Suara.com - Mamalia laut yang paling terancam keberadaanya di dunia masih punya peluang untuk bertahan walaupun hanya ada sekitar 10 ekor di alam, menurut studi genetika.
Porpoise vaquita diambang kepunahan namun para ilmuwan mengatakan tes DNA menunjukkan populasi mamalia ini secara genetika masih memungkinan bertahan.
Jenis mamalia ini hanya hidup di Teluk Meksiko, California.
Namun, keberlangsungannya terancam karena ditangkap dengan menggunakan jaring besar yang dikenal sebagai gillnets atau jaring insang.
"Studi yang kami lakukan secara sangat jelas menunjukkan bahwa vaquita memiliki peluang sangat bagus untuk mencegah kepunahan, bila kita dapat melindungi dengan mencabut jaring insang dari habitat mereka," kata peneliti studi, Dr Jacqueline Robinson dari University of California, San Francisco.
Ia mengatakan tak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa vaquita akan segera punah karena sangat kecilnya populasi yang ada.
"Itu semua tergantung pilihan kita dan tindakan kita untuk memberikan vaquita, peluang untuk hidup," tambahnya.
Sebagian kalangan sudah putus asa untuk mempertahankan vaquita, dengan menyatakan walaupun spesies ini dapat dilindungi dari ancaman jaring penangkap ikan, dampak kelangsungan mereka untuk dibiakkan tersendiri sangat sulit.
Tetapi studi yang diterbitkan di Science, menyebut vaquita dapat bangkit kembali dari ambang kepunahan, bila habitanya benar-benar dilindungi.
Baca Juga: Langka dan Unik, Ini 5 Fakta Hewan Mamalia yang Berkembang Biak dengan Bertelur
"Mereka memiliki peluang tinggi untuk bertahan selama 50 tahun ke depan, bila mendapatkan perlindungan penuh," kata Dr Robinson.
Para peneliti menganalisis DNA dari vaquitayang ditangkap antara 1985-2017, yang sangat dekat spesiesnya dengan populasi yang ada sekarang. Peneliti mengembangkan model komputer untuk memprediksi bagi populasi vaquita berubah dalam 50 tahun ke depan berdasarkan temuan genetika mereka.
Spesies ini memang tercatat sangat langka dalam waktu yang cukup lama. Variasi genetika mamalia ini juga rendah sehingga risiko berkembang biak di antara mamalia yang ada juga rendah. Para peneliti percaya, penelitian ini juga menjadi pelajaran untuk mempertahankan spesies langka lain, seperti yang tinggal di pulau-pulau atau di tempat yang sulit dijangkau.
Tetapi menyelamatkan vaquita tidaklah mudah karena ketegangan antara pihak konservasi dan masyarakat lokal, serta ketegangan diplomatik karena penerapan larangan mencari ikan oleh pemerintah Meksiko.
Upaya melarang penggunaan jaring insang ditentang komunitas nelayan. Perdagangan ilegal ikan langka yang disebut totoaba juga memicu semakin langkahnya vaquita dan spesies laut lainnya yang terjerat di jaring raksasa.
Totoaba adalah salah satu makanan laut yang paling banyak dikonsumsi sebelum ditetapkan pemerintah Meksiko sebagai hewan yang nyaris punah.
Sirip ikan, organ yang membuat ikan ini mengambang, sangat dicari di China, sebagai bahan yang ampuh untuk obat, walaupun belum terbukti secara ilmiah.
Ikuti Helen di Twitter
Berita Terkait
-
Polemik PSN Papua Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata, DPD Resmi Bentuk Pansus
-
Tasya Farasya Dirumorkan Punya Pacar Baru, Sosok Pria Bernama Nadhif Jadi Sorotan
-
Kata-kata Sedih Beckham Putra Berpisah dengan Bojan Hodak: Sulit Mengucapkan Selamat Tinggal
-
Juara Premier League, David Raya Sebut Mentalitas Arsenal Meningkat Jelang Final Liga Champions
-
Potret Sisi Kelam Hiburan: Kisah 7 Artis Nekat Kabur dari Rumah, Terbaru Richelle Skornicki
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal
-
Pramono Wukuf di Arafah, Wagub Rano Karno Pimpin Jakarta Rayakan Idul Adha
-
Final dan Mengikat, Dasco Pastikan Putusan MK Soal Kuota Perempuan 30 Persen Masuk Revisi UU Pemilu
-
Mendagri Serahkan Hewan Kurban Kemendagri dan BNPP, Bentuk Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat
-
'To Kill or To Be Killed', Jaleswari Ingatkan TNI Dilatih Membunuh Bukan Urus Sawah
-
Biar Setara dengan TNI, Dasco Sebut Usulan Perpanjangan Usia Pensiun Polri Layak Dipertimbangkan
-
Ekonom Senior AMRO: Disrupsi Energi Timur Tengah 4 Kali Lebih Ngeri Dibanding Perang Rusia-Ukraina
-
Studi: Model Iklim Saat Ini Dinilai Kurang Akurat Baca Dampak Perubahan Iklim di Perkotaan, Kenapa?
-
Viral Duel Maut WNA Brunei di Blok M, Korban Tewas Setelah 10 Hari Kritis di ICU
-
Kemensos dan Kementerian PU Targetkan 93 Sekolah Rakyat Permanen Rampung Bulan Juni