Suara.com - Pengungsi gempa Mamuju kekurangan tenda darurat. Pengungsi itu menempati kompleks stadion di Kota Mamuju ibukota Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).
Pengungsi yang jumlahnya mencapai ribuan orang berdatangan dari berbagai arah dari kota Mamuju, kini kesulitan tenda darurat.
Ia meminta, agar Pemerintah Sulbar menurunkan bantuan tenda darurat untuk membantu para pengungsi di kompleks stadion Mamuju.
"Pemerintah di Mamuju sudah membangun tenda darurat untuk para pengungsi di kompleks stadion Mamuju, namun jumlahnya masih dianggap kurang masyarakat," kata Bupati Mamuju Sutinah Suhardi di Mamuju, Rabu kemarin.
"Kami telah meminta Pemerintah Sulbar membantu tenda darurat untuk pengungsi di stadion Mamuju, dan pemerintah di Mamuju juga telah menyiapkan fasilitas air bersih dan sarana MCK bagi pengungsi," katanya.
Masyarakat di Mamuju mengungsi setelah gempa terjadi karena khawatir terjadi gempa susulan, seperti pada saat gempa 6,2 magnitudo pada 15 Januari 2021 yang lalu.
"Masyarakat khawatir gempa susulan sehingga memilih mengungsi di daerah ketinggian dan menghindari bangunan tinggi, agar tetap merasa aman," katanya.
Sebelumnya ribuan warga dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat telah meninggalkan Kota Mamuju ke wilayah ketinggian untuk menghindari gempa susulan.
Ribuan warga Kota Mamuju tersebut panik serta berlarian membawa sanak keluarganya mengungsi pada sejumlah titik di wilayah pegunungan Kota Mamuju seperti di Stadion Manakarra Mamuju dan Kantor Bupati Mamuju.
Baca Juga: Pesisir Sulawesi Barat Kawasan Paling Aktif Terjadi Gempa Destruktif
Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis titik gempa berlokasi di laut pada jarak 26 kilometer Kota Mamuju pada kedalaman 10 kilometer, episentrum gempa berada pada koordinat 2,77 lintang selatan dan 118,56 bujur timur.
Dalam gempa tersebut membuat sejumlah bangunan Pemerintah Sulbar mengalami kerusakan ringan dan tidak ada korban jiwa. (Antara)
Berita Terkait
-
Update Gempa M 7,6: Nyaris Seribu Gempa Susulan Guncang Maluku Utara
-
Gempa Bitung 7,6 Magnitudo, Rumah hingga Kantor Pemerintah Rusak
-
Pasca - Gempa M 7,3 Sulut, PLTP Lahendong Dipastikan Tetap Stabil
-
BMKG Ungkap Deformasi Kerak Bumi Jadi Pemicu Kerusakan Gedung KONI Manado
-
Respons Gempa Sulut: Mensos Pastikan Beri Santunan Ahli Waris dan Kirim Bantuan Sesuai Kebutuhan
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
36 Jam Blokade AS, Laksamana CENTCOM Yakin Ekonomi Iran Mulai Lumpuh Perlahan
-
Pramono Tegur Keras Kasus Foto AI PPSU Kalisari: Jangan Lagi Kerja Asal Senangkan Atasan
-
SBY Soroti Risiko Ekonomi Dunia, Ekonom UMBY Ungkap Pertanda Sudah Muncul di Indonesia
-
Pusat Komando Militer: Tidak Ada Kapal yang Berhasil Melewati Blokade AS ke Pelabuhan Iran
-
Cengkeraman Iran di Selat Hormuz Makin Kuat saat Ada Blokade AS, Kenapa?
-
Blokade Selat Hormuz AS Paksa 6 Kapal Tanker Iran Putar Balik di Teluk Oman
-
Respons Arogansi AS, Iran Siapkan Metode Pertempuran Mematikan
-
Media Eropa-Asia: Jika Pesawat Perang AS Bebas di Udara Indonesia akan Ubah Peta Kekuatan Regional
-
Menaker: Pemanfaatan AI Tertinggal, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pekerja
-
BPOM Bantah Isu Penolakan Industri di Balik Aturan Label SehatTidak Sehat pada Makanan