Suara.com - Bos perusahaan vaksin Covid-19 BioNTech berpesan kepada masyarakat agar tetap tenang meskipun muncul varian Omicron di Afrika Selatan.
Menyadur Aljazeera Rabu (1/12/2021), Ugur Sahin, pendiri BioNTech yang menemukan salah satu vaksin Covid-19, berpesan agar tetap tenang setelah munculnya varian Omicron.
Dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal (WSJ) pada Selasa (30/11/2021), Sahin mengungkapkan jika orang yang sudah disuntik vaksin Covid-19 tetap terlindungi.
"Pesan kami adalah jangan panik, rencananya tetap sama yakni percepat pemberian suntikan booster ketiga," kata Sahin kepada WSJ.
Sahin mengatakan bahwa vaksin BioNTech mRNA, telah terbukti dapat melindungi dari penyakit parah pada varian lain.
Dia mencatat bahwa sementara Omicron kemungkinan akan dapat menghindari antibodi yang dihasilkan oleh vaksin lebih baik daripada Delta, karena jumlah mutasi varian baru yang lebih tinggi, Omicron tidak mungkin dapat mengelilingi respons imun sel-T tubuh terhadap infeksi.
"Keyakinan kami [bahwa vaksin bekerja melawan Omicron] berakar pada sains: Jika virus berhasil lolos dari kekebalan, virus itu berhasil melawan antibodi, tetapi ada respons kekebalan tingkat kedua yang melindungi dari penyakit parah—sel-T," katanya kepada WSJ.
Pernyataan Sahin tersebut muncul setelah CEO Moderna Stephane Bancel mengatakan bahwa kemungkinan vaksin saat ini kurang efektif melawan Omicron.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Bancel memperingatkan bahwa vaksin Covid-19 saat ini kurang efektif terhadap Omicron.
Baca Juga: Antisipasi Varian Omicron, Testing dan Tracing Penerbangan Internasional Penting Dilakukan
"Tidak ada dunia, saya pikir, di mana [keefektifannya] berada pada level yang sama … yang kami miliki pada varian Delta," katanya.
"Saya pikir itu akan menjadi penurunan materi. Saya tidak tahu berapa karena kami harus menunggu datanya," ujarnya.
Dalam wawancaranya dengan WSJ, Sahin beranggapan tidak perlu membuat vaksin yang bisa beradaptasi dengan varian Omicron, yang menurutnya membutuhkan waktu 100 hari.
"Kami memiliki rencana untuk memberikan suntikan ketiga kepada orang-orang, dan kami harus tetap berpegang pada rencana ini dan mempercepatnya," katanya.
"Apakah kita akan membutuhkan perlindungan ekstra menggunakan vaksin yang diadaptasi, ini masih harus dilihat nanti," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
7 Fakta Panas Sengketa Lahan Tanah Abang: Adu Klaim Menteri Maruarar Sirait vs Hercules
-
Deadline Seminggu, Kasatgas Tito Minta Pemda Percepat Pendataan Huntap Beserta Klasifikasinya
-
Batalyon Netzah Yehuda, Tentara Religus Israel yang Bawa Taurat saat Melakukan Kekejaman
-
Padahal Dijaga Ketat, Kapal Tanker Berhasil Tembus Blokade Ketat Militer AS di Selat Hormuz
-
Update Muktamar NU 2026: Jadwal, Lokasi, dan Teka-teki Calon Ketua Umum
-
KontraS Ungkap Sejumlah Kejanggalan Kasus Andrie Yunus, Soroti Dugaan Impunitas
-
Hotel Burj Al Arab Dubai Tutup Total Selama 18 Bulan, Dampak Serangan Drone Iran
-
Mengapa Donald Trump Unggah Foto Dirinya Mirip Yesus?
-
Iran Sebar Video AI Yesus Pukul Kepala Donald Trump Sampai Jatuh ke 'Neraka'
-
8 Fakta Serangan Donald Trump ke Paus Leo XIV yang Tak Henti-Henti