Dalam kasus terakhir, setidaknya 230 makalah diterbitkan dari tahun 2000 hingga awal 2022. DW dan mitra Jermannya, CORRECTIV, Süddeutsche Zeitung, dan Deutschlandfunk, menemukan beberapa publikasi bermasalah.
Studi dilakukan dengan peneliti di Universitas Bonn dan Universitas Stuttgart, melalui organisasi bergengsi Fraunhofer di bidang-bidang seperti penelitian kuantum, kecerdasan buatan, dan visi komputer.
DW telah memutuskan untuk tidak menyebutkan judul makalah dan ilmuwan untuk melindungi individu dari retribusi di dalam dan luar negeri.
Sangat mungkin bahwa ada lebih banyak makalah yang berpotensi bermasalah dalam kumpulan data yang belum diidentifikasi seperti itu.
'Harus berusaha keras untuk tidak melihat aplikasi penggunaan ganda' Beberapa peneliti independen menegaskan bahwa penelitian yang dijelaskan dalam makalah mungkin memang memiliki - untuk berbagai tingkat - potensi aplikasi penggunaan ganda.
Dengan kata lain, penelitian ini dapat digunakan untuk tujuan sipil maupun pertahanan atau keamanan. Dalam beberapa penelitian, seperti pada pelacakan sekelompok orang, penerapannya langsung jelas.
Seseorang akan "harus melakukan upaya nyata untuk tidak melihat aplikasi penggunaan ganda di sini - Anda tidak dapat mengesampingkan bahwa itu dapat digunakan untuk melacak orang Uighur," kata seorang peneliti.
Studi ini diterbitkan bersama dengan seorang peneliti dari NUDT yang telah menerima banyak penghargaan militer sebelum dipublikasikan.
Makalah lain menyelidiki komunikasi kuantum terenkripsi. Beberapa ahli sepakat bahwa, meskipun bidang ini berada pada tahap yang sangat awal, penelitian ini pada akhirnya mungkin memiliki aplikasi penggunaan ganda yang potensial, seperti melindungi komunikasi militer dari penyadapan.
Baca Juga: Militer China Dikerahkan ke Selat Taiwan
"Pada saat yang sama, bagaimanapun, ini bisa sangat berguna misalnya untuk konfirmasi sumber terbuka dari situs rahasia oleh pemerintah yang represif dan berbagai aksi damai," lanjutnya.
"Kami memiliki masalah penggunaan ganda di mana keseimbangan risiko dan manfaat tidak jelas." Dan itu mengarah ke inti masalahnya: Aplikasi militer tidak selalu mudah dilihat dan bahkan tidak mudah diramalkan.
Drone, misalnya, dapat digunakan untuk menyemprot ladang dengan pupuk atau untuk menembak jatuh lawan di zona perang.
Alex Joske mengatakan batas antara penelitian dasar dan terapan bisa menjadi "abu-abu dan tidak jelas. Satu tahun Anda bekerja pada AI dan algoritma untuk mengkoordinasikan kelompok objek dan tahun berikutnya penelitian yang sama dapat diterapkan pada kawanan drone militer misalnya."
Di Cina, Partai Komunis yang berkuasa penuh telah mencabut semua batasan antara aspek kehidupan sipil dan militer: Apa pun dan siapa pun dapat dikomandoi untuk tujuan militer, termasuk ilmuwan. (bh/ha)
Berita Terkait
-
Wolf Girl and Black Prince: Saat Si Tsundere Kyouya Sata Menjinakkan Si Pembohong Erika
-
Kapan Idul Adha 2026? Ini Tanggal Resmi dan Prediksi Jadwal Liburnya
-
Kemenkes Libatkan NU dan Muhammadiyah, Lawan Hoaks Vaksin yang Masih Marak
-
Rekaman Mengerikan Dua Pesawat Nyaris Adu Banteng di Bandara JFK
-
Pasang Surut Rupiah Sejak 1998, Kurs Dolar Kembali Mendekati Level Krisis Moneter?
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Ekspresi Trump Lihat Bocah Nyeker dan Tidur Santai di Ruang Oval, Anak Siapa Tuh?
-
Pembatasan Masa Jabatan Ketum Parpol Dinilai Krusial Perbaiki Demokrasi
-
Israel Bersiap Lawan Iran Lagi, Menanti Restu dari AS
-
Dua Hari Berturut, Langit Kelapa Gading Tercemar Asap Kebakaran Sampah
-
Momen Saling Puji PM Thailand dengan Menlu China: Kamu Tampan, Kamu Juga!
-
DPR Murka, Debt Collector Gunakan Ambulans dan Damkar untuk Tagih Utang
-
Iran Kecam Usulan Italia Gantikan Posisi Timnas di Piala Dunia 2026: Kebangkrutan Moral
-
Tarif Rp1 Bikin Transjakarta Diserbu, Penumpang Membludak di Kampung Rambutan
-
Orang Kencing Sembarangan Makin Tak Terkendali, Walkot New York Mau Bangun Toilet Rp62 Miliar
-
Lansia 71 Tahun Gagal Putar Balik, Honda HRV Tabrak Pejalan Kaki hingga Depot Air di Jakbar!