Ketika perbatasan Australia dibuka, ia mengambil risiko untuk terbang ke pusat kota Ukraina akhir Desember lalu, dengan pemahaman bahwa Rusia bisa menyerang kapan pun.
Ia mengatakan "bisa gila" kalau tidak bersama dengan keluarganya di Ukraina ketika perang berlangsung.
"Kami merasa lebih baik bersama dengan keluarga di masa-masa sulit karena saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di Australia saat perang terjadi di Ukraina," ujar Natalia.
Natalia tinggal di sebuah kota dekat Dnipro, yang menurutnya cukup aman.
Ia mengatakan terus berhubungan dengan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia yang telah menyuruhnya untuk meninggalkan kota tersebut.
Namun, meninggalkan keluarganya adalah keputusan yang sulit.
"Kami senang mendengar mereka [DFAT] memikirkan kami dan ingin kami meninggalkan tempat ini, tapi pada akhirnya, kami tahu tinggal bersama keluarga lebih baik karena ada saudara lain juga."
'Saya tidak mungkin meninggalkannya sendirian di sini'
Mary Ushakova menetap di Ukraina untuk menjaga ibunya yang berusia 70 tahun, yang tidak dapat bepergian jauh karena kondisi kesehatan dan umurnya.
"Ibu saya sudah tua dan semakin tua seseorang, semakin sulit juga bagi mereka untuk beraktivitas di rumah ... saya tidak mungkin meninggalkannya sendirian di sini," ujarnya.
Baca Juga: Apa Itu Senjata Kimia dan Mungkinkah Rusia Menggunakannya di Ukraina?
Ayah Mary adalah orang Rusia sementara ibunya orang Ukraina. Ia mengatakan krisis identitas terus terjadi di rumahnya di Mykolaiv, kota di selatan Ukraina dekat Laut Hitam yang sebagian besar warganya berbahasa Rusia.
Ia mengatakan sebelum perang terjadi, 90 persen warga kota berbicara bahasa Rusia "namun semakin banyak orang berbicara bahasa Ukraina".
Meski Rusia sudah mengepung banyak kota dan serangan udara terus terjadi, para warga masih dibekali harapan.
"Orang-orang lumayan optimistis. Maksud saya ... seoptimistis mungkin di situasi seperti ini," katanya.
"Semua orang yakin Ukraina akan menang ... kami bukan dan tidak akan pernah menjadi bagian dari Rusia bagaimana pun caranya."
'Banyak warga yang tinggal dan membantu'
Dmytrii Yemet yang berusia 20 tahun meninggalkan Kyiv untuk tinggal bersama kakek dan neneknya di Cherkasy, kota di pusat Ukraina, di mana ia menjadi sukarelawan.
"Saya dan kakek saya membuat banyak daging kaleng untuk pengungsi dan tentara," katanya.
"Saya juga membantu membuat jaring untuk membantu tentara bersembunyi, penghalang jalan, [dan] karung pasir."
Menurutnya, sebagian kecil orang meninggalkan Ukraina, namun sebagian besar tetap tinggal dan membantu para tentara [dengan] cara yang berbeda.
"Semua orang saling membantu, banyak yang menjadi sukarelawan, semua orang siap untuk membela kota kami," katanya.
"Saya ingin membantu membela negara kami, kebudayaan, juga sejarah kami."
"Rusia pernah melakukan genosida di Ukraina pada tahun 1930-an dan saya tidak mau ini terjadi lagi," katanya, merujuk pada peristiwa kelaparan yang dikenal dengan nama Holodomor, yang disebabkan kebijakan Josef Stalin.
"Kini Ukraina timur dan barat akhirnya bersatu, kami melupakan perselisihan yang terjadi dan bersama-sama menghadapi musuh."
Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris
Berita Terkait
-
Di Balik Gemerlap Podium, Nasib Atlet Indonesia Masih Terkatung-katung
-
7 Poin Penting di Balik Tuntutan Soal BBM dan Program MBG
-
Nanik S Deyang Tunjuk Agustina Arumsari sebagai Juru Bicara BGN
-
Peran BGN Terlalu Luas, Komnas HAM Desak Revisi Perpres MBG
-
Polisi hingga DPR Kelola SPPG, Guru Ngeluh Kesulitan Mengadu soal MBG
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
7 Poin Penting di Balik Tuntutan Soal BBM dan Program MBG
-
Nanik S Deyang Tunjuk Agustina Arumsari sebagai Juru Bicara BGN
-
Peran BGN Terlalu Luas, Komnas HAM Desak Revisi Perpres MBG
-
Polisi hingga DPR Kelola SPPG, Guru Ngeluh Kesulitan Mengadu soal MBG
-
BGN Akui Motor Listrik Masih Menumpuk, Semua Aset Era Dadan Hindayana Akan Dimaksimalkan
-
Cek Langsung Penerima BSPS di Jakbar, Mendagri Dorong Pemda Perluas Dukungan Bedah Rumah lewat APBD
-
Prabowo Terima Utusan Qatar, Kerja Sama Investasi dan Pembangunan Jadi Fokus Pembahasan
-
Siapa Perwakilan Mahasiswa Demo yang Temui Gibran Hari Ini
-
Anggaran MBG 2027 Tembus Rp270 Triliun, Masih Pakai Dana Pendidikan dan Kesehatan
-
Tak Lagi Flat Rp6 Juta, BGN Ubah Aturan Insentif SPPG, Begini Skemanya