"Saya tidak ingin para militan ini memandang buruk putri saya. Khawatir akan keselamatan putri saya, saya datang ke sini ketika Taliban menguasai daerah pedesaan."
"Sekarang, ketakutan terburuk saya menjadi kenyataan," katanya, seraya menambahkan bahwa kakak laki-lakinya Mir Bacha memiliki tiga anak perempuan berusia antara 12 dan 17 tahun.
Saudara laki-lakinya yang lain, Majid Khan, memiliki empat anak perempuan berusia antara 10 dan 16 tahun.
"Mereka semua khawatir tentang putri mereka, takut bahwa Taliban pasti akan meminta mereka untuk menikahkan anak perempuan dengan militan mereka," ujar Khan.
Mengincar perempuan
Syed Muhammad Ullah, seorang pemuda dari distrik Jaghori di provinsi Ghazni, dahulu mengelola fasilitas kebugaran di kota kelahirannya.
Dia mengatakan kepada DW bahwa desas-desus tersebar luas bahwa Taliban mengumpulkan informasi tentang perempuan muda dan janda yang belum menikah.
"Ini bukan hanya rumor. Memang benar bahwa Taliban telah mengumpulkan informasi tentang perempuan-perempuan muda dan janda-janda. Ini membuat takut banyak keluarga, yang kemudian bermigrasi ke Pakistan," tutur Ullah.
Anwar Hussaini, seorang etnis Hazara dari distrik yang sama, mengatakan bahwa dia bersama keluarga harus melarikan diri karena khawatir akan rumor tersebut.
Baca Juga: Taliban Umpamakan Wanita Tak Berhijab seperti Irisan Melon, Warganet Murka
Putrinya, Fariba Hussaini, mengatakan bahwa karena dia adalah seorang guru yang bekerja untuk sebuah LSM, dia harus melarikan diri bersama anggota keluarganya untuk menghindari Taliban.
Kepada DW, Ali Raza, dari kota Quetta di Pakistan barat, mengatakan bahwa Taliban berusaha memberi kesan di daerah perkotaan Afganistan bahwa mereka telah berubah.
"Tetapi di daerah pedesaan mereka tidak hanya menargetkan mantan pegawai pemerintah, tetapi juga berniat menyakiti perempuan, memaksa mereka meninggalkan rumah mereka."
Dalam beberapa hari terakhir ada laporan tentang beberapa perempuan Pakistan yang menikah dengan pria Afganistan, kembali dari provinsi Badakhshan di Afganistan ke wilayah Gilgit-Baltistan utara Pakistan.
Mereka ditemani oleh saudara perempuan suami mereka dan perempuan lain.
Mereka kembali ke Pakistan karena khawatir para perempuan yang belum menikah bisa menjadi korban pernikahan paksa angota Taliban.
Berita Terkait
-
Biang Kerok Perang Pakistan vs Afghanistan, Tehreek-e-Taliban Pakistan Didanai Siapa?
-
Kenapa Pakistan Deklarasikan Perang ke Afghanistan? Ini 5 Faktanya
-
Pakistan Bombardir Kabul, Konflik dengan Afghanistan Memasuki Fase Perang Terbuka
-
Review Film 13 Days, 13 Nights: Ketegangan Evakuasi di Tengah Badai Taliban
-
Afghanistan Pulihkan Akses Internet 48 Jam Setelah Penutupan Taliban
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Resmi! Nadiem Makarim Jadi Tahanan Rumah
-
DPRD DKI Segel Parkir Ilegal Blok M Square
-
Nadiem Tegaskan Tanda Tangan Pengadaan Laptop Ada di Level Dirjen Kemendikbudristek
-
Periksa Plt Walkot Madiun, KPK Dalami Permintaan Dana CSR Hingga Ancaman ke Pihak Swasta
-
Buntut Investasi Google ke PT AKAB, Nadiem Disebut Paksakan Penggunaan Chromebook
-
Oditur Militer akan Sambangi Andrie Yunus di RSCM?
-
Sinergi Kemensos Bersama BPS dan DEN Perkuat Digitalisasi Bansos Berbasis DTSEN
-
Kebijakan Libur Sekolah Lebih Awal Saat Piala Dunia 2026 di Meksiko Tuai Protes Keras Orang Tua
-
Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA 21 Surabaya Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying
-
Parigi Moutong Siapkan Lahan 9,2 Hektare untuk Sekolah Rakyat Permanen