Suara.com - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan peringatan mengenai organisasi yang menjadi induk ideologi radikalisme dan terorisme. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. Ahmad Nurwakhid.
Melansir Wartaekonomi.co.id -- jaringan Suara.com, Nurwakhid mengatakan bahwa kelompok Negara Islam Indonesia (NII) merupakan salah satu gerakan politik yang patut diwaspadai. Pasalnya, NII disebut memiliki ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
"NII merupakan organisasi dan gerakan politik pertama di Indonesia yang melakukan radikalisasi gerakan politik," kata Nurwakhid dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, (30/3/2022).
"NII mengatasnamakan agama, yang sangat membahayakan kedaulatan negara. Ideologi NII merupakan induk ideologi yang menjiwai gerakan-gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia," lanjutnya.
Nurwakhid mengatakan, NII berpotensi melakukan tindakan kekerasan dan teror demi mencapai cita-citanya mendirikan negara berdasarkan syariat agama. Situasi ini tentu bertentangan dengan konsensus nasional dan menjadi ancaman kerukunan rakyat Indonesia.
Lebih lanjut, Nurwakhid menjelaskan penyebaran terorisme di Indonesia memiliki akar sejarah dan ideologi yang bisa dilacak. Salah satunya dari gerakan Kartosoewiryo melalui Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pada era-1950-an.
Gerakan tersebut telah menjadi pemberontakan yang cukup menyita perhatian pemerintah saat itu. Pasalnya, gerakan itu memiliki anggota banyak, melakukan i’dad atau pelatihan, serta memiliki pesantren sebagai sarana menanamkan doktrin anti-Pancasila.
Adapun anggota NII menurut data resmi, saat ini masih ada sekitar 2 juta. Jumlah ini belum termasuk anggota yang tidak terdata. Gerakan NII itu masih tetap eksis sampai kini, dan disebut bermetamorfosa dalam berbagai jaringan, salah satunya adalah Jamaah Islamiyah (JI).
Sebagai informasi, JI didirikan oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir pada tahun 1990-an. Organisasi itu telah ditetapkan sebagai organisasi teroris paling berbahaya dan bertanggung jawab atas kasus teror di Tanah Air.
Baca Juga: Event di Bali Mulai Semarak, Ekonomi Bakal Melaju Kencang
"JI sudah ditetapkan sebagai organisasi teroris yang paling bertanggung jawab atas serangkaian aksi terorisme di Indonesia pada awal tahun 2000," jelas Nurwakhid.
"Terbukti (JI) ingin mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi satu ke-khalifah-an yang meliputi negara-negara Asia. Dan mayoritas jemaahnya adalah eks DI/TII yang berafiliasi dengan jaringan terorisme global, Al-Qaeda," lanjutnya.
Karena itu, Nurwakhid mengingatkan agar gerakan dan ideologi NII diwaspadai. Terlebih,ideologi ini berpotensi mendorong tindakan pidana terorisme, dengan menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuannya.
Selain itu, bahaya ideologi itu terbukti telah memakan korban indoktrinasi yang tak pandang usia.
"Ideologi NII ini sangat berbahaya karena memiliki keyakinan dan keinginan mengubah ideologi negara, menggulingkan pemerintahan yang sah yang dianggap tagut, mempunyai paham takfiri, melakukan gerakan bawah tanah dengan rekrutmen dan pelatihan atau i'dad'," tandasnya.
Berita Terkait
-
Event di Bali Mulai Semarak, Ekonomi Bakal Melaju Kencang
-
Contek Yuk! Ini 5 Inspirasi Gaun untuk Tampilan Fashion Ibu Hamil Kekinian
-
MUI Tegaskan Warung Tak Perlu Tutup saat Ramadhan, Larang Aksi Sweeping
-
MUI Tegaskan Warung Makan di Bulan Ramadhan Tidak Perlu Tutup: Jangan Ada Sweeping!
-
Penghuni Tak Kuasa Menahan Tangis, Empat Rumah di Karimun Diratakan Alat Berat
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Lingkaran Setan Kekerasan di Balik Seragam: Mengapa Polisi Junior Terus Jadi Korban Senior?
-
Bareskrim Ambil Alih Pengejaran Ko Erwin, Bandar Narkoba Terkait Kasus AKBP Didik
-
WNA Australia Terinfeksi Campak Usai Kunjungi RI, Kemenkes Percepat Imunisasi MR untuk Anak PAUDTK
-
Pramono Anung Instruksikan Perluasan Akses Jalan Guna Urai Kemacetan Flyover Latumenten
-
KPK Telusuri Pemilik Lima Koper Berisi Uang Rp5 Miliar dalam Kasus Bea Cukai
-
DPRD DKI Kritik Impor 3.100 Sapi oleh Pramono Anung, Dinilai Tak Sejalan UU Pangan
-
Habib Jafar: Ramadan Momentum Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan Sekadar Kaya Materi
-
Hakim Tetapkan Kerugian Negara Kasus Korupsi Minyak Pertamina Sebesar Rp9,4 Triliun
-
Divonis 9 Tahun Penjara, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Sebut Fakta Sidang Diabaikan
-
Ancaman Nyata dari AS hingga AI: Bagaimana RI Menjaga 'Benteng' Pembangunan Nasional di 2026?