Saat kafan dibuka, keluarga begitu syok. Bagaimana tidak, banyak bagian tubuh korban yang berdarah dan mengalami lebam. Wajah korban bahkan terlihat hancur. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka dan ada sundutan rokok.
Penampakan horor jenazah korban itu membuat keluarga murka. Mereka langsung melaporkan kematian BB ke kepolisian, serta menuntut pihak ponpes memberitahu kejadian sebenarnya.
Pihak Ponpes diduga lepas tangan
Pihak keluarga juga sangat marah dengan sikap pihak ponpes. Pasalnya, pihak ponpes hanya mengantarkan jenazah korban tanpa meminta maaf, ataupun menawarkan tindak lanjut sebagai penyelenggara pendidikan.
Pihak ponpes juga diduga berusaha menutupi kasus kematian BB karena masih banyak santri yang bersekolah di sana. Tak sampai di situ, pihak ponpes bahkan hanya mengatakan alasan kematian BB karena terjatuh di kamar mandi.
Ponpes ternyata tak memiliki izin
Kasus ini begitu mencuat di publik, langsung diambil alih oleh pihak Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Pihak Kemenag Jawa Timur pun mengungkap bahwa Ponpes Al Hanifiyah ternyata belum memiliki izin pesantren.
“TKP kejadian tersebut ada di Pondok Al-Hanifiyah. Tapi baik pelaku maupun korban belajarnya di MTs Sunan Kalijogo di Pondok Al-Islahiyyah. Keberadaan Ponpes Al-Hanifiyah tersebut belum memiliki izin pesantren,” ungkap Kabid Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jatim, Mohammad As’adul Anam.
Empat santri jadi tersangka
Polsek Kediri akhirnya mengusut kasus kematian santri yang diduga menjadi korban penganiayaan beberapa seniornya di Ponpes Al Hanifiyah.
Usai melakukan olah TKP, pihak Polres menangkap empat orang santri yang diduga menjadi pelaku penganiayaan terhadap BB. Mereka adalah MN (18) asal Sidoarjo, MA (18) asal Nganjuk, AF (16) asal Denpasar dan AK (17) asal Surabaya.
"Minggu malam tadi kami telah mengamankan 4 orang santri dan sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Kita juga lakukan penahanan untuk proses penyidikan lebih lanjut," ujar Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji kepada awak media, Senin (26/2/2024).
Ibu korban minta bantuan Hotman Paris
Sebagai ibu, Suyanti berusaha memperjuangkan keadilan atas kematian putranya. Ia pun meminta bantuan tim pengacara kondang Hotman Paris untuk mengusut kasus ini.
"Saya membutuhkan pendamping yang benar-benar membela anak saya untuk menguak kebenaran tentang proses hukum yang seadil-adilnya. Saya meminta beliau bapak Hotman untuk mendampingi," ungkap Suyanti pada Selasa (27/2/2024).
Berita Terkait
-
Profil Ponpes Al Hanifiyyah Kediri, TKP Santri Tewas Gegara Dianiaya Ternyata Tak Punya Izin Operasional
-
Jelang Hadapi Persik Kediri, Rahmad Darmawan Minta Pemain Barito Putera Jangan Emosian
-
Banyak Luka Sundutan Rokok, Ini Deretan Kejanggalan Kematian Santri Asal Banyuwangi di Ponpes Kediri
-
4 Pasal 'Menjerat' Pelaku Penganiayaan Ponpes, Siap-Siap Lama Dipenjara!
-
Keluarga Terlambat Menjemput, Bintang Balqis Tewas Dianiaya Senior: Kesal Sama Emaknya!
Terpopuler
Pilihan
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
Terkini
-
Soroti Kematian Bocah SD di NTT, Hasto PDIP: Bangunlah Jiwanya, Tapi Anak Tak Bisa Beli Pena
-
Gus Ipul Ajak Para Kades Tindaklanjuti Arahan Presiden Kawal Data Kemiskinan
-
Wajah Ridwan Kamil Dicopot dari Underpass Depok, Ikon 'Jabar Juara' Akan Diganti Tokoh Lokal?
-
Kapolda Aceh ke Anggota: Jadilah Lilin, Walau Hancur Tetap Menerangi Sekitar
-
Dapat Restu Prabowo, Gedung Bekas Kedubes Inggris di Bundaran HI Disiapkan Jadi Pusat Lembaga Umat
-
Sentil Upaya Pembungkaman, Hasto: Jangan Takut Suarakan Kebenaran Demi Kemanusiaan
-
PAN Beri Sinyal Dukung Prabowo Dua Periode, Zulhas: Realisasikan Program 5 Tahun Nggak Cukup
-
KPAI Ingatkan Bahaya Grooming Berkedok Konten, Desak RUU Pengasuhan Anak Segera Disahkan!
-
Wabup Klaten Benny Wafat di Usia 33 Tahun, Sudaryono: Kepergiannya Kehilangan Besar Bagi Gerindra
-
Wamendagri Wiyagus Tekankan Sinergi Daerah Sukseskan MBG dan Kopdeskel Merah Putih