News / nasional
Siswanto
Ilustrasi: manusia silver [Dok.Antara]

Suara.com - Mengapa mereka memilih mencari penghidupan dengan cara itu, apa saja suka duka yang dirasakan selama beraksi di balik cat silver yang melumuri tubuh mereka, serta bagaimana mereka memaknai kehidupan? Simak kisah berikut ini.

TIGA remaja mendatangi tiap-tiap orang yang berdiri atau duduk di tepi jalan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tangan mereka menyodorkan wadah ke orang-orang. Ada yang kemudian memberikan uang, tapi kebanyakan buang muka dari anak-anak muda itu.

Tubuh ketiga remaja dilumuri cat warna silver, mulai dari ujung rambut kepala sampai kuku kaki. Kecuali mata mereka yang memerah dan gigi yang nampak kekuningan karena zat nikotin.

Salah seorang remaja menyeberang jalan menuju ke arah saya yang sedang duduk di atas sepeda motor. Saya menyapanya. Pada awalnya, dia kelihatan bingung, apalagi setelah saya utarakan niat untuk mewawancarai.

Baca Juga: Kisah Anak Transmigran Merantau ke Jakarta: Apa yang Terjadi di Kampungnya?

Baru setelah mendengarkan alasan kenapa saya ingin wawancara, dia bersuka cita. Dia menghentikan aksi. Bahkan tanpa saya minta, dia berinisiatif memanggil kedua kawan yang sedang sibuk beraksi di ujung jalan, untuk diajak berkumpul di teras rumah kosong buat wawancara. Sebelum memulai wawancara, ketiga remaja meminta saya untuk tidak memfoto mereka.

Ilustrasi: manusia silver

Selama ini di sekitar kita sering terdengar pertanyaan-pertanyaan, misalnya mengapa ada anak-anak muda yang mau menjadi manusia silver. Terkadang pula kita juga mendengar pandangan negatif terhadap mereka.

Menjadi manusia silver -- mengamen dengan aksi teatrikal -- cara mencari uang yang tak banyak dipilih kebanyakan remaja Indonesia.

Nama remaja yang pertamakali saya sapa Idoy (17). Dia amat terbuka dan paling banyak bercerita, hampir sama dengan Dudun (17). Berkebalikan dengan pembawaan Tompel (17) yang cenderung introvert selama wawancara berlangsung pada sore hari itu.

Perjalanan Idoy sama sekali tak dia rencanakan. Semua dimulai tak lama setelah dia drop out dari sekolah menengah kejuruan jurusan komputer di Kota Bekasi, Jawa Barat, gara-gara berkelahi dengan kakak kelas pada masa awal semester satuI.

Baca Juga: Kisah Kontraktor Kenyang Hadapi Para Pemalak Proyek

Idoy memiliki seorang kakak yang jadi tiang penghidupan keluarga. Ayah mereka sudah meninggal dunia, sedangkan ibu tidak bekerja. Mereka tinggal di Kranji. Idoy merasa tak mungkin hanya mengandalkan penghasilan kakaknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Maka setelah dikeluarkan dari sekolah, Idoy lekas mencari mata pencaharian. Pilihan pekerjaan yang ada di depan matanya kala itu bergabung secara total ke dalam sanggar seni Ondel-ondel Betawi di Kranji.

Ikut sanggar seni sesungguhnya sudah dijalani Idoy semenjak dia duduk di bangku kelas dua SMP. Hanya saja selama ini kegiatan tersebut dijadikan sampingan atau dilakoni cuma sepulang dari sekolah.

Idoy sudah menyelami dunia Ondel-ondel jauh sebelum marak Ondel-ondel dipakai untuk mengamen keliling kampung.

“Dulu kita (sanggar) paling pertama di sana (Kranji). Dulu itu bukan untuk ngamen (di jalanan seperti sekarang). Ondel-ondel hanya tampil kalau ada tanggapan dari warga saja,” kata Idoy.

Idoy dan kawan-kawannya kemudian ikut keliling kampung untuk mengamen bersama komunitas seiring dengan praktik pengamen Ondel-ondel naik daun.

Idoy mengakui sekarang ini sudah terjadi pergeseran makna seni Ondel-ondel. Dulu, pertunjukan tersebut lekat dengan pesta rakyat dan didukung peralatan musik yang memadai karena kesenian ini merupakan warisan budaya, bukan sekedar alat perekam suara yang didorong-dorong pakai gerobak seperti sekarang.

Idoy menjadi saksi mata terjadi pergeseran makna seni Ondel-ondel karena merasakan sendiri pengalaman di jalanan setelah dia tak lagi gabung di dalam sanggar seni.

Dia keluar dari sanggar karena kala itu tergiur penghasilan menjadi pengamen Ondel-ondel yang konon jauh lebih besar.

Dan memang benar kata teman-temannya. Pendapatan dari mengamen dengan memakai ikon Kota Jakarta itu jauh lebih banyak. Tiga tahun lamanya dia menggeluti dunia mengamen keliling kampung-kampung.

Awal jadi manusia silver

Menjadi pengamen dengan membawa boneka raksasa membawa mereka ke pergaulan yang lebih luas. Banyak komunitas pengamen Ondel-ondel di Jabodetabek yang jadi kawan baik mereka.

Dengan adanya perubahan sosial seiring berjalannya waktu, dunia pengamen Ondel-ondel pelan-pelan ikut berubah. Rivalitas sesama komunitas semakin ketat. Pendapatan berkurang. Lantas, tak sedikit dari mereka yang kemudian beranjak menjadi manusia silver yang kala itu belum begitu populer.

Dari kawan-kawan yang sudah lebih dulu mencemplungkan diri menjadi manusia silver itulah, Idoy, Dudun, dan Tompel mendengar bahwa penghasilan mereka lebih bagus dari membawa Ondel-ondel keliling kampung.

“Emang berapa penghasilannya, kita tanyain (kawan) gitu. Kalau cepek (Rp100 ribu) mah dapat (satu hari), katanya gitu,” kata Idoy.

“Ya lumayan juga kalau diitung-itung, matiinlah gocaplah (Rp50 ribu) sehari, gocap, gocap, gocap. Makanya tuh kita jadi manusia silver begini.”

Singkat cerita, ketiga remaja asal Kota Bekasi pun menerjuni dunia manusia silver. Tak lama kemudian, dunia pengamen jenis ini menjadi populer, tak hanya di Jabodetabek, tetapi juga menyebar ke daerah-daerah.

Selain penghasilan lebih baik, membuat pertunjukan di tempat umum dengan menjadi manusia silver juga mereka rasakan lebih praktis.

Berbeda dengan mengamen dengan boneka Ondel-ondel yang biasanya butuh tenaga 12 orang, tapi bisa kurang dari itu. Bagi yang tidak punya peralatan musik dan Ondel-ondel, mereka mesti menyewa. Sehari penghasilan mereka rata-rata hanya Rp50 ribu. Kalau jumlah tersebut dibagikan ke 12 anggota, berarti tiap-tiap orang hanya memperoleh bagian yang kecil sekali jumlahnya.

Ilustrasi: manusia silver

“Penghasilan Rp50 ribu itu (sekarang) juga belum nentu. Tapi kalau dulu udah pasti nentu Rp50 ribu, kalau sekarang susah, harus dari pagi-pagi banget berangkat,” kata Idoy.

Idoy dengan suka hati menceritakan penghasilannya semenjak menjadi manusia silver. Tiap hari, rata-rata dia mendapatkan uang Rp100 ribu -- belum dipotong biaya makan dan rokok. Penghasilan paling kecil yang pernah dia peroleh Rp50 ribu dan paling gede Rp150 ribu.

“Jadi kita bisa ngasihin kebutuhan keluarga gitu, ngebantu abang. Maka dari itu kita jadinya begini, penghasilan agak lumayan,” kata Idoy.

Modal

Idoy, Dudun, dan Tompel duduk berderet di teras rumah kosong ketika saya bertemu dengan mereka. Sebagian cat silver di tubuh Dudun terlihat mulai luntur karena sering kesenggol tangan. Tanda-tanda cat luntur biasanya terlihat tidak mengkilap lagi.

Cat silver yang dipakai para pengamen ada yang berupa paket sekali pakai dan dapat beli di toko tertentu. Cat paketan lebih praktis karena bisa langsung dioleskan ke badan. Tapi harganya lumayan, rata-rata Rp20 ribu.

Tetapi ada juga yang meracik bahan sendiri, seperti yang dilakukan ketiga remaja yang saya temui. Mencampur bahan sendiri, selain lebih hemat anggaran, juga bisa dibuat wangi.

Dudun dengan lancar menyebutkan nama-nama bahan dan cara meraciknya. Bahannya sederha sekali: bubuk sablon baju, baby oil atau body lotion merek Citra. Sehabis itu, dicampur, selanjutnya diaduk atau dikocok. Racikan pun selesai dan bisa langsung dipulaskan ke badan.

Idoy menambahkan, “Kita ngrasainnya enak juga. Tapi kalau catnya beli langsung nggak enak. Kalau kita ngracik sendiri kan kita puas gitu, wangi catnya.”

Pada waktu cerita soal racikan cat silver, Dudun teringat pengalaman pertamakali memoles badannya. Ketika itu dia merasa canggung. Dia merasa menjadi orang yang sangat aneh. Akan tetapi lama kelamaan, dia terbiasa dengan membalurkan cat ke badan.

“Aneh gitu. Suka mikir aja gitu yak. Badan udah bagus-bagus dicat-cat, kayak orang nggak jelas. Tapi ya mau gimana lagi ya kan, namanya buat nyari makan sehari-harilah itungannya. Mau gimana lagi, mau nggak mau, ya kita kayak begini, ngecat-ngecat begini.”

Tompel yang amat jarang bicara ikut mengiyakan ucapan Dudun.

Cat silver racikan mereka biasanya bisa bertahan seharian dengan catatan tidak kesenggol-senggol. Kalau catnya sering tersentuh tangan, lama kelamaan warnanya akan rusak: tidak mengkilap lagi.

“Intinya kalau seharian yang tadinya warna silver jadi berubah kayak abu-abu gitu. Jadi burem kayak kena air, jadi burem,” kata Dudun.

Cat silver yang dipakai manusia silver umumnya sulit luntur, bahkan kena kehujanan sekalipun. “Minyak kena air gimana sih,” kata Idoy.

Kami juga ngobrol soal efek samping penggunaan cat silver pada kulit. Idoy ternyata sudah sering mendengar dampak zat kimia yang sering dia pakai terhadap kesehatan kulit.

Akibat yang timbul jangka pendek, biasanya pengguna akan mengalami bentol, seperti jerawat. “Gatal-gatal gitu, bintik-bintik,” kata Idoy.

Dia mengatakan sangat bersyukur sejauh ini belum pernah dilarikan ke rumah sakit karena efek samping dari pemakaian cat silver secara terus menerus. Tetapi di hati kecil, dia sebenarnya menyadari suatu saat pasti akan muncul dampaknya, hanya saja kekhawatiran tersebut dikalahkan oleh rasa tanggungjawab Idoy untuk membantu menafkahi keluarga.

Saya memperhatikan bola mata Tompel. Pada bola matanya terdapat cairan warna silver. Agaknya, cairan cat masuk ke mata setelah terbawa keringat. Saya tanya bagaimana rasanya? Sambil mengedip-ngedipkan mata yang memerah, dia menjelaskan, “Kalau udah kena begitu kita jadi ngebayang-bayang, ada yang berasa ngeganjel. Kayak ada perih-perih.”

Mata yang sudah terlanjur terkena lunturan cat, dari pengalaman ketiga remaja, bisa dengan mudah dihilangkan, hanya saja rasanya perih untuk sementara waktu. Saya sendiri ngilu ketika mendengar nama bahan yang mereka pakai untuk menghilangkan cairan cat yang masuk ke mata.

“Itu bisa diilangin, dibersihin pakai sunlight (pembersih piring) atau sabun cair atau Rinso (pencuci pakaian). Ngebersihin mata tahu sendiri dah kalau pakai Rinso atau Sunlight, itu perihnya gimana, tapi itu cuma sementara,” Idoy menambahkan.

Rinso dan Sunlight juga biasa mereka pakai untuk menghilangkan cat di sekujur badan. Sedangkan untuk membersihkan rambut, biasanya mereka memakai sampo biasa.

Mereka memanfaatkan toilet di pasar-pasar yang dilewati untuk membersihkan diri. Sesudah itu barulah anak-anak muda pulang ke rumah masing-masing dan bertemu keluarga.

Cara kerja manusia silver

Tiap hari, mereka biasanya mulai kerja sehabis Ashar. Ketiga remaja tersebut tinggal di Kota Bekasi. Selain beroperasi di kota sendiri, daerah jelajah mereka sampai ke Kabupaten Bogor dan wilayah-wilayah lain yang berbatasan dengan Ibu Kota Jakarta.

Walaupun sudah cukup lama berkecimpung ke dalam dunia manusia silver, rupanya mereka masih malu-malu jika pekerjaannya ketahuan oleh teman-teman di lingkungan rumah.

Itu sebabnya, ketika akan berangkat kerja, tiap-tiap dari mereka, tidak langsung mengecat badan dari rumah masing-masing. Mereka baru membuka cat dan meraciknya sesampai di daerah yang sekiranya tidak akan ketahuan oleh teman-teman di lingkungan rumah.

Setelah racikan siap, mereka membuka baju bagian atas dan hanya memakai celana pendek. Sehabis itu mengoleskan cat silver dari ujung kaki sampai rambut, kecuali mata dan gigi.

“Kalau cat udah diolesin, baru kita jalan lagi. Kalau kita belum punya tempat buat wadah uang (kardus) biasanya kita minta kardus ke pemilik warung. Kalau udah minta di warung, baru dah kita jalan muter-muter di jalan kemana aja,” kata Dudun.

Manusia silver umumnya melakukan aksi teatrikal untuk menghibur masyarakat. Misalnya menirukan gaya patung. Baru setelah beraksi, mereka menyodorkan kardus atau ember kepada tiap-tiap orang yang dihibur.

Tompel menjelaskan, “Kita bisa dibilang mengamen, tetapi sebelum itu kita mematung dulu, berapa detiklah ya kan, baru kita mintain (uang). Ngasih nggak ngasih ya udah kita pergi lagi, cari orang lain lagi, matung lagi, minta lagi. Nggak langsung minta-mintain duit gitu aja.”

Dudun tidak bisa menghafal berapa kilometer setiap hari berjalan kaki. Dia menggambarkan, setiap hari berangkat dari daerah Kranji, Kota Bekasi. Dia janjian ketemu di suatu tempat dengan rekan-rekannya. Selanjutnya, mereka naik angkutan umum sampai ke daerah yang menjadi tujuan.

“Naik mobil sampai titik pertama, start, baru jalan kaki, sampai malam jalan terus,” kata Dudun.

Mereka biasanya tidak asal memilih lokasi untuk mengamen. Jika siang hari, mereka mendatangi daerah-daerah padat penduduk. Sedangkan kalau sore hari, mereka mendatangi kawasan-kawasan ramai atau area yang banyak dikunjungi orang.

Cara kerja manusia silver terbagi menjadi dua. Ada yang berkelompok, ada pula yang sendiri-sendiri. Idoy, Dudun, dan Tompel termasuk yang sendiri-sendiri, meskipun di lapangan mereka jalan bareng. Berkelompok artinya penghasilan mereka disatukan dan baru dibagi setelah selesai bekerja. Sedangkan kalau sendiri-sendiri berarti uang yang didapat tiap-tiap orang masuk ke kantong masing-masing.

Bagi manusia silver seperti Idoy dan kawan-kawan, musim hujan menjadi pantangan. Musim hujan biasanya penghasilan mereka menurun drastis karena jalanan dan perkampungan penduduk menjadi sepi.

“Tapi kita sih pantang menyerah, gitu, demi sebuah penghasilan buat makan, buat kebutuhan sehari-hari. Kita ya terjang terus aja dah hujan, mau hujan gede-hujan gimana,” kata Idoy.

“Hujan kita terobos terus, kedinginan, menggigil, tetap jalan,” Tompel menambahkan.

Mengenai cat silver di badan mereka, kata Idoy, tidak akan hilang oleh air hujan. Biasanya kalau keseringan kena air hujan, warnanya saja yang agak berubah menjadi abu-abu.

Setelah berkilo-kilometer berjalan kaki dan badan terasa capek sekali, itu menjadi penanda mereka harus segera pulang ke rumah.

Risiko di jalanan

Menjadi manusia silver bukan tanpa risiko. Bagi Idoy dan kawan-kawannya, bahaya ditabrak kendaraan di jalan tidak terlalu mengkhawatirkan mereka. Yang paling mencemaskan mereka adalah jika ketemu dengan preman yang sedang mabuk.

Suatu waktu, mereka pernah melewati suatu lokasi. Di daerah itu, mereka tak sengaja bertemu sekelompok pengamen yang rupanya sedang mendem. Begitu melihat ketiga remaja, kelompok tersebut langsung menodong dengan menggunakan pisau. Mereka merampas semua duit yang dimiliki Idoy dan sahabatnya.

“Hari apes kan nggak ada yang tahu gitu. Kita juga pernah kena Rp300 ribu, diambil semuanya, ditodong gitu pakai pisau,” kata Idoy.

Pengalaman tak menyenangkan lainnya, pada suatu waktu, mereka bertemu kelompok lain di salah satu kawasan. Tak disangka-sangka, kelompok tersebut memalak telepon seluler yang dibawa Idoy dan temannya.

Kejadian tersebut selanjutnya diambil hikmahnya oleh Idoy, Dudun, dan Tompel. Jika sedang mengamen, jangan pernah membawa HP dan dompet.

Tompel pernah punya pengalaman menakutkan dan dia hampir celaka. Suatu malam, seperti biasa, dia dan beberapa kawan menghentikan kendaraan besar untuk mencari tumpangan menuju Bekasi.

Malam itu, mereka menyetop sebuah truk kontainer dengan cara menghalang-halangi jalannya. Bukan mengerem, pengemudi truk justru menambah kecepatan.

Mendapat respons demikian, anak-anak muda itu pun emosi. Singkat cerita, terjadilah keributan dengan sopir truk. Tompel dan kawan-kawannya melempari truk kontainer dengan berbagai benda. Sopir keluar dari truk dengan menenteng senjata tajam.

“Itu masalahnya kita malang mobil mau pulang ramai-ramai, tapi sopir nggak ngasih. Tapi cara nggak ngasihnya itu nabrak gitu, kayak nggak mau ngerem. Nah anak-anak pada kesel dah tuh, timpukin dah sama anak-anak pakai batu. Lalu dia turun, turun bawa-bawa sajam dah, udah dah ribut.”

“Kita minta baik-baik, kita malah ditabrak. Nah kita kan kagak seneng, itu kan, jatuhnya udah nyawa. Kalau nabrak gitu sih namanya cari gara-gara juga. Emang sih kita itungannya kayak gini (pengamen), kalau misal berantem di jalan ama supir orang-orang lain mikirnya kita yang salah, tar kita yang kena.”

Perkara tersebut menjadi panjang. Urusannya sampai kantor polisi dan sempat ramai dibahas di media sosial.

Di kantor polisi, nasib baik berada di pihak Tompel dan kawan-kawannya.

“Alhamdulillah sih polisinya nyalahin sopirnya. Soalnya kita nggak pakai apa-apaan, dia pakai sajam. Ada buktinya juga, teman saya kena, ada tanda bukti kena sajam.”

Ilustrasi: Satpol PP

Razia ketertiban umum yang dilakukan petugas Satuan Polisi Pamong Praja menjadi momok bagi Idoy. Pernah suatu kali ketika baru tiba di salah satu lokasi, dia lari terbirit-birit untuk menghindari kejaran para petugas.

“Lari-larian nyampe mana juga. Awang banget dah pokoknya dah.”

Sial baginya pada suatu siang. Idoy tak bisa lari kemana-mana pada waktu sepasukan petugas melakukan penertiban.

“Saya paling belakang. Jatuh-jatuhan saya, posisi kayak kaki nggak punya tulang gimana sih, lari lalu jatuh, lari lalu jatuh. Akhirnya saya ditangkap, dibawa ke sono dah, didata nama saya semua.”
Idoy dimasukkan ke dalam mobil yang disebutnya “mobil kerangkeng” bersama sejumlah orang. Mereka dibawa ke sebuah rumah singgah di Pedurenan. Sore harinya, Idoy nekat melarikan diri dari sana.

“Akhirnya saya kabur dah pas Magrib-Magrib lewat tembok. Temboknya saya dobrak, saya jebolin gitu, udah saya sampai sekarang belum ketangkap lagi. Nggak tahu dah kalau ketangkap lagi diapain, soalnya kan nama saya udah didata.”

Saya ingin tahu dari sudut pandang Idoy mewakili manusia silver mengenai pendapat mereka terhadap operasi penertiban yang sering dilakukan Satpol PP. Idoy mempertanyakan apa dasar Satpol PP menangkap pengamen, khususnya manusia silver. Padahal menurut dia, manusia silver tidak mengganggu ketertiban umum.

“Emang kalau di jalanan semua ditangkap om, kayak pengamen, manusia silver, pengemis ama Satpol PP. Dianggap mengganggu ketertiban, dianggap membuat warga risih, padahal mah nggak.”

“Pokoknya kalau ketemu Satpol PP udah dah, kayak musuh bebuyutan kita, Satpol PP kalau satu orang dua orang masih kita lawan, tapi kalau udah semobil baru dah pada kabur. Kalau Satpol PP satu dua orang doang nggak berani nangkap, cuma diem doang. Kalau ramai-ramai doang dia berani.”

Tompel juga ikut mempertanyakan asumsi bahwa manusia silver menjadi pengganggu ketertiban umum.

Sama seperti dua rekannya, dia menolak pendapat yang menyebutkan manusia silver mengganggu ketertiban. Selama ini, dia dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun bersikap tidak sopan dengan orang lain, apalagi memaksa mereka memberikan uang.

“Kalau dibilang mengganggu, apanya yang mengganggu. Kita jugakan minggir di jalan raya, terus kalau ada anak kecil takut, kita juga langsung pergi nggak jadi ke tempat dia. Nggak jadi matung. Kita juga mintain (uang) dengan sopan. Mungkin yang dibilang mengganggu itu yang di lampu merah,” kata Tompel.

Tompel merasa tidak perlu menanggapi berbagai pendapat negatif atas keberadaan manusia silver di jalanan. Prinsip dia yang terpenting tidak memaksa dan merugikan orang lain saat bekerja.

“Kita mah, yang namanya omong-omongan orang mah udah makanan kita sehari-hari sih. Udah nggak kaget dah. Biarin saja dah dia mau ngomong apa. Intinya mah diri kita sendiri, kita yang tahu sendiri. Orang-orang mah tahunya buruknya doang,” kata Tompel.

Tak percaya Covid-19

Mereka lebih takut razia Satpol PP ketimbang tertular Covid-19. Idoy malah tidak percaya adanya virus mematikan yang telah merenggut nyawa ribuan orang di Indonesia.

Dia sangat percaya diri ketika mengatakan hal itu. Tapi sayanya yang jadi makin was-was, apalagi dia dan kawan-kawannya yang berkumpul di depan saya tidak ada yang pakai masker.

Menurut dia kalau Covid-19 memang ada, sudah pasti dia ketularan sejak tahun 2020. Dia merujuk pada aktivitasnya saban hari di jalanan dan ketemu orang-orang baru, tanpa pernah memakai masker pula dia.

“Kalau itu (Covid-19) sih kita alhamdulillah belum pernah kena. Dari pertama ada Corona, yang namanya masker yang kalau orang-orang bilang wajib pakai yak (kita nggak pernah pakai). Kita nggak percayalah yang namanya Corona-corona begitu. Soalnya kita yang ngrasain namanya di jalan itu sudah sering banget dari pertama Corona sampai sekarang nggak pernah namanya pakai masker.”

“Anehnya justru orang-orang yang di rumah saja, kagak ngapa-ngapain malah kena ya kan. Kita yang di jalan kayak kayak gini tiap hari, nggak pernah kena. Udah terbiasa, udah bodo amat gitu.”

Bagi Tompel, memakai masker rasanya tidak nyaman dan itu sebabnya dia tidak mau pakai. Dia memegang prinsip, hidup dan matinya seseorang sudah menjadi urusan Allah.

“Kalau pakai masker juga bawaannya risih bang. Buat orang takut pasti kena, buat orang yang percaya diri gimana yak, udah kita pede aja dah. Mati hidup kan Allah yang takdirin bukan kita, kalau emang takdir mati ya udah, mau gimana lagi,” kata Tompel.

Persaingan dan konflik

Mencari uang di sektor nonformal, seperti yang dijalani Idoy, Dudun, dan Tompel penuh dengan dinamika.

Tidak ada data pasti jumlah manusia silver di Jabodetabek. Tetapi di kawasan-kawasan tertentu, misal di daerah Zamrud, Bantargebang (Kota Bekasi), mereka dapat dengan mudah ditemui karena jumlahnya banyak sekali.

Dari pengalaman Idoy, Dudun, dan Tompel, jika sesama manusia silver sudah saling mengenal satu sama lainnya, biasanya tidak akan ada persaingan. Kalau kebetulan berpapasan di suatu kawasan, salah satu kelompok akan mengalah untuk kelompok lain yang duluan masuk daerah tersebut.

“Pokoknya siapa yang duluan (masuk daerah itu), ya yang belakangan harus ngalah.” kata Dudun.

Akan lain halnya jika bertemu dengan kelompok lain yang belum saling kenal, terutama yang bersikap arogan, biasanya mereka tidak mau mengalah dengan kelompok yang lebih dulu memasuki kawasan tertentu. Ketemu dengan kelompok seperti itu biasanya sangat rawan terjadi pergesekan.

“Kalau ketemu orang lain nih, nggak tahu dah orangnya belaga-belaga di jalan, udah pasti dia nggak mau mengalah ya kan. Kalau dia jual ya kita beli. Saing-saingannyaya begitu bang, seperti dibilang takut nggak dapat duit gitu kalau dia di belakang. Makanya ya persaingan itu ada di situ,” Idoy menambahkan.

Tapi kelompok Idoy, meskipun masih darah muda, mereka tetap mencoba mengedepankan sikap damai dengan kelompok lain yang memancing pertikaian. Upaya yang mereka lakukan, misalnya berbicara baik-baik untuk mencari solusi dengan kelompok lain.

“Tapi kalau emang dia emosional, ya mau gimana lagi bang. Kita sudah sabar, kita sudah ngomong baik-baik, terus dianya masih begitu, ya udah kita ladenin aja gitu. Bukan gita nggak mau ngalah atau belagak sok jagoan, tapi emang dianya yang duluin kan, ya begitu deh,” kata Idoy.

Tak selamanya ingin jadi manusia silver

Mereka masih muda. Ibarat kata pepatah, masih banyak jalan menuju Roma. Idoy dan teman-temannya menyadari hal itu. Oleh karena itu, mereka tidak akan selamanya memilih pekerjaan sebagai manusia silver.

Menjalani manusia silver sebenarnya hanya semacam batu loncatan untuk mencari jalan menuju bidang pekerjaan yang lain.

Mereka akan berhenti jadi manusia silver jika nanti sudah menemukan pekerjaan baru.

“Kan kita kayak gini sembari nyari kerja juga di jalan. Kalau ada kerjaan ya kita stop dari kayak gini. Tapi yang namanya dalam pandemi kayak gini kan, nyari kerja susah, ya udah sampai sekarang masih kerjaan kayak gini,” kata Dudun.

Dudun menambahkan, apapun pekerjaan baru yang nanti didapatkan, asalkan sesuai kemampuannya, akan diambil dan disyukuri.

“Kerjaan yang diharapkan sih, ya yang dibilang enak sih susah, cuma yang penghasilannya lumayan aja, kayak sebulan dapat dapat gaji Rp1,5 juta atau Rp2 juta ya kita ambil. Kerjaan yang sebisa kita aja bang. Kita skill dimana gitu. Kalau kerja kan yang penting skill kan bang. Pengalaman ada dimana. Kayak dagang apa gimana, kita masih bisa.”

Sementara Idoy bercerita pada bulan September 2021 nanti dia akan memiliki kartu tanda penduduk elektronik. Setelah memiliki e-KTP, orangtuanya berencana memasukkan dia ke tempat kerja melalui jalur orang dalam.

Mengamen sebagai manusia silver dia jalani demi membantu perekonomian keluarganya yang berada di bawah garis kemiskinan. Dia tinggal bersama bapaknya. Bapaknya sudah tua dan tidak berpenghasilan lagi.

“Saya juga tetap ada rencana kerja di bidang lain. Ini sekarang kan sambil nunggu saja, gimana ya kayak ngebantu bapak. Bapak sudah tua nggak kerja. Kontrakan saya yang bayar, buat sehari-hari saya yang ngasih, saya tinggal berdua doang sama bapak saya. Jadi gimana ya, sambil nyari kerja ya saya begini. Mati kelaparan kalau kita nggak kerja,” kata Dudun.

Penghasilan dari mengamen yang didapat Dudun akhir-akhir ini -- tahun kedua pandemi Covid-19 --dirasakan sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, meskipun mereka sudah hidup berhemat.

Dia menggambarkan, “Pokoknya kita dapat sehari langsung kepakai, dapat langsung kepakai. Buat hari-harian gitu di rumah, buat bapak pegangan apa gimana gitu. Sehari nggak nentu om, rezeki kan ada yang ngatur. Jadi kita nggak bisa nentuin apa gimananya. Pokoknya dapat berapa saja syukurin aja dah pokoknya.”

Hikmah yang didapat dari jalanan

Ketika saya melemparkan pertanyaan itu, Idoy duluan yang menjawab. Bagi dia, menjadi manusia silver maupun pekerjaan-pekerjaan lain yang telah dia jalani sebelumnya telah memberikan penyadaran betapa kedua orangtuanya dulu harus bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya.

Kesulitan-kesulitan hidup di jalanan telah membuat Idoy cepat dewasa. Pengalaman bekerja di jalanan juga memberinya pelajaran untuk lebih mawas diri.

“Yang namanya orang kagak punya terus ngejalanin yang namanya nyari duit susah, berat banget. Apalagi kita mikir orangtua dulu gimana ya nyari duit susah banget. Terus kita di situ terharu gitu, (orangtua) ngurus-ngurusin kita. Dulu mah kita susah banget bang. Makanya kita pengen tuh ngrasain yang namanya nyari duit. Oh ya terasa banget,” kata Idoy.

Bagi dia, suka duka yang dirasakan selama ini menadi bagian dari belajar bertanggungjawab. “Tar kalau udah punya bini nggak kaget,” kata dia.

Dudun juga menarik pelajaran dari pengalaman mengamen di jalanan. Dulu, sebelum merasakan mencari uang sendiri, dia tanpa beban menghabis-habiskan uang pemberian orangtua. Dia menganalogikan: “Nyari duit udah kayak naik gunung, ngabisin duit udah kayak turun gunung.”

Sekarang, Dudun tersadar, “Kita kan pernah ngrasain duit dari ortu, kita abisin begitu saja. Jadi sekarang kita ngrasain yang namanya nyari duit itu susahnya gimana dan ngabisinnya cepet banget.”

Mereka berharap masyarakat jangan memberi stigma buruk kepada semua pengamen, terutama manusia silver. Banyak di antara mereka yang memilih menekuni pekerjaan ini karena dipaksa keadaan, apalagi masa di tengah pandemi Covid-19 yang memunculkan masalah pengangguran.

“Jangan anggap kita sebelah mata deh kalau nggak tahu kita aslinya gimana. Kan yang namanya prinsip orang beda-beda, baik buruknya dikita kan nggak tahu. Intinya kita di jalan kan udah sopan,” kata Idoy.

Dudun mengungkapkan di jalanan memang banyak sekali godaan. Misalnya ketika mereka memasuki pemukiman padat penduduk, orang yang punya niat jahat bisa dapat dengan mudah mencuri telepon seluler atau benda-benda berharga milik warga.

“Alhamdulillah saya namanya mencuri nggak pernah tergoda, kalau emang punya niat jahat ya diambil tuh, tapi alhamdulillah saya nggak pernah tuh kayak gitu,” kata Dudun.

“Kita kan niat cari duit, bukan maling, apalagi tangan panjang. Nggak om,” Idoy menambahkan.

Tompel yang dari tadi lebih banyak menyimak, begitu dipancing untuk menyampaikan uneg-uneg, langsung dia bicara secara tajam kepada anak-anak muda. Dia mengatakan bahwa kehidupan manusia berjalan dinamis, itu sebabnya jangan pernah arogan.

“Buat anak muda, kalau duit masih ngandelin orangtua nggak usah sok-sok jadi kayak yang paling ataslah yak. Pokoknya turun dah bang, turun, biar ngarasin pahit manis hidup. Jangan di atas mulu. Di atas juga bosen.”

“Yang namanya orang di atas ya pasti naik turun. Elu juga pastinya nanti bakal di bawah juga bang, nggak mungkin di atas terus bang. Ada waktunya gue di atas elu di bawah kayak gitu.”

Komentar

terkini