Suara.com - Program Pembangunan PBB (UNDP) menganalisis terhadap 159 negara berkembang bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas penting tahun ini telah menjalar ke sebagian wilayah Afrika Sub-Sahara, Balkan, Asia dan lainnya. Ini membuat negara miskin mengalami krisis biaya hidup.
Akibat krisis biaya hidup itu, membuat 71 juta orang di negara-negara miskin terjerumus ke dalam kemiskinan ekstrem.
Hal itu dipaparkan Administrator UNDP Achim Steiner.
UNDP mendesak agar tindakan khusus dilakukan.
Salah satunya, UNDP berusaha mencari bantuan tunai untuk diberikan secara langsung kepada penduduk paling rentan.
UNDP juga ingin agar negara-negara yang lebih kaya dapat memperpanjang dan memperluas Inisiatif Penangguhan Layanan Utang (DSSI) yang mereka buat untuk membantu negara-negara miskin selama pandemi.
"Krisis biaya hidup ini menjerumuskan jutaan orang ke dalam kemiskinan dan bahkan kelaparan, dengan kecepatan yang menakjubkan," kata Steiner.
"Dengan (kondisi) itu, ancaman kerusuhan sosial meningkat dari hari ke hari," katanya.
Institusi semacam PBB, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional menetapkan sejumlah garis kemiskinan.
Baca Juga: 5 Perilaku yang Bisa Membuatmu Terbelenggu dalam Kemiskinan
Penduduk digolongkan sebagai orang miskin jika mereka hidup sehari-hari dengan uang kurang dari 1,90 dolar AS (sekitar Rp28.500) di negara berpendapatan rendah, 3,20 dolar di negara berpendapatan sedang paruh bawah, dan 5,50 dolar di negara berpendapatan sedang paruh atas.
"Kami memperkirakan krisis biaya hidup saat ini akan mendorong lebih dari 51 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem dengan 1,90 dolar per hari, dan 20 juta orang lainnya dengan 3,2 dolar per hari," tulis laporan itu.
Laporan itu juga memperkirakan krisis akan membuat sekitar 1,7 miliar penduduk dunia menjadi miskin.
Disebutkan pula bahwa pemberian bantuan tunai di sejumlah negara akan lebih "adil dan rendah biaya" daripada subsidi harga bahan bakar dan pangan yang lebih banyak dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas.
"Dalam jangka panjang mereka (subsidi) mendorong ketidakadilan, kian memperparah krisis iklim, dan tidak segera dirasakan dampaknya," kata Kepala Penanganan Kebijakan Strategis UNDP George Gray Molina.
Dua tahun pandemi juga telah menunjukkan bahwa negara-negara yang dilanda krisis finansial memerlukan bantuan komunitas global untuk mendanai skema ini.
"Mereka bisa melakukannya jika DSSI yang dirintis oleh G20 diperpanjang hingga dua tahun lagi dan diperluas jangkauannya agar bisa dinikmati setidaknya oleh 85 negara dari 73 negara saat ini," kata Molina. (Antara)
Berita Terkait
-
Membaca Kemiskinan di Senyum Karyamin Karya Ahmad Tohari
-
Yang Perlu Dikampanyekan Adalah Kesiapan Finansial, Bukan Penghinaan
-
2.596 Warga Klaten Dientaskan dari Kemiskinan, Siap Hidup Mandiri
-
Sekolah Rakyat: Solusi Kemiskinan atau Sekadar Program Jangka Pendek?
-
Fenomena Demo Wajan: Saat Legitimasi Kebijakan Cuma Seharga Rp100 Ribu
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bukan Kurang Bagus, Cak Imin: Brand Lokal Sulit Mendunia karena Pintu Tertutup
-
Gagal Kabur! Polisi Sikat 4 Remaja Pembawa Celurit Saat Bubarkan Tawuran di Cengkareng
-
Spesifikasi Pesawat Sukhoi Su-35 Milik Iran yang Disiapkan Oleh Rusia
-
Gunung Anak Krakatau Siaga, Badan Geologi: Isu Tsunami Hoaks, Warga Banten-Lampung Harap Tenang
-
LPDP Tambah 14 Kampus Top Dunia Khusus STEM, Ada NUS Hingga UCLA!
-
Jangan Tertipu! Video Erupsi Anak Krakatau Itu Hoaks, Ini Radius Bahaya yang Sebenarnya
-
Teror Drone Granat Sasar Pengacara di Tangsel, Pelaku Beri Pesan: Ini Baru Permulaan!
-
'Emang Kenapa Kalo Gue Tampol?' Identitas Pria Arogan di Jagakarsa Terkuak, Polisi Buru Pelaku
-
Sengketa Lahan Berujung Teror! Rumah Advokat Sulardi Dilempar Molotov, Pelaku Terekam CCTV
-
Menteri PPPA Sentil Lagu Om Zein: Pengalaman Biologis Perempuan Bukan Bahan Candaan!