Perhatian Elon Musk terkait kebebasan berpendapat
Elon Musk sudah lama memiliki hubungan benci tapi cinta dengan Twitter.
Dia adalah salah satu pengguna Twitter yang populerdengan 83 juta pengikut di seluruh dunia dan menggunakan platform iniuntuk mengumumkan berbagai langkah bisnisnya.
Baru-baru ini Elon Musk mengkritik Twitter yang berusaha membungkam kebebasan berpendapat, terutama yang menyangkut usahanya.
Apa yang dilakukan Elon Musk sebelumnya tidak disukai oleh Komisi Pemantau Keuangan Saham Amerika Serikat dan sekarang pembelian Twitter semakin menambah kekhawatiran tersebut.
Banyak taipan dunia kadang tertarik untuk menguasai media, tapi merekakebanyakan membeli media tradisional.
Pemilik Amazon, Jeff Bezos, misalnya, yangperusahaannya, Nash Holdings, menguasai media The Washington Post.
Dengan kepemilikan Twitter ini, Elon Musk akanmengurusi media yang sudah mendapatkan banyak kritikan karena membiarkan berbagai disinformasi, mulai dari politik sampai ke pandemi, memenuhi platform tersebut.
Baru-baru ini, Elon Musk telah memimpin tuntutan untuk mengurangi beberapa pembatasan yang diberlakukan sendiri oleh Twitter, sebuah perubahan yang dikhawatirkan banyak orang dapat menjadikan platform ini alat yang memengaruhi perpecahan sosial dan pergolakan politik.
Berisiko secara bisnis
Dari sisi bisnis, hal seperti itu bahkan semakin menimbulkan kekhawatiran.
Baca Juga: Pimpinan Produsen Mobil Listrik Jadi Pemilik Twitter, Elon Musk Segera Berantas Akun Palsu
Para pemasang iklan, terutama mereka yang tidak suka dengan kontroversi, mungkin akan enggan memasang iklan di Twitter, hal yang bisa semakin mempersulit neraca keuangan media sosial tersebut.
Waktu juga bisa jadi masalah. Salah satu pendiri Twitter, Jack Dorsey, baru-baru ini harus membagi waktu untuk mengurusi Twitrer dengan perusahaan barunya Block.
Diperkirakan dia tidak akan memiliki waktu cukup untuk sepenuhnya mengurusi Twitter.
Dan walau dikenal dengan berbagai pemikiran cemerlangnya, keterlibatan Elon Musk di Twitter bisa juga mempengaruhi konsentrasinya di bisnis utamanya yaitu Tesla, SpaceX danThe Boring Company.
Tesla mendapatkan penghasilan A$7,6 miliar tahun lalu setelah hanya mendapatkan penghasilan A$1 miliar padatahun sebelumnya. Pendapatan itu sudah cukup untuk menutupi kerugian di tahun-tahun sebelumya.
"
"Inilah yang membuat kita sekarang benar-benar terasa sebagai sebuah perusahaan saat ini," kata Elon Musk bulan Januari tahun 2022.
Berita Terkait
-
Jaringan PMI Ilegal ke Malaysia Terbongkar, 68 Orang Berhasil Diselamatkan
-
Resmi Disahkan! Panduan Lengkap UU PPRT: Apa yang Berubah bagi Majikan dan Pekerja?
-
BP Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara
-
Singgung Kasus Rocky Gerung, Todung Tak Yakin Saiful Mujani Berakhir di Pengadilan
-
Perintah 'Tembak Mati' Donald Trump: Selat Hormuz di Ambang Perang Terbuka!
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
Pria Yahudi Ditangkap karena Pakai Kippah Bergambar Bendera Israel dan Palestina
-
Berlabel Pupuk! Polisi Sita 1,9 Ton Sianida Asal Filipina dari Kapal yang Kandas di Gorontalo
-
Tentara Khusus AS Ditangkap Usai Skandal Tahuran Rp 6,9 Miliar dalam Penangkapan Presiden Maduro
-
Italia Respon Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026
-
Kenapa Indonesia Tidak Bisa Pungut Tarif di Selat Malaka, Akal-akalan Malaysia atau Tabrak Hukum?
-
263 Napi Risiko Tinggi Dipindah ke Nusakambangan, Terbanyak Asal Riau!
-
Wacana Tarif Purbaya, Menhan Malaysia Tegas: Tak Ada Negara Bisa Kuasai Selat Malaka!
-
Resmi Disahkan! Panduan Lengkap UU PPRT: Apa yang Berubah bagi Majikan dan Pekerja?
-
Aiptu YS Diduga Jadi Broker Proyek Rp16 M di Bekasi, IPW Desak PTDH dan Tersangka
-
'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran