- Ribuan guru madrasah swasta dan pengemudi ojol berdemonstrasi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu (20/5/2026).
- Guru menuntut pengangkatan status ASN atau PPPK, sementara pengemudi ojol mendesak pengesahan undang-undang perlindungan bagi para pengemudi.
- Polres Metro Jakarta Pusat menyiagakan 7.345 personel gabungan untuk mengamankan aksi massa agar berlangsung tertib serta kondusif.
Suara.com - Ribuan massa dari kalangan guru madrasah swasta dan pengemudi ojek online (ojol) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Rabu (20/5/2026). Aksi tersebut sempat memicu kemacetan di Jalan Gatot Subroto arah Slipi akibat massa memenuhi sebagian badan jalan.
Kelompok guru madrasah swasta yang tergabung dalam Perkumpulan Guru Madrasah Mandiri (PGMM) dan Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI) menuntut pemerintah mengangkat guru swasta dan madrasah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) melalui perubahan regulasi dalam Undang-Undang ASN.
Selain itu, mereka juga meminta pemerintah menghapus diskriminasi antara guru negeri dan swasta serta meningkatkan kesejahteraan guru. Dalam aksi tersebut, sejumlah guru mengaku hanya menerima gaji ratusan ribu rupiah meski telah mengabdi selama puluhan tahun.
Sementara itu, massa pengemudi ojol mendesak DPR RI segera mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Pengemudi Ojol. Mereka juga memprotes besaran potongan jasa aplikator yang dinilai terlalu tinggi, meminta transparansi tarif, serta menuntut jaminan sosial berupa BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang ditanggung perusahaan aplikator.
Aksi demonstrasi guru dimulai sekitar pukul 13.00 WIB, kemudian disusul massa ojol sekitar pukul 14.00 WIB. Hingga sore hari, massa mulai berangsur membubarkan diri secara kondusif meski sebagian perwakilan masih melakukan audiensi dengan pihak DPR.
Untuk mengamankan jalannya aksi, Polres Metro Jakarta Pusat menyiagakan 7.345 personel gabungan di sejumlah titik aksi dalam rangka peringatan Harkitnas.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Reynold E. P. Hutagalung, mengatakan pengamanan dilakukan secara maksimal dengan pendekatan humanis dan persuasif.
“Kami telah menyiapkan 7.345 personel untuk mengamankan jalannya aksi unjuk rasa. Pengamanan dilakukan secara profesional, humanis, dan mengedepankan upaya persuasif,” kata Reynold di Jakarta, Rabu.
Ia menegaskan pihak kepolisian menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku.
Baca Juga: Sahroni Usul Polisi Tembak Begal di Tempat: Ini Baik Sekali, Untuk Beri Rasa Aman!
“Kami menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Namun kami juga mengimbau agar peserta aksi tetap tertib, tidak anarkis, dan mematuhi aturan yang berlaku,” ujarnya.
Polisi juga menyiapkan rekayasa lalu lintas secara situasional, khususnya di sekitar kawasan DPR/MPR RI, untuk mengurai kepadatan kendaraan selama aksi berlangsung.
Selain di DPR/MPR RI, aksi peringatan Harkitnas juga berlangsung di sejumlah titik lain di Jakarta, seperti kawasan Monas oleh elemen mahasiswa BEM SI dan di depan Gedung Bawaslu.
Berita Terkait
-
Sahroni Usul Polisi Tembak Begal di Tempat: Ini Baik Sekali, Untuk Beri Rasa Aman!
-
Peringati Harkitnas, Museum Kebangkitan Nasional Suguhkan Pameran Interaktif
-
Prabowo Ungkap Pernah Dibantu Megawati saat Masih 'Luntang-Lantung'
-
Prabowo ke PDIP: Alangkah Manisnya Kalau Semua Partai di Pemerintah
-
Yakin Rupiah Menguat Usai Pidato Prabowo, Surya Paloh: Selain Optimisme Apalagi yang Kita Punya?
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif
-
Siapa yang Menentukan Audit BPK di 3 Daerah Sumsel? Ini yang Kini Didalami KPK
-
Minta Praperadilan Febrie Ditolak, Kejagung: Tak Ada Duplikasi Penetapan Tersangka
-
Yuk Nonton Maestro Tenor Andrea Bocelli di Borobudur, Pertemuan Mahakarya Dunia dan Warisan Budaya
-
PDIP Kirim Kapal Rumah Sakit ke Flores, Hasto: Bantu Korban Tanpa Lihat Pilihan Politik
-
Bantu Korban Gempa NTT, Pemprov DKI Kumpulkan Donasi Rp5,8 Miliar
-
Beredar Kabar OTT di Kabupaten Bogor, KPK: Kami Akan Sampaikan Kepada Publik Secara Transparan