Suara.com - Putra bungsu Presiden Jokowi Kaesang Pangarep menjadi sorotan setelah lantaran ingin maju menjadi Calon Wali Kota Depok. Hasrat Kaesang ingin terjun ke politik menjadi tanda Jokowi seolah ingin membangun dinasti politik sebelum lengser dari jabatan sebagai presiden.
Menanggapi itu, Analis Politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi, menilai, majunya anak hingga menantu Presiden Jokowi menjadi kepala daerah merupakan konsekuensi dari kosongannya aturan hukum. Sebab, menurutnya, selama ini tak ada larangan yang mengatur mengenai hal itu.
"Ini memang agak kontroversi ketika Kaesang menyatakan keinginan dirinya maju sebagai calon wali kota Depok. Cuma persoalannya sebagai negara hukum tentu tidak ada larangan atau aturan yang mengatur bahwa anak dari seorang pejabat politik atau istri atau saudara, enggak ada itu dalam aturan," kata Asrinaldi saat dihubungi, Rabu (5/7/2023).
Menurutnya, memang jika berpegang pada hukum positif, diperlukan adanya aturan yang melarang keluarga presiden maju sebagai pejabat atau kepala daerah.
"Tentu itu harus dituliskan dalam hukum positif undang-undang. Ini kan jadi persoalan kita," tuturnya.
"Tentu konsekuensi dari tidak ada larangannya dibenarkan. Nah persoalan Kaesang, Gibran kemudian Bobby sebagai anak dan menantu presiden yaitu hak dia sebagai warga negara. Nah kita berpegang pada itu saja. Apakah dia nanti itu membangun dinasti politik yaitu hak tanya," sambungnya.
Ia menyampaikan, majunya semua keluarga presiden menjadi kepala daerah kekinian tidak menjadi persoalan. Menurutnya, semua akan tergantung menginterprestasikannya.
"Nah apa yang dilakukan Kaesang hari ini tidak ada persoalan menurut saya. Bagaimana menurut fatsun politiknya ya tergantung pada orang menginterprestasikannya gitu," ujarnya.
"Fatsun ini kan hanya ada pada diri politisinya sendiri. Kalau dia merasa kalau memang tidak layak atau tidak baik dalam konteks fatsunnya tentu tidaj akan mengajukan diri. Tetapi kalau dia tidak merasa ada persoalan dengan fatsunnya tentu dia mengajukan dirinya," imbuhnya.
Baca Juga: PDIP: Jokowi Tak Dukung Prabowo Di Pemilu 2024
Lebih lanjut, Asrinaldi menilai, aturan tersebut sempat akan dibuat dalam Pilkada, namun tidak jadi dilakukan. Akhirnya, kata dia, akibatnya dinasti politik bisa kapan saja terjadi.
"Ya persoalannya kan kita harus sadar bahwa dalam demokrasi rule of law itu lah yang jadi pegangan. Saya masih ingat dulu ada keinginan untuk membuat itu dalam pilkada tapi kan dihapus kembali oleh DPR. Bahwa keluarga anak cucu menantu saudara itu dibenarkan, nah akibatnya seperti ini," katanya.
Adapun sisi negatifnya tidak ada larangan keluarga presiden maju menjadi kepala daerah, maka akan semakin mudah pihak-pihak memanfaatkan kekuasaan.
"Ya minusnya tentu terkait dengan semakin mudahnya orang memanfaatkan kekuasaan dari orang tua kekuasaan dari saudara. Dan artinya pengaruh yang dimainkannya bisa mendongkrak elektabilitas dari seorang calon misalnya Kaesang ya sehingga ada kesan Kaesang bukan pemimpin lahir dari kader tapi persoalan negatifnya kita lihat lah nanti memang masyarakat bisa memilih secara rasional itu penting," pungkasnya.
PDIP Bantah Jokowi Bangun Dinasti
PDI Perjuangan tidak memandang Presiden Joko Widodo atau Jokowi sedang melakukan dinasti politik lewat anak dan menantunya.
Tag
Berita Terkait
-
Setelah Kunker ke Australia, Kini Jokowi Sambangi Papua Nugini
-
PDIP: Jokowi Tak Dukung Prabowo Di Pemilu 2024
-
Punya Pengaruh Terhadap Separuh Total Pemilih di Indonesia, Pengamat Sebut Bakal Capres Sedang 'Rebutan Efek Jokowi'
-
Jokowi Banting Tulang 'Jualan' IKN: Promosi ke Warga Singapura hingga Australia
-
Kompak Kenakan Batik, Jokowi Nikmati Jamuan Makan Malam Bersama PM Australia di Sydney
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi