Suara.com - Gadis-gadis di kota Herat, Afghanistan barat kembali ke sekolah hanya beberapa hari setelah ibu kota negaranya, Kabul direbut oleh Taliban.
Menyadur Al Jazeera Rabu (18/08), kota Herat berbatasan dengan Iran, menjadikan kota Jalur Sutra kuno ini masuk dalam pengecualian dari titik lain yang lebih konservatif.
Wanita dewasa dan anak-anak di kota ini berjalan lebih bebas di jalanan, menghadiri sekolah dan perguruan tinggi yang terkenal dengan puisi dan seninya.
Saat sekolah membuka pintunya, para siswa bergegas menyusuri koridor dan mengobrol di halaman, seolah tidak menyadari gejolak yang melanda negaranya dalam dua minggu terakhir.
“Kami ingin maju seperti negara lain,” kata salah satu mahasiswi bernama Roqia. “Kami berharap Taliban akan menjaga keamanan. Kami tidak menginginkan perang, kami menginginkan perdamaian di negara kami.”
Berdasarkan sejarah tahun 90-an, di bawah kekuasaan Taliban yang menerapkan hukum Islam garis keras, sebagian besar wanita Afghanistan tidak mendapat pendidikan dan pekerjaan.
Para wanita boleh muncul di depan umum dengan penutup wajah dengan pendamping pria. Kini apa yang akan terjadi dengan wanita Afghansitan di bawah kekuasaan masih belum jelas.
Di depan umum, Taliban berusaha untuk mendorong narasi dengan juru bicara yang mengumumkan pengampunan resmi untuk semua orang yang terlibat dalam perang.
Selama konferensi pers resmi pertama di Kabul, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kelompoknya “berkomitmen untuk membiarkan perempuan bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip Islam”.
Baca Juga: Reaksi Tentara Taliban saat Main Komidi Putar, Bom-bom Car dan Coba Peralatan Gym
Ketika ditanya tentang perbedaan gerakan 20 tahun lalu denan Taliban hari ini, Mujahid memberikan jawaban yang 'berbeda secara positif dari langkah-langkah sebelumnya'.
"Jika pertanyaannya didasarkan pada ideologi dan keyakinan, tidak ada perbedaan tapi jika kita menghitungnya berdasarkan pengalaman, kedewasaan, dan wawasan, tidak diragukan lagi ada banyak perbedaan."
Namun, selama wawancara dengan Sky News minggu ini, juru bicara Taliban lainnya, Suhail Shaheen, menawarkan jaminan dengan mengatakan para wanita “bisa mengenyam pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi, universitas.”
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Tak Menyerah, Sony Sanjaya Ajukan Justice Collaborator ke LPSK Setelah Ditolak Kejagung
-
Penumpang Pasar Senen Kalahkan Gambir, Tren Perjalanan Kelas Ekonomi Menguat
-
HUT Jakarta ke-499, Pemprov DKI Terima 499 Sertifikat Aset Daerah Senilai Rp 22,2 Triliun
-
Dianugerahi Lencana Emas di Gorontalo, Prabowo Dinilai Berjasa Bagi Petani-Nelayan
-
Prabowo: Saya Tahu Siapa yang Bayar Demo, Pesertanya Ada yang Dibayar Rp 200 Ribu
-
DPR Apresiasi Polda Jabar Tangkap Taufik Hidayat, Pelaku Penyekapan Perempuan di Bandung
-
Kasus Suap Mahasiswa UBK, BEM UMY: Tak Bisa Selesai Hanya dengan Maaf
-
Usut Kasus Silmy Karim, KPK Geledah Kantor Biro Jasa di Bali
-
Dua Kebakaran Serang Duren Sawit Dini Hari, 23 Jiwa Terdampak dan Ratusan Juta Rupiah Ludes
-
KPK Periksa 13 Saksi Kasus Silmy Karim di Jakarta dan Bali, ASN Hingga Swasta Dicecar