Suara.com - Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno mengklaim pihaknya tetap mendukung pelaksanaan Pemilu menggunakan sistem proporsional terbuka. Ia sekaligus menjabarkan mengapa PAN ogah sistem kembali ke proporsional tertutup.
Menurut Eddy, meski kedua sistem memiliki kelemahan masing-masing, namun proporsional tertutup lebih mendorong kepada kemunduran demokrasi.
Ia berujar ruang terang dan keterbukaan dalam demokrasi justru kembali gelap dengan sistem proporsional tertutup. Sebabnya masyarakat tidak akan mengenali siapa calon anggota legislatif atau caleg yang mereka pilih. Sebaliknya, caleg tentu merasa tidak punya pertanggungjawaban kepada pemilih.
"Ini kemunduran demokrasi. Apa yang kami harapkan dari anggota legislatif yang bahkan tidak punya kedekatan personal dengan pemilihnya? Yang akan terjadi justru Aleg akan bekerja hanya untuk partai dalam kerja jangka pendek dan tidak memikirkan konstituen," kata Eddy dalam keterangan tertulis, Jumat (13/1/2023).
Berbeda misalnya, sistem proporsional terbuka yang dapat memastikan masyarakat terlibat langsung secara dekat dengan calegnya.
"Hubungannya menjadi lebih personal dan tidak dibatasi oleh struktur dan kelembagaan partai. Tidak ada ruang gelap antara caleg dan pemilih," kata Eddy.
Selain itu, Eddy menyoroti potensi semakin terbatasnya ruang untuk caleg perempuan untuk bisa terpilih dalam pemilu, apabila sistem proporsional tertutup diterapkan.
Ia mengatakan sistem proporsional tertutup justru akan menghambat upaya menambah keterwakilan perempuan 30 persen di legislatif.
"Upaya affirmative action jadi sia-sia dan demokrasi hanya dimaknai prosedural tapi kehilangan substansinya," kata Eddy.
Baca Juga: 8 Fraksi Dukung Sistem Proporsional Terbuka, PAN Minta MK Pertimbangkan Uji Materi Sistem Pemilu
Sementara itu, mengenai potensi politik uang atau money politic yang menjadi kelemahan kedua sistem, menurut Eddy perlu dicegah melalui perbaikan sistem manajemen Pemilu.
Eddy menyatakan PAN tentu berkomitmen untuk menghapus money politic dan politik transaksional.
"Sistem proporsional terbuka atau tertutup keduanya memiliki celah politik uang. Karena itu kuncinya adalah penegakan hukum yang tegas dan tanpa pandang bulu dan bukan mengubah sistem Pemilu," kata Eddy.
Berita Terkait
-
Pelatih Vietnam 'Mata-matai' Kelemahan Thailand dari Pelatih Malaysia di Final Piala AFF 2022
-
8 Fraksi DPR Tolak Pemilu Proporsional Tertutup, Bambang Pacul PDIP: Pengambilan Keputusan di 9 Hakim MK
-
'Hati dan Pikirannya Terbelah' Kegalauan Gerindra Absen di Pertemuan 8 Partai Penolak Sistem Pemilu Tertutup
-
Piala AFF 2022: Sikap Kim Pan Gon Sama dengan Shin Tae-yong Setelah Malaysia Dibantai Thailand
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Soal Ambang Batas Pemilu, PSI Tegaskan Kembali Semangat Reformasi
-
Safari Ramadan ke Ponpes di Klender, Kaesang Pangarep Didoakan Jadi Presiden
-
Demo Mahasiswa Jadi Berkah Ramadan, Pedagang Starling Raup Cuan 3 Kali Lipat
-
Lalai Awasi Kasus Hogi Minaya, Mantan Kapolresta Sleman Dicopot dari Jabatan
-
Demo Mahasiswa di Bulan Ramadan, Polisi Turunkan Tim Sholawat untuk Pengamanan
-
Polemik Akses Musala di Cluster, Pengembang Buka Suara Usai Diusir Komisi III DPR
-
Negosiasi AS-Iran Gagal! Ancaman Perang Bisa Terjadi dalam 15 Hari ke Depan
-
AS Evakuasi Staf dan Warganya dari Israel, Isu Perang dengan Iran Memanas
-
Mengurai Krisis Dokter Spesialis di Indonesia: Di Mana Letak Masalahnya?
-
Sekolah Swasta Gratis di Semarang Bertambah Jadi 133, Jangkau Lebih Banyak Siswa