Suara.com - BBC mendapat informasi bahwa PBB berkali-kali mengabaikan permohonan dari keluarga korban ledakan di Pelabuhan Beirut, Lebanon, yang menyebabkan 219 orang meninggal dunia pada 4 Agustus 2020. Mereka mengirim surat untuk meminta informasi guna membantu penyelidikan resmi dalam peristiwa itu.
Di antara keluarga korban yang mencari keadilan itu adalah Ariana Papazian, sebagaimana dilaporkan oleh wartawan BBC untuk Timur Tengah, Anna Foster.
Baca juga:
- Lebanon: Kehancuran dan kekacauan di Beirut dalam rangkaian foto
- Ledakan Lebanon: Teori konspirasi dan hoaks tentang penyebab dan aktor di balik ledakan 'non-nuklir terbesar dalam sejarah'
- Lebanon: Rangkaian citra satelit sebelum dan sesudah ledakan
Ketika Ariana, seorang warga Beirut, menggambarkan kematian ibunya Delia, ia menceritakannya dengan jelas dan tenang.
Ariana ingat semuanya. Suara, dan keheningan yang terjadi sesudahnya. Ia juga masih ingat bagaimana ia membelai rambut ibunya, dan kata-kata yang ia ucapkan ketika berusaha mati-matian untuk membangunkan ibunya.
Ariana baru berusia 16 tahun ketika terjadi ledakan, dan ia mencari jawaban mengapa sang ibu tercinta meninggal dunia.
"Saya merasa ibu tidak berarti apa-apa, hidup ibu saya tak ada harganya. Kesehatan saya sendiri tak punya artinya. Seperti kami bukan manusia."
Penyelidikan resmi tentang ledakan dahsyat itu seharusnya menguak kebenaran. Tetapi penyelidikan mandek.
Penyelidikan dihentikan beberapa kali karena para petinggi yang dipanggil untuk dimintai keterangan mengajukan komplain. Protes menentang ketua hakim, Tarek Bitar, sehingga menyebabkan bentrokan berakibat tujuh orang meninggal dunia.
Baca Juga: Hampir Setahun Dirawat, Pria Korban Ledakan Beirut Ini Menghembuskan Napas Terakhir
Sengketa itu memecah belah kabinet Lebanon, yang belum pernah mengadakan pertemuan selama satu bulan terakhir padahal negara itu memerlukan kepemimpinan kuat untuk bisa keluar dari krisis saat ini.
Kecaman dunia muncul terhadap kurangnya kemajuan itu. Namun organisasi yang seharusnya dapat membantu, yakni PBB, justru mengabaikan permintaan bantuan, menurut keterangan yang dihimpun PBB.
Satu pekan sesudah ledakan, PBB menyerukan "penyelidikan segera dan independen yang mewujudkan keadilan dan akuntabilitas".
Tetapi BBC mendapat informasi bahwa ketika para keluarga korban meninggal dunia meminta informasi guna membantu jalannya penyelidikan, PBB tidak membalas surat mereka.
Foto penting
Asosiasi Pengacara Beirut mewakili hampir 2.000 keluarga dan penyintas dalam penyelidikan ini. Ketuanya telah mengirimkan tiga surat berbeda yang ditujukan langsung kepada Sekjen PBB, Antonio Guterres, untuk meminta informasi khusus.
Ada dua hal yang diminta. Pertama, semua citra satelit yang dimiliki oleh anggota PBB pada hari ledakan.
Kedua, keterangan mengenai apakah Unifil (Pasukan Interim PBB di Lebanon) memeriksa MV Rhosus - kapal yang mengangkut barang yang menyebabkan ledakan - pada 2013, sebelum kapal tiba di Pelabuhan Beirut.
Peneliti organisasi Human Rights Watch di Lebanon, Aya Majzoub, menjelaskan mengapa citra satelit itu amat diperlukan.
"Sampai hari ini kami tidak tahu apa yang menyebabkan ledakan, kami tidak tahu apakah itu adalah ulah internasional, kami tidak tahu apakah ledakan disebabkan kelalain, kami tidak tahu sama sekali," jelasnya.
"Oleh karena itu, citra satelit pelabuhan pada hari itu sangat penting dalam upaya mencari jawaban atas berbagai pertanyaan mengapa terjadi ledakan."
Baca juga:
- Lebanon: Mengapa negara ini bisa terperosok dalam krisis?
- Apa itu amonium nitrat dan seberapa bahayanya?
- Ledakan 'non-nuklir terbesar' Beirut 'hancurkan separuh kota dan picu krisis kemanusiaan'
Pekan lalu Rusia mengatakan lembaga antariksa Roscosmos siap menyerahkan foto-foto dari lokasi ledakan, memenuhi permintaan Presiden Lebanon, Michel Aoun.
Surat pertama dari keluarga korban ledakan dikirim oleh Asosiasi Pengacara Beirut pada tanggal 26 Oktober 2020.
Selang tiga pekan berikutnya dikirim surat lanjutan dengan penekanan "sudah lebih dari 100 hari berlalu sejak ledakan, hingga sekarang tak satu pun anggota atau Unifil mengirim foto atau memberi informasi".
Surat ketiga tertanggal 17 Maret 2021, berbunyi: "Tujuh bulan telah berlalu sejak ledakan dan lima bulan sesudah surat kami, dan malangnya surat-surat kami tetap tidak dibalas dan tidak ditanggapi. Lebanon adalah anggota pendiri PBB dan sedang meminta bantuan."
'Kurang dukungan'
Ramzi Haykal, seorang pengacara senior di Lebanon dan anggota Asosiasi Pengacara Beirut, menyuarakan tekadnya.
"Saya beri tahu sesuatu ya, kami adalah pejuang" tegasnya. "Menurut hukum, kami adalah pejuang. Dan kami akan terus berjuang, karena kami bertanggung jawab atas 1.800 orang yang meminta kami mewakili mereka mencari keadilan."
Peneliti organisasi Human Rights Watch di Lebanon, Aya Majzoub memandang respons PBB itu tidak memadai.
"Saya yakin sekretaris jenderal dibanjiri surat dan permohonan, tetapi mengecewakan dengan kurangnya kerja sama dengan pihak berwenang Lebanon. Juga kurangnya penyelidikan internasional terhadap ledakan ini, ada banyak lagi yang dapat dilakukan oleh masyarakat internasional yang tidak dilakukannya sekarang."
Wartawan BBC untuk Timur Tengah, Anna Foster, meminta tanggapan PBB terkait surat-surat tersebut dan bertanya mengapa tak satu pun surat ditanggapi.
Kantor Sekjen PBB mengatakan organisasi dunia itu berkomitmen mendukung rakyat Lebanon dan telah memobilisasi membantu para korban.
Tetapi kantor Sekjen PBB tidak menjelaskan mengapa surat-surat itu diabaikan saja, meskipun informasi yang diminta amat diperlukan dalam penyelidikan dan dalam mengungkap kebenaran. Dikatakan kantor Sekjen PBB hanya memberikan perhatian pada surat-surat dari pejabat resmi.
Keluarga dan penyintas ledakan yakin mereka layak mendapat perlakuan lebih baik, dan juga yakin bahwa salah satu ledakan terbesar dalam sejarah itu seharusnya diselidiki sebagaimana mestinya.
Lihat juga:
Berita Terkait
-
Penalti Penentu Kevin Diks! Gladbach Akhiri Tren 7 Laga Tanpa Kemenangan
-
Buntut Perang AS vs Iran, Bandara King Abdulaziz Terbitkan Surat Peringatan Perjalanan
-
Apa yang Dimaksud dengan Fidyah? Ketahui Siapa yang Diperbolehkan dan Aturan Bayarnya
-
Review Buku Etiket Bekerja: Upaya Meningkatkan Kualitas Diri
-
Soal TKA Matematika SD Kelas 6 PDF Beserta Pembahasan dan Kunci Jawaban
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
Terkini
-
Adian Napitupulu Kecam Agresi AS-Israel ke Iran: Board of Peace atau Board of War?
-
Rencana Mediasi Prabowo di Iran Tak Realistis, Dino Patti Djalal: Itu Bunuh Diri Politik!
-
Profil Masoud Pezeshkian, Presiden Iran Berlatar Belakang Dokter Perang
-
Rusia Desak AS dan Israel Hentikan Agresi Terhadap Iran di Sidang PBB
-
Ali Khamenei Gugur, Tugas Pemimpin Tertinggi Iran Diambil Alih Dewan Sementara
-
Debat ICW: PSI dan Perindo Soroti Ketergantungan Industri Ekstraktif dan Sponsor Politik
-
Debat ICW: Desak Politisi Lepas Pengaruh Bisnis demi Cegah Konflik Kepentingan
-
Debat ICW vs Politisi Muda: Soroti Larangan Pebisnis Ekstraktif Duduk di Legislatif
-
Audiens Debat ICW Kritik Jawaban Normatif Politisi dan Desak Reformasi Antikorupsi
-
Timur Tengah Memanas, KBRI Riyadh Minta WNI Siapkan Dokumen dan Segera Lapor Diri