Suara.com - Beberapa asteroid bergerak menuju Bumi, menurut pelacak asteroid badan ruang angkasa Amerika Serikat (NASA), semuanya dengan diameter setidaknya 160 meter, yang dianggap punya potensi bahaya atau Potentially Hazardous Asteroroid (PHA).
Asteroid adalah objek kecil yang mengorbit Matahari. Sebagian besar asteroid di Sistem Tata Surya kita ditemukan di kawasan antara Mars dan Jupiter, yang biasa disebut sebagai sabuk asteroid.
Kadang, asteroid bertabrakan satu sama lain. Serpihan dari tabrakan ini biasa dinamakan meteorid.
Jika meteorid mendekat dan masuk ke atmosfir Bumi, ia terbakar dan seakan bercahaya. Ini disebut meteor. Karena penampakannya inilah, ia juga disebut bintang jatuh, meski sebenarnya ia bukan bintang.
Rata-rata ukuran asteroid yang melintas Bumi pada Oktober dan November ini jauh lebih besar dari Piramida Giza di Mesir, yang berketinggian 146 meter dengan bobot jutaan ton.
Yang pertama adalah 1996 VB3, yang memiliki panjang antara 100 hingga 230 meter, yang melintas Bumi pada 20 Oktober, sekitar dua kali Monumen Nasional (Monas) yang punya ketinggian 132 meter.
Baca juga:
- Sinyal kosmik peleburan dua lubang hitam mengguncang Bumi setelah 7 miliar tahun
- Asal-usul lubang hitam terbesar di alam semesta yang misterius
- Lubang hitam terdekat dengan Bumi ditemukan
Saat melintas, jarak terdekat dengan Bumi sekitar 3,2 juta kilometer dan diperkirakan pergerakannya tidak akan membawa dampak terhadap planet kita ini.
Meski jauh dari Bumi, NASA tetap menganggapnya sebagai objek yang dekat dengan Bumi atau near-Earth object (NEO).
Baca Juga: 7 Asteroid akan Melewati Bumi, Salah Satunya Sebesar Gedung Empire State
Seberapa jauh 3,2 juta kilometer dari Bumi?
Untuk memberikan gambaran, jarak Bulan dan Bumi adalah 384.000 kilometer.
Lalu pada 25 Oktober akan melintas asteroid 2017 SJ20, yang memiliki diameter antara 90 hingga 200 meter. Jarak terdenkat dengan Bumi saat melintas adalah 7,1 juta kilometer.
Pada bulan November, juga akan ada asteroid "yang bertamu" ke Bumi.
Yang pertama datang pada bulan ini adalah asteroid 2017 TS3, dengan panjang antara 98 hingga 220 meter. Ia melintas pada jarak sekitar 5,3 juta dari Bumi.
Tamu kedua datang pada 13 November, yakni asteroid 2004 UE, yang berukuran antara 170 hingga 380 meter, yang kira-kira seukuran dengan gedung Empire State Building di New York.
Asteroid ini melintas pada jarak 4,2 juta kilometer dari Bumi.
Sepekan kemudian, pada 20 November, akan melintas 2016 JG12, yang melintas sekitar 5,5 juta kilometer dari planet kita. Tidak sebesar asteroid-asteroid sebelumnya, namun tetap saja masuk kategoti besar karena punya panjang maksimum 190 meter.
Satu hari setelahnya, pada 21 November, satu asteroid yang jauh lebih besar melintasi Bumi: 1982 HR yang juga dikenal dengan nama 3361 Orpheus.
Diperkirakan, 1982 HR memiliki panjang 300 meter, hampir sama dengan ketinggian Menara Eiffel di Paris, yang punya ketinggian 324 meter.
Asteroid ini melintas pada jarak 5,7 juta kilometer dari Bumi.
Dan akhirnya, pada 29 November, akan datang 1994 WR12, yang memiliki panjang antara 92 hingga 210 meter, yang melintas pada jarak skeitar 6,1 juta kilometer.
Hampir semua asteroid yang mendekat pada bulan Oktober dan November masuk golongan kelas Apollo, yang berarti orbit mereka mengelilingi Matahari bisa beririsan dengan jalur orbit Bumi. Namun perlu dicatat bahwa orbit asteroid-asteroid ini lebar dari orbit Bumi.
Satu-satunya yang bukan kelas Apollo adalah 1994 WR12, yang masuk kategori Aten. Artinya, melintas orbit Bumi terhadap Matahari, namun sebagian besar waktunya berada di lingkar dalam orbit Bumi.
Meledak di angkasa Rusia
Secara berkala asteroid -- dalam aneka ukuran -- melintasi Bumi. Meski kecil, asteroid tetap bisa membawa dampak cukup serius bagi planet kita.
Misalnya pada 15 Februari 2013. Satu asteroid dengan diameter 17 meter meledak di atas Chelyabinsk, Russia.
Baca juga:
- Chicxulub: Temuan baru ungkap kejadian setelah asteroid raksasa hantam Bumi
- Ledakan dahsyat yang merobek ruang angkasa, memunculkan rongga raksasa dan melahirkan bintang baru
- Ilmuwan mendeteksi ledakan terbesar di alam semesta sejak 'Big Bang'
Ledakannya tidak sampai menimbulkan korban jiwa, namun gelombang kejut yang dipancarkan merusak kaca-kaca jendela di enam kota yang berbeda. Selain itu, 1.500 orang harus memeriksakan diri ke dokter, untuk memastikan mereka baik-baik saja.
Yang melegakan, NASA memperkirakan dalam kurun 100 tahun ke depan, Bumi tidak akan tertabrak oleh asteroid dari dapan. Istilah ini mengacu pada asteroid yang datang dari arah Matahari.
Asteroid yang datang dari arah belakang, lebih sulit untuk dideteksi.
Pada 16 September lalu, asteroid 2021 SG, yang punya panjang 42 hingga 94 meter melintasi Bumi kita dan para saintis tak tahu sama sekali. Baru keesokan harinya, para pakar mengetahui asteroid yang datang dari arah belakang ini melintasi Bumi kita.
Meski sangat kecil kemungkinannya, tabrakan Bumi dan asteroid tetap dianggap sebagai bencana alam yang paling berbahaya.
Dampak tabrakan bisa mengubah kehidupan Bumi. Para ahli berteori, binatang raksasa dinosaurus punah setelah asteroid menghantam Bumi 65 juta tahun yang lalu.
Karena itulah astronom di seluruh dunia bekerja sama memantau pergerakan asteroid dan menghitung trajektori mereka, untuk memastikan apakah ada yang menjadi ancaman bagi keselamatan warga Bumi.
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
Terkini
-
DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH
-
Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah
-
Aksi Kamisan ke-904 Soroti Militerisasi Sipil: Impunitas Masih Berulang
-
Tim Advokasi Minta MK Batalkan Pasal Kontroversial UU TNI, Soroti Ruang Sipil dan Impunitas
-
Cueki Permintaan Trump, Presiden Lebanon Ogah Bicara dengan Benjamin Netanyahu
-
Gelar KWP Awards 2026, Ariawan: Pers dan Parlemen Wajib Kolaborasi untuk Negara
-
Mengenal Piramida Budaya Perkosaan: Dari Obrolan Digital hingga Kekerasan Nyata
-
Pentagon Panaskan Mesin Perang, Negosiasi AS-Iran Terancam Kolaps
-
Perdokjasi Dorong Prodi S2 Kedokteran Asuransi Pertama di Indonesia, Target Berdiri 2028
-
Insiden Panipahan Jadi 'Wake-Up Call', Kapolda Riau Deklarasi Perang Total Lawan Narkoba