News / Nasional
Jum'at, 02 Februari 2024 | 15:01 WIB
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Ham (Menkopolhukam), Mahfud MD (tengah) berswafoto dengan awak media usai menggelar konferensi pers di Kantor Kemenpolhukam, Jakarta, Kamis (1/2/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Mahfud MD mengungkap dirinya diikuti oleh agen intelijen. Hal tersebut ia ungkapkan saat melakukan perpisahan dengan pegawai Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jumat (2/2/2024).

Bahkan, Calon Wakil Presiden nomor urut 03 tersebut meyakini ada agen intelijen yang hadir dalam acara perpisahan tersebut.

“Saya tahu di berbagai lini itu sudah ada intel (agen intelijen) pasti. Sekarang pun saya yakin di antara ini ada intel juga," kata Mahfud MD.

Namun, dia juga meyakini kehadiran intelijen tersebut tidak berpengaruh apa-apa. Sebab ia memercayai semua kegawai Kemenkopolhukam bersikap netral secara politik sehingga tak akan ada intervensi.

Ia menuturkan, secara pribadi tidak ambil pusing bila diikuti agen intelijen dalam setiap kegiatan.

"Tak apa-apa kalau itu tugas negara," kata dia.

Apel pagi itu, yang digelar di pelataran Kantor Kemenko Polhukam, merupakan momen terakhir Mahfud selaku menteri koordinator bidang politik, hukum dan keamanan memberi arahan kepada jajaran pegawai dan pejabat kementerian.

“Waktu saya jadi Menhan (menteri pertahanan) dulu, intel itu adalah keperluan negara untuk melindungi negara. Oleh sebab itu, saya suka ke mana-mana kalau diikuti intel itu saya suka, dan saya merasa perlu diikuti oleh intel agar yang saya sampaikan itu terekam dengan benar,” kata Mahfud Md.

Untuk diketahui, Mahfud MD menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai Menko Polhukam kepada Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis sore (1/2).

Baca Juga: Intip Selvi Ananda Kayak Emak-emak Pada Umumnya, Cium Gemas Ubun-ubun La Lembah

Dalam surat itu, Mahfud menjelaskan kepada Jokowi alasan mundur utamanya karena dia maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Ganjar Pranowo di Pemilu 2024.

Sementara di hadapan para pegawainya, Mahfud membeberkan alasan dia memutuskan mundur meskipun aturan undang-undang memperbolehkan seorang menteri maju sebagai peserta pemilu.

Dia mengakui dia kesulitan menghindari konflik kepentingan yang kerap muncul saat dia menjalankan tugasnya sebagai Menko Polhukam.

“Ternyata sesudah menjalani, saya sibuk, terkadang terasa ada konflik kepentingan ketika saya berkunjung ke daerah sebagai menko tidak sebagai cawapres, terkadang ada saja orang berteriak bapak cawapres. Jadi, (saya) menjadi tidak enak sehingga saya ya harus berhenti berjalan-jalan atau berkunjung ke mana-mana sebagai Menko Polhukam."

Load More