulai pendidikan sejak dini diharapkan mereka telah memiliki modal pengetahuan yang dapat bermanfaat secara jangka panjang. Pendidikan yang diberikan merupakan gabungan dari kurikulum nasional dan internasional. Sehingga para siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu dapat mengenyam pendidikan seperti di taman kanak-kanak dengan biaya mahal.
“Jadi kami punya mimpi yang sangat besar, bagaimana anak-anak tidak punya privilege (hak istimewa) mereka bukan hanya asal sekolah, tapi bagaimana suatu hari nanti mereka bisa bersaing dengan siapa saja. Karena permasalahan yang kami lihat adalah di lingkungan ini banyak anak yang cerdas namun tidak mendapatkan tempat,” paparnya.
Di samping itu, pendidikan sejak dini dilakukan juga sebagai bekal mereka saat memasuki Sekolah Dasar (SD).
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Pramono Sebut Kelenteng Tian Fu Gong Bisa Jadi Ikon Wisata Religi Jakarta
-
Bidik Kursi Ketum BM PAN, Riyan Hidayat Tegaskan Tegak Lurus ke Zulhas dan Dukung Program Prabowo
-
Tensi Perang Dagang AS-Tiongkok Mereda, Stabilitas Dolar dan Pasar Saham Mulai Kalem
-
Skandal LCC 4 Pilar MPR RI 2026: Anatomi Ketidakadilan di Atas Panggung Konstitusi
-
Gubernur John Tabo Polisikan Penyebar Voice Note Tuduhan Provokasi Konflik di Wamena
-
Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor
-
Wamenaker Antisipasi Gelombang PHK Dampak Konflik Timur Tengah
-
BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Ancam Sejumlah Wilayah Aceh
-
Cegah Perang Suku Pecah Lagi, 300 Pasukan Brimob Dikirim ke Wamena
-
Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan