Suara.com - Masaya Maruyama; istrinya, Junko; dan saudara laki-lakinya, Koichi; sedang duduk berteduh di belakang truk bak milik mereka seraya berulang kali meneguk soda jeruk dari botol-botol besar.
Keluarga tukang pipa ini telah bekerja memperbaiki saluran pipa di bawah sengatan sinar matahari sejak pukul 08.00 waktu setempat.
Pada pukul 11.00, suhu di lokasi tempat mereka bekerja, yaitu di Isezaki, berkisar 42 derajat celsius.
"Suhunya bahkan sempat mencapai 47 derajat celsius sore kemarin," ujar Maruyama.
Ketika ditanya bagaimana dia bisa bekerja pada suhu yang begitu terik, dia berkata: "Ini menakutkan, saya belum pernah mengalami seperti ini sebelumnya."
Mereka bertiga mengenakan jaket yang dilengkapi kipas listrik guna meniupkan udara sejuk ke sekitar tubuh mereka. Tapi tampaknya alat itu tak begitu menolong.
Baca juga:
- Galeri foto: Paris, Madrid dan beberapa kota di Eropa Barat 'dipanggang cuaca panas lebih ekstrem'
- Suhu tahunan bumi diperkirakan naik hingga 1,5 derajat Celsius selama lima tahun ke depan
- Pasokan energi menipis, warga Jepang dan Australia diminta padamkan lampu
'Aneh dan agak menakutkan'
Bagi banyak orang di Jepang, panas selama beberapa hari terakhir terasa aneh dan agak menakutkan.
Saat ini seharusnya sudah memasuki pertengahan musim hujan di negara itu.
Baca Juga: Jangan Pernah Tidur Telanjang Saat Cuaca Panas, Ini Penjelasan Ahli
Namun di seluruh Jepang, langit cerah dan suhu tertahan pada 30-an derajat celsius dan sudah dua kali menembus 40 derajat celsius pada pekan ini.
Itu hanyalah suhu yang resmi terpantau - jika beraktivitas di luar ruangan acapkali jauh lebih terasa panas.
Walaupun musim panas baru saja dimulai, 263 tempat di seluruh Jepang telah mencatat rekor suhu dalam enam hari terakhir, menurut pakar meteorologi, Sayaka Mori.
Suhu di Kota Tokyo pada Kamis (30/06) menyentuh 36,4 derajat celsius - suhu tertinggi yang pernah tercatat di ibu kota Jepang pada Juni sejak 1875.
Jepang tidak sendirian terpanggang suhu panas pada saat ini.
Tetapi yang mungkin mengejutkan adalah Jepang sedang kewalahan menjaga agar lampu dan AC tetap menyala.
Pada Selasa (28/6), ketika permintaan listrik mencapai puncaknya pada sore hari, pasokan listrik berada pada 97% dari kapasitas.
Itu artinya sudah mendekati pemadaman listrik.
Pemerintah Jepang telah meminta masyarakat agar "memadamkan" sebanyak mungkin lampu dan peralatan listrik. Tetapi pada saat yang sama, ada juga peringatan supaya warga tidak mematikan AC miliknya.
Ketakutan mereka adalah terulangnya kejadian pada 2018, yaitu ketika terakhir kali Jepang dilanda gelombang panas .
Kala itu, puluhan orang yang sebagian besar berusia lanjut meninggal dunia karena serangan panas dan lebih dari 22.000 orang dilarikan ke rumah sakit.
Untuk mencegah hal itu terulang, beberapa pemerintah daerah membuka pusat-pusat "pendinginan", di mana para lansia dapat berlindung.
'Saya bisa meninggal, jika tak hidupkan AC'
Di Distrik Sumide, bagian utara Tokyo, Kiyoji Saito yang berusia 86 tahun, sedang bermain Shogi (catur Jepang) dengan beberapa orang yang seusia dengannya.
Seperti banyak orang lanjut usia di Jepang, dia sangat tidak suka menggunakan AC.
"Saya menghabiskan tiga atau empat ribu yen [Rp332.00 - Rp442.000] per bulan untuk listrik pada tahun ini," katanya.
"Sangat menyenangkan mereka menyediakan tempat ini [lokasi pendinginan], kita bisa datang di siang hari, bertemu dan tetap rileks."
Di seberang meja, Yukimasa Nakano, 81 tahun, mengatakan bahwa dia membatasi penggunaan AC menjadi satu jam di pagi hari, dan tiga jam di malam hari.
"Selama delapan dekade saya, saya tidak pernah merasakan panas bulan Juni seperti ini," katanya.
"Saya tinggal sendiri jadi rasanya sia-sia menggunakan AC," ujar Kiyoji Saito, salah satu anggota kelompok catur.
"Tapi jika tidak menggunakan AC, saya bisa meninggal terpapar suhu panas seperti ini."
Berita Terkait
-
5 Body Lotion SPF 50 yang Bagus untuk Lindungi Kulit di Cuaca Panas
-
5 Tips Make Up Tahan Lama Seharian meski Keliling Silaturahmi di Cuaca Panas
-
DKI Siaga Cuaca Panas Ekstrem, 31 RS dan Ratusan Puskesmas Antisipasi Heat Stroke
-
Pakar Kesehatan Ingatkan Pemudik Waspadai Heat Stress dan Polusi di Jalur Mudik
-
Cuaca Panas Terik Jelang Lebaran Bikin Kulit Rentan Rusak, Ini Kunci Jaga Skin Barrier Tetap Sehat
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Militer AS Guncang, Kepala Staf Angkatan Darat Dipecat Mendadak di Tengah Perang Iran
-
Lautan Serap Energi Berlebih, Jadi Ancaman Serius bagi Pangan Global: Kenapa?
-
Pemerintah Pastikan Pemulangan Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
-
Krisis Tambak di Kaltim: Bagaimana Petambak Bisa Bertahan di Tengah Perubahan Iklim?
-
Liga Arab Siap Amankan Jalur Minyak Selat Hormuz di Dewan Keamanan PBB Besok
-
Kolaborasi Pembiayaan Hijau Kian Digenjot, Sasar Kelestarian Hutan dan Ekonomi Petani
-
Kajari Karo 'Siap Salah' di DPR, 7 Fakta Kasus Amsal Sitepu yang Divonis Bebas
-
Momen Kajari Karo Akui Salah di Depan Komisi III DPR Soal Kasus Amsal Sitepu: Siap Salah Pimpinan
-
Jadwal Pemulangan Jenazah Prajurit Indonesia Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Jumat Agung 2026 di Katedral Jakarta: Ini Jadwal Ibadah dan Lokasi Parkir Jemaat