Suara.com - Ketua Dewan Guru Besar UI, Harkristuti Harkrisnowo menghimbau para generasi muda untuk berani melawan kepada praktik-praktik intimidasi para pesta demokrasi, Pemilu 2024.
Hal itu disampaikan Harkristuti aksi deklarasi damai yang bertepatan dengan Dies Natalis UI ke-74 di depan Gedung Rektorat UI, Jumat (2/2/2024).
Menurut Harkristuti, para generasi muda harus mengetahui bahwa negara Indonesia sudah berbenah diri dan junjung tinggi prinsip demokratis tanpa adanya praktik intimidasi dan teror ketakutan.
"Jadi kami juga ingin mengimbau, ada anak anak kami murid murid kami mahasiswa yang menjadi generasi muda, generasi z, generasi milenial dan lainnya yang juga saya kira memang mereka belum mengetahui sejarah masa lalu. Oleh sebab itu, perlu mengetahui bahwa Indonesia sudah cukup lama bebenah diri untuk menjadi negara demokratis," ungkapnya kepada awak media.
"Mereka semuanya harus melawan apabila ada upaya-upaya untuk megintimidasi," tegas Harkristuti.
Di deklarasi kebangsaan yang disampaikan oleh para Dewan Guru Besar Universitas Indonesia itu, mereka menyebut bahwa aksi tersebut memiliki kesamaan dengan petisi yang sebelumya digaungkan oleh civitias UGM dan UII.
"Dan kami juga sepakat bahwa setiap universitas harus melakukhan langkah-langkah baik secara individual maupun cara kelompok untuk bisa menjalankan dan menjamin agar ke depan ini kita memiliki pemilu yang benar-benar diinginkan oleh rakyat Indonesia," jelasnya.
"kita juga tidak mau pada tahun 2024 ini deomkrasi kita dirusak oleh perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan etika etika bernegara," tambah Harkristuti.
Isi pesan Kebangsaan Civitas Universitas Indonesia:
Baca Juga: Sosok Dwi Anggia Moderator Debat Terakhir Pilpres 2024, Sudah Malang Melintang di Media
Pesan Kebangsaan Sivitas Akademika UI
Genderang Universitas Indonesia bertalu kembali
Kampus kami adalah kampus perjuangan, yang telah melahirkan para petarung yang berdiri paling depan dalam menghadapi berbagai peristiwa berat bangsa ini.
Para pendahulu kami, bahkan telah menumpahkan darahnya, sebut saja Arif Rahman tahun 1965, Yun Hap di tahun 1998, dan tak terbilang pula mereka yang dipenjara tanpa pengadilan tahun 1974 dan 1978 karena menolak penguasa otoriter.
Sungguh pun tampak diam, seakan kami tenggelam dalam kerja-kerja akademik di ruang kelas, di ruang seminar, laboratorium, berdiam diri dalam tumpukan buku, atau menulis gagasan di ujung pena, kami tetap mewaspadai hidupnya demokrasi dan mewaspadai pula kedaulatan agar tetap di tangan rakyat.
Lima tahun terakhir, utamanya menjelang pemilu 2024 ini, kami kembali terpanggil untuk menabuh genderang, membangkitkan asa, dan memulihkan demokrasi negeri yang terkoyak.
Negeri kami tampak kehilangan kemudi akibat kecurangan dalam perebutan kuasa, nihil etika, menggerus keluhuran budaya serta kesejatian bangsa. Kami, warga dan alumni Universitas Indonesia prihatin atas hancurnya tatanan hukum dan demokrasi. Hilangnya etika bernegara dan bermasyarakat, terutama korupsi, kolusi, dan nepotisme yang telah menghancurkan kemanusiaan, dan merampas akses keadilan kepada kelompok-kelompok miskin terhadap berbagai hak yang berkaitan dengan kelayakan hidup.
Keserakahan atas nama pembangunan tanpa naskah akademik berbasis data, tanpa kewarasan akal budi dan kendali nafsu keserakahan, telah menyebabkan semakin punahnya sumberdaya alam hutan, air, kekayaan di bawah tanah dan laut, memusnahkan keanekaragaman hayati, dan hampir semua kekayaan bangsa kita.
Mereka lupa bahwa di dalam hutan, di pinggir sungai, danau dan pantai, ada orang ada manusia, ada flora dan fauna, dan keberlangsungan kebudayaan masyarakat adat, bangsa kita. Bangsa Indonesia.
Tag
Berita Terkait
-
Sosok Dwi Anggia Moderator Debat Terakhir Pilpres 2024, Sudah Malang Melintang di Media
-
Bacakan Petisi Pemilu Wajib Bebas Rasa Takut, Guru Besar UI Dapat Intimidasi via WA
-
Mahfud MD: Saya Yakin Sekarang pun Diikuti Agen Intel
-
Hukum dan Demokrasi Memburuk, Dewan Guru Besar UI Serukan Kawal Pemilu Jujur dan Adil!
-
Intip Selvi Ananda Kayak Emak-emak Pada Umumnya, Cium Gemas Ubun-ubun La Lembah
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Lautan Manusia di PRJ! Kembang Api Hiasi Langit Jakarta Sambut HUT ke-499
-
Selat Hormuz Ditutup Iran, Kesepakatan Damai dengan AS Kian Sulit Gegara Ulah Israel
-
Wamenpar Wanti-wanti Pelaku Wisata Dieng: Utamakan Keselamatan di Tengah Lonjakan Turis!
-
Malam Ini Dijemput dari RS Polri! Roy Suryo dan dr Tifa Kembali Masuk Sel Tahanan
-
SPMB Jakarta 2026 Paling Siap, Jabar Masih Dihantui Masalah Sistem dan Transparansi!
-
Sukseskan Program Presiden, Mendagri Tinjau Program BSPS di Jayapura
-
Roy Suryo dan dr Tifa Sakit Usai Ditangkap Kasus Ijazah Jokowi, Gibran: Semoga Segera Sembuh!
-
Bantah Cuma Galak ke Ojol, Dishub DKI: Mobil Pribadi Parkir Liar Banyak Kami Derek!
-
Tanpa APBD! Pramono Anung Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas, Jamin Patung Sudirman Tak Digeser
-
Buntut Kasus Sulis, Dishub DKI Janji Siapkan Parkir Khusus Ojol di Mal