News / Internasional
Jum'at, 28 Oktober 2022 | 13:36 WIB
Perempuan dan anak-anak asal Kobane, Suriah, yang mengungsi setelah desa mereka dikuasai ISIS. [Procyk Radek / Shutterstock.com]

Kebanyakan perempuan Australia di kamp tersebut sudah berada di Suriah sejak 2014 dan berpindah-pindah di sekitar area pengungsian sejak kejatuhan Khalifah di tahun 2019.

Ini adalah periode panjang yang menurut Mohamed meninggalkan bekas luka.

"Mereka perlu melupakan pikiran soal kematian. Mengajarkan anak mereka tentang apa yang benar. Menyekolahkan mereka sehingga bisa belajar, bukan hanya pelajaran sekolah namun tapi soal kebaikan bukan membunuh," kata Mohamed.

Saudara perempuan Mohamed, Mira, telah membantu keluarganya sejak tiba di Australia, selain menolong mereka yang mengalami gangguan psikis akibat konflik Suriah.

Ia mengatakan kembalinya perempuan-perempuan yang pernah punya hubungan dengan IS cukup kompleks bagi komunitasnya.

"Sejujurnya, ini situasi yang rumit. Saya tidak bisa menjawab setuju atau tidak," katanya.

"Saya prihatin melihat kondisi mereka, para perempuan ini ... tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi, saya mengerti kalau kita harus memberi mereka kesempatan. Tapi di waktu yang sama, tidak ada jaminan kami aman."

Mark Nolan dari Pusat Hukum dan Keadilan mengatakan perintah untuk Polisi Federal Australia mengawasi mereka yang pulang "seperti sebuah persyaratan".

"Para perempuan ini telah menyetujui perintah untuk dikontol," katanya.

Baca Juga: ISIS Mengaku Bertanggung Jawab atas Serangan di Kuil Syiah di Iran yang Tewaskan 15 Orang

"Ini bisa berarti mereka dipasang alat pelacak, dan diawasi rutin seperti halnya hukuman bebas bersyarat, dan pengawasan penggunaan media sosial mereka."

Ia mengatakan jika mereka melanggar dari pengawasan ini, maka bisa diancam lima tahun penjara.

Perempuan sebagai korban dan pelaku

Organisasi Save the Children Australia mengatakan situasi di kamp Roj membuat anak-anak berisiko mengalami luka parah atau bahkan meninggal.

"Warga Australia pasti terkejut mendengar kondisi anak-anak Australia yang menderiita selama tiga tahun terakhir," kata Mat Tinkler, CEO Save the Children Australia.

"Mereka tinggal di tenda yang tidak ada penghangat, terkena dinginnya musim dingin dan teriknya musim panas, dengan terbatasnya makanan bergizi, dan penderitaan akibat luka yang tidak diobati dan kesehatan mental yang terganggu."

Peneliti dari Charles Sturt University di Canberra, Kiriloi Ingram mengatakan sikap para perempuan yang menjadi korban juga bisa membahayakan.

Dr Kiriloi, yang juga mempelajari radikalisasi perempuan barat oleh IS, mengatakan dengan menjadi ibu, para perempuan punya peran penting saat IS menjalankan misinya.

"Bahkan jika perempuan ini tidak ikut berperang, tidak ikut bertarung secara fisik, ada peran untuk mendukung, seperti yang diharapkan [kelompok IS]," ujarnya.

"Mereka mendukung kelompok kejahatan. Dan kebanyakan dari peran ini juga berkontribusi terhadap genosida populasi Yazidi."

Sikap pemerintah

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri Claire O'Neil mengatakan: "Prioritas utama pemerintahan Albanese adalah memberikan perlindungan bagi kepentingan nasional Australia, sesuai nasihat ahli keamanan nasional."

Di tahun 2019, pemerintah Australia di bawah PM Scott Morrison memulangkan delapan anak dan cucu militan ISIS yang tewas.

Sementara Jerman sudah memulangkan lebih dari 90 warganya, termasuk menjatuhkan hukuman bagi seorang perempuan yang berperan dalam perbudakan dan pelecehan seorang perempuan Yazidi.

Prancis sudah menjemput 86 warganya, sementara Amerika Serikat memulangkan 27 warga dan mendakwa 10 di antaranya dengan pelanggaran terkait terorisme.

Kazakhstan sudah mengembalikan lebih dari 600 warga negaranya, menurut PBB.

Keluarga para perempuan Australia yang akan dipulangkan tidak memberikan komentar, tapi mengatakan mereka terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah.

"Keluarga ini sangat senang dengan masa depan putri dan cucu mereka kembali ke rumah dan terbuka untuk bekerja dengan pemerintah ... untuk membantu memfasilitasi kepulangan," kata juru bicara keluarga.

Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris

Load More