Suara.com - Rusak, kotor, tapi dijual seharga US$1.850 atau sekitar Rp27 juta.
Merek mewah Balenciaga meluncurkan model sepatu sneaker Paris High Top yang disebut rusak total.
Menurut situs perusahaan itu, sepatu itu dijual dalam edisi terbatas dan tersedia dengan warna hitam dan putih. Model sepatu rusak itu juga dilengkapi dengan tulisan merek besar perusahaan fesyen itu.
Namun kreasi terbaru ini dibanjiri kritik di media sosial dengan muncul berbagai meme. Banyak yang mengejek, antara lain dengan menulis, "yang benar saja Balenciaga", "sepatu ini eksperimen untuk melihat berapa banyak orang akan membeli sampah bermerek."
https://twitter.com/imnickintl/status/1524044045059825667
https://twitter.com/MitsueTG/status/1524238984037212160
Di tengah kritikan ini, siapa perancang di balik sepatu model rusak dan kotor ini?
Perancang yang dulunya adalah pengungsi
Sepatu ini diciptakan Demna Gvasalia, direktur kreatif Belanciaga sejak 2015.
Gvasalia lahir di Georgia pada 1981 saat negara itu di bawah kekuasaan Uni Soviet. Namun pada 1993, saat ia berusia 12 tahun, ia menjadi pengungsi karena keluarganya angkat kaki dari negara itu karena perang saudara.
Baca Juga: Bingung Model Sepatu untuk Acaramu? Coba 5 Jenis Sepatu Wanita Ini!
Ia sempat kembali ke Georgia untuk kuliah ekonomi internasional Universitas Tbilisi di ibu kota negara itu.
Setelah lulus, ia melanjutkan studi di Royal Academy of Fine Arts di Antwerp, Belgia dan meraih gelar S2 di bidang fesyen pada 2006.
Baca juga:
- Konsumen Cina dipukul, fesyen mewah Balenciaga meminta maaf
- Tren pakaian yang akan populer pada 2017
- Inikah akhir dari sepatu hak tinggi?
Saat ini ia tinggal di satu kota kecil di dekat Zurich, Swiss bersama pasangannya, musisi Prancis Loïck Gomez. Gvasalia mahir dalam enam bahasa.
Pengalamannya sebagai pengungsi tertuang dalam sejumlah rancangannya. Dalam Paris Fashion Week bulan Maret lalu, Gvasalia memberikan penghargaannya kepada para pengungsi.
Ketika para model berjalan, ia membawakan puisi dalam bahasa Ukraina, yang membuatnya kembali mengenang pengalaman sulit ketika mengungsi.
"Saya menjadi pengungsi selamanya," katanya dalam satu pernyataan sebelum acara peragaan busana itu.
"Selamanya karena pengalaman itu selalu melekat pada kami. Ketakutan, rasa putus asa dan kenyataan tidak ada yang memperhatikan," tambahnya.
Dari pengungsi menjadi bintang fesyen
Ketika diangkat oleh perusahaan barang mewah itu, Kering, induk perusahaan Balenciaga dan merek lain seperti Saint Laurent dan Gucci, Gvasalia tak dikenal sama sekali.
Namanya naik ketika mendirikan Vetements, merek fesyen baju sehari-hari yang ia luncurkan dengan adiknya Guram pada 2014.
Karyanya berhasil mengangkat namanya di kalangan selebritas fesyen.
Karyanya juga membuat Balenciaga melesat perkembangannya di pasaran merek mewah.
Pada 2019, pendapatan perusahaan melebihi US$1 miliar dan ditempatkan sebagai tiga besar dalam indeks The Lyst, ranking merek dagang mewah.
Gvasalia memiliki pendukung setia kaum milenial yang mewakili sekitar 65% konsumen Balenciaga.
Berkomunikasi dengan generasi muda
Gvasalia terlihat dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya melalui media sosial.
"Generasi muda sangat tahu apa yang terjadi di sekeliling mereka. Dan saya rasa saatnya untuk bangkit," katanya kepada Financial Times.
Menurut Katy Lubin, wakil presiden Lyst, Gvasalia adalah "pakar handal fesyen" dan ia "menyaksikan sendiri produk-produk eksperimental Balenciaga yang viral".
Namun Gvasalia sendiri mengatakan ia tidak peduli seberapa banyak orang yang suka dengan produknya dan ia lebih fokus untuk mendengar "intusinya".
"Saya mencoba berkomunikasi melalui pakaian. Saya tidak aktif di Twitter atau apapun terkait itu. Saya membuat baju. Bagi saya, orang yang suka di Instagram tidak relevan dengan memproduksi produk dan kemudian melakukan riset untuk mengetahui apa yang orang suka."
Terkait produk terakhirnya ini - sepatu model rusak dan kotor - harus dilihat apakah intuisi Gvasalia tajam, dengan bukti produk ini laku keras atau malah tidak dilirik konsumen.
Berita Terkait
-
Tren 'Ugly Shoes': Balenciaga x Scholl Rilis Sepatu Nenek-Nenek Edgy
-
Koleksi Tas Branded Iris Wullur, Bikin Ketar-ketir usai Ungkap Dugaan Perselingkuhan Suami
-
Balenciaga Bikin Heboh Lagi, Jual Dasi 'Pemakaman' Hitam Rp4,7 Juta
-
Promo Balenciaga dan Gucci! Cashback Hingga Rp3,5 Juta Khusus Nasabah BRI!
-
Tengku Firmansyah Banting Setir Jadi Tukang Besi, Cindy Fatikasari Tetap Slay Bawa Tas Puluhan Juta
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
4 Anggota TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Dituntut 2,5 Tahun, Jaksa Sebut Aksi Balas Dendam
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
-
KPK Gelar OTT di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, Jadi Operasi Ke-11 Sepanjang 2026
-
Kejagung Geledah Kantor BGN, Dilakukan di Tengah Pencopotan Dadan dan Dugaan Jual Beli Titik MBG
Terkini
-
Tiket Masuk Ancol Gratis Mulai 8 Juni, Cek Ketentuannya di Sini!
-
Danantara Belum Buka Laporan Keuangan, Koalisi Sipil: Waspada Celah Korupsi Aset Negara!
-
KAI Daop 1 Jakarta: 19 Kereta Dilempari dalam 5 Bulan, Pelaku Mayoritas Remaja
-
Kasus Dugaan Jual Beli Titik MBG, Kejagung Masih Geledah Kantor BGN
-
Tanggapi Kabar Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, Dasco Ungkap DPR Sudah Lama Soroti BGN
-
Kantor BGN Digeledah dan Dadan Hindayana Dikabarkan Ditangkap Kejagung, Begini Respons Dasco
-
OTT di Jakarta Barat, KPK Amankan Kepala Imigrasi
-
Nasib Dadan Sepulang Haji: Dicopot dari Kepala BGN, Dijemput Kejagung
-
Copot Pimpinan BGN Dinilai Bukan Solusi, Program MBG Terancam Makin Karam
-
Duel Rekam Jejak Teddy Indra Wijaya vs Dino Patti Djalal, Prajurit Kopassus Lawan Diplomat LSE