"Ada setidaknya 300 sampai 400 anak menunggu diadopsi setiap tahunnya, menurut data adopsi di Taiwan," ujar Li.
"Namun hanya 200 sampai 300 anak yang berhasil diadopsi, jadi bisa dibayangkan setiap tahunnya ada 100 anak yang tidak menemukan keluarga adopsi yang cocok."
Menurutnya, sangatlah penting untuk bisa mendukung anak-anak yang perlu diadopsi dan mencari cara agar setiap anak bisa menemukan keluarga yang cocok.
Bisa mengasuh anak karena istri masih ada hubungan darah
Li Yi-Qi dan Tu Wei-Ling sudah hidup bersama selama hampir 10 tahun dan segera menikah ketika pernikahan sesama jenis disahkan.
Anak mereka, Jian Li-Xuan dan Jian Jia-Ying adalah anak dari pernikahan Wei-Ling yang sebelumnya dan kini duduk di bangku kelas 11 dan 10.
Karena Wei-Ling memiliki hubungan darah dengan anaknya, istrinya, Yi-Qi bisa mengajukan hak asuh secara hukum.
Namun karena prosesnya rumit dan kedua anaknya sudah hampir dewasa, mereka tidak berencana untuk menempuh jalur tersebut.
Kedua anak mereka memanggil Yi-Qi dengan nama panggilannya "Qi-Qi".
Bagi mereka, keluarga ada bukan karena ada-tidaknya ayah dan ibu, melainkan jika setiap anggota keluarga menyayangi, saling mendengarkan, dan percaya satu sama lain.
Baca Juga: Jadi Sorotan, Kisah Pasangan Sesama Jenis yang Hamil Anak di saat Bersamaan
Jia-Ying mengatakan keluarga mereka merasa keluarga LGBT "lebih banyak kekuatannya daripada kelemahan".
"Tentu saja awalnya dianggap buruk, tapi saat kita punya identitas diri yang kuat, besarnya perhatian dunia pada keluarga kami bisa jadi spesial," ujarnya.
Yi-Qi mengatakan tanpa mempedulikan apakah pasangan yang membesarkan sama jenis atau tidak, orangtua harus mengajarkan anaknya untuk mencintai diri sendiri dan memiliki pola pikir sehat.
Seruan mengubah aturan
Lembaga Advokasi Hak Keluarga LGBT Taiwan mengajukan tiga tuntutan utama dalam forum yang diadakan Dewan Pembangunan Nasional tahun lalu.
Platform ini memberikan kesempatan kepada publik untuk memberikan masukan atas undang-undang yang nantinya akan diusulkan.
Tuntutan pertama adalah bagaimana Undang-Undang Reproduksi Berbantuan, yang melindungi hak dan kepentingan pasangan tidak subur melalui inseminasi buatan, harus mencakup pasangan sesama jenis.
Yang kedua adalah amandemen RUU adopsi non-biologis, dan yang ketiga adalah bahwa subsidi untuk bantuan reproduksi dan tunjangan pengasuhan anak di bawah paket kesejahteraan sosial harus mencakup pasangan sesama jenis.
ABC telah menghubungi Administrasi Promosi Kesehatan Taiwan di Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan untuk memberikan komentar tetapi tidak menerima tanggapan.
Pada Agustus tahun lalu, kementerian tersebut mengatakan pihaknya terus berkonsultasi dengan para ahli tentang rancangan undang-undang untuk mengubah Undang-Undang Reproduksi Berbantuan.
"Semua lapisan masyarakat memiliki pendapat positif dan negatif tentang reproduksi buatan dan masalah sewa rahim, sehingga sulit untuk mencapai konsensus," katanya.
Li dari Advokasi Hak Keluarga LGBT Taiwan mengatakan bahwa LSM tersebut telah bekerja sama dengan pemerintah menyusun proposal penelitian untuk amandemen Undang-Undang Reproduksi Berbantuan.
Amandemen RUU adopsi non-biologis yang diusulkan dalam Legislatif Yuan oleh LSM bekerja sama dengan legislator telah melalui tahap pembacaan pertama pada Desember 2020.
Tzung-Han mengatakan penambahan pasangan sesama jenis dalam Undang-Undang Reproduksi Berbantuan akan menguntungkan orang-orang seperti dia karena berarti bisa memiliki anak dari negaranya sendiri.
"Keluarga LGBT secara inheren berbeda dengan keluarga lain, tapi inti ingin punya anak dan bisa mencintai anak itu sama," katanya.
Tzung-Han masih tidak percaya sebentar lagi dirinya akan menjadi ayah.
"Ketika anak itu lahir, kami akan terbang ke AS untuk menjemput anak itu. Saya berencana untuk membawa ibu saya dan menjalani proses ini bersama-sama," katanya.
"Harapan ke depan adalah saya berharap anak saya dapat tumbuh dalam cinta dan kemudian tumbuh seperti dirinya.
"Saya berjanji tidak akan menjadi ayah yang sangat mengontrol."
Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris
Berita Terkait
-
Kaesang Incar Suara Jateng untuk PSI, Ganjar: Orang Nyalon Kok Nantang
-
Mengupas Chand Mera Dil: Akting Menawan Ananya Panday di Tengah Alur yang Bertele-tele
-
Vinicius Junior Prioritaskan Bertahan di Real Madrid, Arsenal Terancam Gagal?
-
Manchester United Dekati Tchouameni, Madrid Siap Jual 68 Juta Poundsterling
-
Link CPNS 2026 Viral, Publik Diminta Waspada Penipuan Modus Menyamar Ala BKN
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular