Suara.com - Wiyono, ayah Vera Puspita Ayu, korban meninggal Tragedi Kanjuruhan mendatangi kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Kedatangannya guna menagih janji Presiden Joko Widodo menuntaskan peristiwa yang mengakibatkan putrinya dan 134 orang lainnya meninggal.
Pernyataan itu disampaikannya usai melakukan audiensi dengan komisioner Komnas HAM, Kamis (17/11/2022).
"Kami mau menagih janjinya Bapak Kepala Negara kita, yaitu Bapak Presiden Ir Joko Widodo yang mengatakan bahwa ini harus diusut tuntas," tegas Wiyono.
Dia juga dengan tegas meminta, agar semua pihak tidak berupaya untuk menutupi kasus ini.
"Tidak ada yang ditutup-tutupi. Itu saja yang saya sampaikan," ujarnya.
Wiyono tidak datang sendiri ke kantor Komnas HAM. Dia bersama puluhan keluarga korban dan korban Kanjuruhan.
Selain untuk menagih janji Jokowi, mereka juga meminta Komnas HAM, menetapkan Tragedi Kanjuruhan sebagai pelanggaran HAM.
Seperti yang diungkap Tim Gabungan Aremania yang juga Sekjen Federasi KontraS, Andy Irfan.
Salah satu hal yang bisa disebut sebagai pelanggaran HAM berat ialah genosida atau pembantaian brutal serta sistematis terhadap kelompok.
Baca Juga: Jokowi Canangkan Hilirisasi Industri, Sektor ICT Bisa?
Andy berpendapat kalau pihak kepolisian melakukan hal serupa.
"Peristiwa di Kanjuruhan di 1 Oktober itu ada 6 menit yang mematikan," kata Andy.
Dia bilang selama enam menit anggota Brimob mengeluarkan 45 tembakan gas air mata yang diarahkan ke tribun Stadion Kanjuruhan.
"Ada tanggung jawab komando di situ yang sangat teroganisir dengan jelas bahwa Brimob melakukan serangan itu bukan secara impulsif tapi sistematis," tuturnya.
Andy juga mengungkap temuan lain, korban meninggal bukan di pintu yang jadi lokasi desak-desakan.
"Kami menemukan bahwa puluhan orang meninggal di tempat di tribun bukan berdesak-desakan di pintu," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
- 5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan untuk Ojol, RAM 8 GB dan Baterai Awet
Pilihan
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
-
Dompet Menjerit Jelang Ramadan, Petani Tak Nikmati Harga Pangan yang Melambung Tinggi
-
Merayap dalam Senyap, Kenaikan Harga Pangan Semakin Mencekik Rakyat Kecil
Terkini
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Klaim Sukses di Banyuwangi, Luhut Umumkan Digitalisasi Bansos Diperluas ke 40 Daerah
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Polisi Sebut Habib Bahar Ikut Lakukan Pemukulan di Kasus Penganiayaan Banser
-
Riza Chalid Diburu Interpol, Kerry Andrianto: Ayah Tak Tahu Apa-apa
-
Uji Coba Digitalisasi Bansos di Banyuwangi Diklaim Sukses, Angka Salah Sasaran Turun Drastis
-
Tak Sendiri, Habib Bahar Ternyata Tersangka Keempat Kasus Penganiayaan Banser!
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
-
Waspada Tren 'Whip Pink, Kepala BNN Singgung Risiko Kematian: Secara Regulasi Belum Masuk Narkotika