Suara.com - Pasokan makanan bagi narapidana di penjara utama di Liberia makin menipis. Hal ini mengungkapkan kondisi mengerikan yang telah lama terjadi di penjara negara itu.
Kurangnya jatah makanan ini berdampak terhadap 15 penjara di negara tersebut, memaksa dua di antaranya harus berhenti menerima narapidana baru.
Hal ini diketahui setelah dua hari sebelumnya seorang dermawan lokal dan badan amal badan amal turun tangan untuk menutupi kekurangan pasokan makanan bagi narapidana. Namun, persoalan yang lebih umum yaitu jumlah narapidana yang melebihi kapasitas penjara dan minimnya anggaran - belum teratasi.
Di Penjara Pusat Monrovia, yang menghadap ke Samudra Atlantik, sebanyak 1.400 orang berdesakan di dalam ruang penjara yang semestinya ditempati kurang dari 400 orang.
Bagian luar dinding penjara ini telah dirombak berwarna abu-abu cerah--bisa menyesatkan siapa pun yang melewatinya karena menganggap kecerahan juga terjadi di dalamnya.
Dalam kesempatan yang langka saat seremoni pembukaan pondok kunjungan yang baru, sekelompok narapidana melampiaskan rasa frustasi mereka menyusul krisis makanan di dalam penjara, kepada wartawan.
Seorang narapidana kasus pemerkosaan yang sedang menjalani masa tahanan di tahun ketiga, berbisik berulang kali saat menjelaskan bagaimana ia frustasi karena kekurangan makanan.
"Pemerintah hanya memberi kami satu piring nasi setiap hari; sekali sehari," katanya.
Saat ia bicara, puluhan narapidana lainnya ikut mengangguk; kemarahan dan frustasi terpancar dari wajah mereka.
Baca Juga: Nekat Curi Spare Part Kapal Asing Liberia, 2 Perompak di Dumai Diciduk
Pria yang bertanggung jawab atas Pejara Pusat Monrovia, Varney G Lake, mengakui bahwa kepadatan penjara saja sudah merupakan "pelanggaran hak asasi manusia".
Dia juga mengeluhkan infrastruktur yang buruk, dan persoalan fasilitas yang kurang terpelihara, seperti diungkapkan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar lokal, FrontPage Africa.
Saat kekurangan makanan melanda, Upjit Singh Sachdeva, seorang pengusaha terkenal di Monrovia, ikut menyumbang makanan. Ia segera bergegas ke penjara dengan jatah makanan darurat untuk menenangkan kecemasan narapidana di dalam penjara.
Pria yang dikenal dengan nama "Jeety", mengatakan kepada BBC bahwa sumbangannya itu "dimaksudkan untuk membantu proses transformasi narapidana".
Selain itu, dalam keyakinan agamanya terdapat prinsip "ketika kamu punya makanan, berbagilah dengan yang lain".
Tindakannya ini kemudian diikuti oleh kelompok advokasi, Prison Fellowship Liberia yang menyumbang beras dan dan minyak.
Di sisi lain, untuk jangka panjang, pihak berwenang tak bisa terus bergantung dari amal untuk mempertahankan layanan di penjara.
'Semua penjara kami sudah usang'
Direktur lapas nasional Liberia, Rev S Sainleseh Kwaidah, mengkonfirmasi bahwa kekurangan makanan yang layak bagi tahanan, merupakan satu dari banyak persoalan yang ia hadapi.
Dia menuding kekurangan tersebut akibat keterlambatan anggaran dari pemerintah yang semestinya disalurkan setiap bulan.
Contohnya, anggaran yang semestinya digunakan untuk membeli makanan pada September, baru cair setelah Desember.
Akibatnya, para pengawas penjara harus "pinjam uang ke sana ke sini," untuk memberi makan narapidana.
Salah satu masalahnya, kata Rev Kwaidah, anggaran makanan narapidana tersebut dijadikan dalam satu item yaitu "kebutuhan dasar penjara".
"Anggaran ini juga meliputi makanan, akomodasi, pengobatan, operasional, perawatan, perbaikan yang rusak-rusak"
"Semua penjara yang ada di negara ini sekarang sudah usang, termasuk Penjara Pusat Monrovia; semua butuh perbaikan," tambahnya, dengan nada tinggi.
Dia juga menyoroti kekurangan fasilitas medis dan kelayakan seragam bagi narapidana maupun sipir penjara.
Seragam penjara terakhir kali dipasok oleh PBB lebih dari 10 tahun lalu.
Dan, tidak ada kendaraan dan bahan bakar untuk mengantar para narapidana.
"Sejauh ini, kami memindahkan para tahanan ke banyak penjara menggunakan 'kek-keh' [kendaraan roda tiga]," katanya. Tak ada pintunya, jadi tidak layak digunakan sebagai transportasi tahanan.
Kendaraan dari PBB yang ditinggalkan saat misi perdamaian di sini sudah lebih dari enam tahun lalu "sudah terbakar dan rusak".
Menteri Hukum, Frank Musa Dean yang bertanggung jawab atas sistem pidana, mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah menyadari persoalan-persoalan ini, karena telah disorot dalam audit resmi.
Tapi ia tak punya rencana perbaikan jangka pendek.
"Kami percaya bahwa legislatif akan mengalokasikan dana dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengatasinya," katanya.
Kesempatan untuk rehabilitasi
Pada 2011, pemerintah menyusun rencana 10 tahun untuk mengembangkan fasilitas, dan Dean mengatakan, meskipun ini "sedang dilaksanakan... ada tantangannya" termasuk kenyataan bahwa jumlah narapidana meningkat dua kali lipat.
Juga, di negara ini di mana banyak orang masih kelaparan, kemungkinan tak banyak yang simpati terhadap para narapidana. Bagaimana pun, sistem pidana semestinya menerapkan konsep rehabilitasi di samping pemenjaraan.
Dalam sejumlah kasus, para tahanan dimanfaatkan untuk membantu dalam pembangunan infrastruktur, dengan keterampilan baru yang bisa membantunya ketika bebas dari penjara.
Sebuah proyek terbaru di Pusat Penjara Monrovia mempekerjakan para tahanan untuk membangun pondok pengunjung di dalam kompleks penjara.
Dengan menggunakan seragam biru tua yang disumbang dari badan amal Unity Alliance Incorporated, mereka diizinkan untuk berkumpul di luar sel mereka untuk membangun pondok pengunjung.
Para tahanan memberi sinyalemen kepada BBC, bahwa mereka semestinya diberikan kesempatan kedua.
Jonathan, 37 tahun, yang terlibat dalam kasus pembunuhan, sudah mendekam selama delapan tahun di penjara. Ia mengaku senang karena bisa mengambil bagian dari pekerjaan untuk melakukan renovasi.
Dia mengaku bahwa ia "adalah orang yang kejam di luar penjara, tapi saya bekerja dan pikiran saya sekarang berubah.
"Saya duduk, melihat dan menyesali tindakan saya, saya meminta pengampunan kepada Tuhan terlebih dahulu dan mencoba berbicara pada orang-orang yang pernah saya sakiti."
"Dan saat Tuhan menjawab, segala sesuatu bergerak ke arah sana." Tapi ketika ada perubahan besar dalam sistem penjara, Jonathan dan yang lainnya, mungkin akan menunggu lebih lama.
Berita Terkait
-
Meski Perang Berkobar Lagi, Wall Street Melenggang Naik
-
Kaposwil Safrizal ZA: Pemulihan Aceh Pasca Bencana Alami Kemajuan dan Perkembangan Dinamis
-
7 Bank Bangkrut di Indonesia pada Kuartal I 2026, Simak Daftar Terbarunya
-
Jaga Ketahanan Pangan ASEAN, Pupuk Indonesia Bentuk SEAFA Bersama Petronas dan BFI
-
Target Besar Tambang RI, Smelter Pakai 100% Energi Terbarukan
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
-
Resmi! Lurah Kalisari Dinonaktifkan Buntut Skandal Tangani Laporan di JAKI Pakai Foto AI
-
Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi
-
Serangan Brutal di Istanbul, 3 Orang Tewas di Dekat Konsulat Israel
Terkini
-
Polres Jakarta Barat Terbakar: Api Berhasil Dipadamkan dalam 30 Menit, Tak Ada Korban Jiwa
-
Buru Aliran Dana Korupsi Tambang, Kejagung Bekukan Rekening Samin Tan dan Keluarganya!
-
'Urat Malu Putus?' Viral Pria Diduga TNI Cekcok dengan Polisi Gegara Terobos Lampu Merah
-
Kaposwil Safrizal ZA: Pemulihan Aceh Pasca Bencana Alami Kemajuan dan Perkembangan Dinamis
-
Iran dan Israel Sepakati Gencatan Senjata Bersama Amerika Serikat
-
Penderitaan 21 Tahun Warga Bintaro: Akses Jalan Tersandera Pungli, DPRD Desak Pemkot Bertindak!
-
Trump Terima Proposal Damai 10 Poin Iran Sambil Ancam Gunakan Kekuatan Destruktif Jika Gagal Total
-
Pepesan Kosong Ancaman Donald Trump ke Iran: 3 Kali Ultimatum, 3 Kali Ditunda
-
Iran Tegaskan Kekuatan Penuh Jika Amerika Salah Langkah Selama Masa Gencatan Senjata
-
Akal Bulus Pengoplos Gas Cileungsi: Pakai 'Mata-Mata' HT, Ibu-Ibu Jadi Tameng, hingga Trik Es Batu!