Suara.com - Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDIP, Masinton Pasaribu menilai pernyataan Bupati Meranti Muhammad Adil tidak pantas diucapkan, mengingat posisinya sebagai seorang pejabat negara.
Masinton menanggapi pernyataan Muhammad Adil yang menyebutkan akan pindah ke Malaysia karena kekecewaannya pada Dana Bagi Hasil (DBH) migas Rp10 triliun yang diambil pemerintah pusat.
Mengutip Wartaekonomi.co.id -- jaringan Suara.com, Masinton menilai bahwa M Adil sudah seharusnya menghormati tatanan dasar bernegara. Terlebih, Adil menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Meranti.
Menurutnya, pernyataan yang dilontarkan Bupati Meranti itu mengandung ancaman yang berpotensi melanggar sumpah janji jabatan.
Masinton menilai, Muhammad Adil mesti menghormati tatanan dasar bernegara, mengingat posisinya sebagai Bupati di Kabupaten Meranti. Dia menilai, pernyataan Bupati Meranti tersebut mengandung ancaman yang berpotensi melanggar sumpah janji jabatan.
"Sebagai pejabat negara yang bertugas di daerah dan sebagai kepala daerah juga harus menghormati tatanan dasar bernegara," kata Masinton di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (12/12/2022).
Lebih lanjut, Masinton menyatakan bahwa pejabat negara tidak boleh mengeluarkan kalimat dengan unsur ancaman untuk bergabung dengan negara lain.
"Bicara tentang NKRI, nggak boleh pejabat negara mengeluarkan kalimat, apalagi ancaman untuk bergabung dengan negara lain. Itu sangat tidak etis bahkan cenderung melanggar sumpah janji jabatan yang mendasar," lanjutnya.
Lanjut Masinton, seharusnya Muhammad Adil bisa menyerap aspirasi masyarakat tanpa berupaua untuk merusak tatanan dasar bernegara dengan mengeluarkan ancaman akan bergabung dengan negara lain.
"Sekencang apapun perjuangkanlah itu aspirasi daerah, tapi jangan merusak tatanan dasar bernegara kita atau sistem negara kita, yaitu NKRI," tegasnya.
Masinton juga menyebut, Muhammad Adil bisa kembali menghitung ulang pengalokasian DBH. Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah sudah sangat objektif dalam hal DBH migas di Meranti.
Berita Terkait
-
Bupati Meranti Ancam Angkat Senjata Hingga Pindah ke Malaysia karena DBH Migas, DPR: Nggak akan Terwujud
-
Mengenal Apa Itu Dana Bagi Hasil, Pemicu Bupati Meranti Sebut Kemenkeu Iblis
-
Memanas! Staf Sri Mulyani Meradang Usai Bupati Meranti Sebut Kemenkeu Berisi Iblis
-
Staf Sri Mulyani Tuduh Bupati Meranti Manipulatif Usai Sebut Kemenkeu Iblis
-
Minta Persentase DBH Migas Dibkin Masuk Akal, Jokowi Didesak Tanggapi Serius Aksi Protes Bupati Meranti
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Ade Armando Resmi Keluar dari PSI, Pengamat Sebut Demi Selamatkan Citra Partai
-
Mensos Gus Ipul Sambangi KPK Besok, Minta Nasihat Terkait Pengadaan Sekolah Rakyat yang Disorot
-
Gelandang Botafogo Danilo Incar Satu Slot Timnas Brasil di Piala Dunia 2026: Banyak Pemain Top
-
Sidang Kasus Andrie Yunus, Eks Kepala BAIS: Intelijen Itu Alat Negara, Bukan Alat Emosi
-
Menkes Budi Waspadai Hantavirus Masuk Indonesia, Rapid Test hingga PCR Disiapkan
-
Akan Disampaikan di Forum Dunia, 3 Poin tentang Kekerasan Anak yang Tak Bisa Lagi Diabaikan
-
Militer AS Punya Program Lumba-Lumba Militer, Isu di Selat Hormuz Jadi Sorotan
-
Prabowo Bertolak ke Filipina Hadiri KTT Ke-48 ASEAN, Menteri Bahlil dan Seskab Teddy Ikut
-
Soal Masa Depan Wisata RI, Triawan Munaf: Tak Ada Lagi Sistem Pemesanan yang Terfragmentasi
-
Siap-Siap Ganti Gas Melon ke CNG, Apakah Bisa Pakai Kompor LPG Biasa?