Suara.com - Ahli virus yang pertama kali menemukan Omicron, Wolfgang Preiser, kepada DW mengatakan tentang peningkatan pesat kasus COVID-19. Dia memprediksi banyak orang akan terinfeksi varian baru tersebut.
Ahli virologi Afrika Selatan, Wolfgang Preiser, yang pertama kali menemukan varian Omicron, memperingatkan sifat virus tersebut yang sangat menular dalam sebuah wawancara dengan DW pada hari Kamis (30/12).
"Dengan varian ini, tidak mungkin untuk lolos dari infeksi," kata Preiser kepada DW.
Ahli virologi itu "sangat optimis" dengan penurunan drastis dalam jumlah kasus yang terdeteksi di Afrika Selatan, salah satu negara yang pertama kali dilanda varian Omicron.
"Mungkin Omicron sedikit kurang ganas dari strain sebelumnya," kata Preiser.
"Namun, kami masih melihat ada pasien meninggal karenanya," dia memperingatkan.
'Mustahil' lolos dari infeksi Omicron
Varian Omicron pertama kali ditemukan pada November lalu dan sejak saat itu memecahkan rekor jumlah infeksi di beberapa negara Eropa, termasuk Prancis di mana infeksi harian melampaui 200.000 kasus.
Laporan awal tentang varian tersebut menunjukkan bahwa Omicron memiliki efek yang lebih ringan daripada varian virus lainnya, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa lonjakan kasus dapat dengan mudah membanjiri layanan kesehatan.
Baca Juga: 5 Fakta Terbaru Tentang Varian Omicron: Risiko Penularan Lokal Hingga Gejala Khusus
"Ini bukan pertanyaan tentang virus flu biasa, mungkin bergerak ke arah itu dan bisa menjadi kabar baik," jelas Preiser.
"Namun, kabar buruknya adalah bahwa dengan varian ini hampir tidak mungkin untuk lolos dari infeksi," tambahnya.
"Kami telah melihat seberapa cepat penyebarannya dan seberapa cepat jumlahnya meningkat,” kata ahli virologi itu, seraya memperingatkan bahwa banyak pasien tidak menunjukkan gejala dan masih dapat membawa dan menularkan penyakit.
"Saya akan mengatakan bahwa selama beberapa bulan ke depan, mayoritas penduduk akan mendapatkannya (terinfeksi Omicron)," katanya kepada DW.
Mengikuti contoh Afrika Selatan Peningkatan kasus tajam yang terjadi di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat, sama seperti yang terjadi di Afrika Selatan, kata Preiser, tetapi peningkatan kasus ini tidak disertai dengan meningkatkannya jumlah rawat inap.
"Kami sangat khawatir selama perayaan Natal, karena dimulai pada akhir November di sini, kami kemudian mencatat jumlah kasus parah yang dirawat di rumah sakit," kata Preiser kepada DW.
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Nasdem Tolak Usulan Pilkada Tanpa Wakil, Ingatkan Risiko Konsentrasi Kekuasaan
-
Pemerintah Kebut MBG di Daerah 3T, Target Papua hingga Maluku Tuntas Pekan Ini
-
4 Awak Terluka dalam Serangan Terhadap Kapal di Laut Hitam
-
Wapres AS: Ada Orang Iran yang Radikal Ingin Perang Berlanjut
-
Raja Juli Antoni dari Partai Apa? Ini Rekam Jejaknya di Politik
-
Pemerintah Izinkan Pesantren Kelola Dapur MBG, Syaratnya Minimal 1.000 Santri
-
Dugaan Pelibatan Anak dalam Promosi Vape, DPR Minta Aparat Hukum Mengusut secara Tuntas
-
3 Contoh Teks Protokol Upacara Bendera 17 Agustus di Sekolah Lengkap
-
Jutaan Buku Dihancurkan, AI Bertambah Pintar: Haruskah Kita Merayakannya?
-
Pesantren Kini Bisa Bangun Dapur MBG Sendiri, Ini Syaratnya