Suara.com - Desa kecil Serhiivka, di Ukraina timur, benar-benar tenang pada hari Minggu (17/04) - hampir tidak ada orang di jalanan atau di sekitar pusat desa, tempat Anda biasanya menemukan kehidupan.
Dahulu 1.500 orang tinggal di sini, sebelum invasi pasukan Rusia ke Ukraina pada bulan Februari, dan kekerasan terbaru di sekitar garis depan yang tidak jauh dari sini.
Saat ini hanya ada sekitar 300 penduduk yang tersisa, dan lebih banyak lagi yang pergi seiring Rusia kini fokus menggencarkan serangan ke Ukraina bagian timur dan selatan.
Usia populasi di Serhiivka sudah condong ke lebih tua, namun hanya sedikit anak-anak muda yang masih tinggal di sana. Ini adalah fenomena yang terlihat di desa-desa dan kota-kota di seluruh Ukraina — kaum muda pindah ke wilayah yang lebih aman sementara orang tua dan kakek-nenek mereka memilih untuk bertahan.
Baca juga:
- Mundur dari Kyiv, mengapa pasukan Rusia kini ingin rebut Donbas?
- Presiden Ukraina tuding negara Eropa yang membeli minyak Rusia 'membayarkan uang dari darah orang lain yang terbunuh'
- Kisah orang-orang Rusia yang tidak percaya kejahatan perang di Ukraina
"Saya sudah tinggal di sini sepanjang hidup saya, saya tidak akan ke mana-mana," kata Mykola Luhynets, seorang pria berusia 59 tahun yang membawa senapan dan mengenakan ban lengan pasukan pertahanan wilayah.
Luhynets mendaftar ke pasukan tersebut dan mengangkat senjata pada bulan Februari. "Saya akan tinggal di Serhiivka dan mempertahankannya jika perlu," katanya.
Di masa normal, Serhiivka adalah desa industri dan pertanian — banyak dari populasi usia kerjanya adalah petani atau staf di pabrik pengayaan batubara lokal. Desa ini dapat berada di garis tembak jika pasukan Rusia memutuskan untuk merambah ke luar Donetsk menuju kota Dnipro.
"Kami hanya memiliki tempat penampungan sederhana di sini tetapi kami telah menyiapkannya," kata Valeriy Duhelnyy, 59 tahun, kepala desa dan unit pertahanan teritorial setempat. Ia telah memegang jabatan kepala desa sejak 2020.
"Sulit bagi orang tua di sini untuk pergi," katanya. "Dan barangkali beberapa dari mereka merasa sentimental - mereka punya ikatan emosional yang lebih kuat dengan tempat tinggal mereka. Mereka tidak mau mati di mana pun kecuali di rumah."
Lebih dari dua juta orang tua di timur Ukraina berada dalam bahaya ekstrem akibat serangan Rusia, menurut badan amal HelpAge International. Ada kekhawatiran khusus di kalangan lembaga amal yang berfokus pada lansia bahwa orang-orang tua tidak mampu menghindari bahaya, atau merasa tidak mampu menghadapi kesukaran dalam pergolakan.
Beberapa sekadar tidak punya uang untuk pindah, atau tempat untuk pergi. "Saya seorang pensiunan dan saya tidak punya banyak, hanya sedikit uang pensiun," kata Rayisa Horislavets, 66 tahun, yang tinggal bersama putrinya di sebuah rumah kecil di Serhiivka.
"Saya tidak mampu menyewa apartemen di tempat yang lebih aman. Saya tidak bisa menyangkal bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi di sini, tetapi saya tidak punya pilihan lain," katanya.
"Tidak ada yang membutuhkan saya di tempat lain, jadi saya memutuskan apapun yang terjadi saya akan tinggal di sini."
Dahulu, Horislavets rutin berbicara kepada adik perempuannya, yang tinggal di sisi lain garis depan yang memisahkan wilayah yang masih dalam kendali Ukraina dengan "Republik Rakyat Donetsk" - wilayah yang memisahkan diri tempat Rusia telah menempa gerakan separatis sejak 2014.
Sambungan telepon ke saudara perempuannya putus dua minggu yang lalu, kata Horislavets. Tetapi hubungan itu sudah memburuk sebelum itu, ketika adik perempuannya mulai mengatakan bahwa dia pikir berita tentang serangan Rusia terhadap Ukraina itu palsu.
"Dia berkata kepada saya untuk tidak mempercayai apa pun yang saya lihat di media kami, bahwa Ukrainalah yang menyebabkan semua kerusakan," kata Horislavets. "Saya berkata kepadanya bahwa ada saksi, kami melihat apa yang terjadi di Kharkiv dan di tempat lain, tetapi dia tidak percaya."
Kisahnya bukan hal jarang di Ukraina timur, tempat garis depan telah memisahkan banyak keluarga dan propaganda Rusia meyakinkan banyak orang di pihak Rusia bahwa kekejaman dan serangan yang dilaporkan di media internasional adalah palsu - bahwa Ukraina adalah agresor dalam perang ini.
Sejauh ini, suasana di Serhiivka damai. Penduduk yang tersisa berharap akan tetap seperti itu, meskipun mereka mempersiapkan sebaik-baiknya untuk keadaan terburuk. Mereka telah melihat kehancuran Kharkiv di utara dan Mariupol di selatan, dan pertempuran yang alot tidak jauh dari rumah mereka di Donetsk.
Horislavets mengatakan bahwa ketika konflik dimulai, dia telah merawat adik perempuannya, yang tinggal di sana.
"Ketika hal-hal buruk datang ke rumah mereka, kami mendukung mereka," katanya. "Sekarang hal-hal buruk datang ke rumah kami, dan mereka tidak mendukung kami."
Dia ingin berbicara dengan adik perempuannya lagi. "Tentu saja, dia adalah adik perempuan saya," katanya. Tapi tidak sekarang. "Kami hanya akan berjuang."
Anna Pantyukhova berkontribusi pada laporan ini
Foto oleh Joel Gunter
Berita Terkait
-
Program Kades Masuk Kampus Resmi Ditutup, Ini Materi yang Paling Dibutuhkan
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam