- Ayatollah Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Minggu (8/3) menggantikan ayahnya yang gugur.
- Penunjukan ini merupakan respons terbuka terhadap peringatan keras sebelumnya dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
- Mojtaba dipilih berdasarkan instruksi mendiang ayahnya, yaitu memilih figur yang paling dibenci oleh pihak musuh Iran.
Suara.com - Republik Islam Iran resmi mengumumkan era kepemimpinan baru di tengah berkecamuknya perang. Pada Minggu (8/3) malam waktu setempat, sejumlah media resmi pemerintah mengumumkan penunjukan ulama Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Ia menggantikan ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin teringgi (supreme leader) dan sekaligus marja (imam rujukan tertinggi) umat Islam Syiah, yang gugur dalam serangan udara Israel di Teheran pada 28 Februari lalu.
Penunjukan Mojtaba, yang kini menjadi figur peringkat ketiga tertinggi dalam 47 tahun sejarah Republik Islam, dipandang sebagai tantangan langsung terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Hanya beberapa hari sebelumnya, Trump secara provokatif menyebut kemungkinan terpilihnya Mojtaba sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima."
Ketegangan semakin memuncak setelah Trump memberikan peringatan keras sesaat sebelum konfirmasi penunjukan tersebut.
Presiden AS itu memperingatkan bahwa pemimpin baru Iran "tidak akan bertahan lama" tanpa persetujuannya.
Sementara di lain sisi, Israel juga telah mengancam akan menghabisi "penerus mana pun" dari Rahbar Ali Khamenei, pemimpin berusia 86 tahun yang gugur pada hari pertama perang.
Pesan Perlawanan Terbuka terhadap Barat
Para pengamat politik internasional melihat langkah Teheran ini bukan sekadar suksesi biasa, melainkan pernyataan perang diplomatik.
Baca Juga: Sentuh Rp16.949 per Dolar AS, Rupiah Berpotensi Tertekan jika Konflik Timur Tengah Berlanjut
Ali Alfoneh, peneliti senior dari Arab Gulf States Institute (AGSI), menilai penunjukan putra kedua mendiang Ali Khamenei ini adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap tekanan Amerika Serikat.
Penunjukan ini merupakan "acungan jari tengah" kepada Trump dan Amerika Serikat, menurut prediksi Alfoneh.
Melalui langkah ini, rezim Islam Iran seolah mengirimkan pesan tegas kepada Gedung Putih.
"Jika anda membunuh satu Khamenei, kami akan memilih Khamenei yang lain," tegas Alfoneh merangkum sikap keras Teheran.
Seyed Mojtaba Khamenei lahir di Mashhad 56 tahun yang lalu. Sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad SAWW (Seyed), ia memiliki privilese religius yang kuat.
Meskipun begitu, sosoknya selama ini sangat tertutup. Alfoneh mencatat bahwa Mojtaba "tidak pernah memberikan wawancara...dan muncul di depan publik hanya dua kali setahun: pada parade Hari Revolusi 11 Februari, dan rapat umum Hari Quds (Yerusalem) pada Jumat terakhir Ramadan."
Berita Terkait
-
Sentuh Rp16.949 per Dolar AS, Rupiah Berpotensi Tertekan jika Konflik Timur Tengah Berlanjut
-
Tiga Kali Dikhianati? Ini Kronologi Retaknya Diplomasi ASIran
-
1.300 Warga Sipil dan Anak-anak Tewas, Ribuan Rumah Hancur Akibat Serangan AS-Israel di Iran
-
Epstein Files: Donald Trump Perkosa Anak di Bawah Umur
-
Takut Pulang ke Tanah Air, 5 Pemain Timnas Putri Iran Dikabarkan Cari Suaka di Australia
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi
-
AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional
-
Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
-
Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP
-
Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April