Suara.com - Konflik antara Rusia dan Ukraina mempengaruhi pasar Asia, seperti menurunnya indeks Nikkei Jepang, HSI Hong Kong, hingga Shanghai Composite China. Sebaliknya, dolar, emas, dan harga minyak meroket tajam.
Pasar saham Asia jatuh dan harga minyak melonjak hampir $100 per barel pada Kamis (24/02), setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melancarkan operasi militer di Ukraina.
Benchmark pasar di Tokyo dan Seoul turun 2%, sedangkan Hong Kong dan Sydney kehilangan lebih dari 3%.
"Reli bantuan dengan cepat berbalik arah,” kata Jeffrey Halley dari Oanda dalam sebuah laporan "ekuitas menurun di Asia.”
Indeks Nikkei 225 (N225) Jepang turun 2,2% menjadi 25.855,04, Hang Seng (HSI) Hong Kong turun 3,1% menjadi 22.925,60, dan Shanghai Composite China bergerak turun 0,9% pada 3.458,12.
Ekonomi Asia menghadapi risiko yang lebih rendah daripada Eropa, tetapi mereka yang membutuhkan minyak impor mungkin akan dikenai harga yang lebih tinggi jika pasokan dari Rusia, produsen terbesar ketiga, terganggu, kata analis.
Harga minyak melonjak saat Rusia invasi Ukraina Saham global dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat turun pada hari Kamis (24/02).
Sementara itu, dolar, emas, dan harga minyak meroket tajam di saat pasukan Rusia menembakkan rudal ke beberapa kota di Ukraina dan mendaratkan pasukan di pantai selatannya.
Euro Stoxx 50 dan DAX Jerman berjangka turun lebih dari 3,5 persen di awal transaksi, sementara FTSE berjangka merosot 2 persen lebih rendah. Bursa Moskow mengumumkan penangguhan semua perdagangan pada hari ini (24/02).
Baca Juga: Negaranya Invasi Ukraina, Petenis Rusia Medvedev Dukung Perdamaian
"Pasar selalu mencoba untuk menilai apakah (Rusia) akan berhenti di Donbass, dan terlihat cukup jelas bahwa mereka bergerak menuju Kiev, yang selalu menjadi salah satu skenario terburuk, karena kami sekarang memiliki malam yang panjang di depan kami untuk mencoba memahami betapa buruknya situasi ini dan sanksi apa yang diberikan, karena harus ada putaran sanksi baru terhadap Putin dan pemerintah Rusia," kata Chris Weston, Kepala Penelitian di Pepperstone.
"Di situlah kasus terburuk atau skenario "bear case" untuk pasar, dan itulah yang kami lihat. Tidak ada pembeli di sini untuk mengambil risiko, dan ada banyak penjual di luar sana, jadi pasar ini terpukul sangat keras," tambahnya.
Arus perdagangan Rusia bergeser ke Cina Amerika Serikat siap untuk melepaskan serangkaian sanksi yang lebih luas terhadap Rusia.
Namun, sejauh ini AS dan sekutunya belum pernah mencoba untuk memotong ekonomi senilai $1,5 triliun dari perdagangan global, dan tidak jelas seberapa besar tekanan yang bahkan dapat diberikan sanksi Barat terhadap Moskow.
Tinjauan terhadap data perdagangan Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa sejak sanksi yang lebih rendah dijatuhkan pada tahun 2014 setelah Rusia mencaplok Krimea, Cina hadir sebagai tujuan ekspor terbesarnya.
Sanksi baru dapat mendorong Moskow untuk mencoba memperluas hubungan perdagangan dengan Beijing dalam upaya untuk menghindari pembatasan, kata Harry Broadman, mantan negosiator perdagangan AS dan pejabat Bank Dunia.
Berita Terkait
-
Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik
-
Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar
-
3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan
-
Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan