Suara.com - Pengadilan Banding menjatuhkan hukuman mati kepada enam mantan mahasiswa Universitas Pertahanan Nasional (UPNM) atas pembunuhan taruna Angkatan Laut Zulfarhan Osman Zulkarnain yang terjadi tujuh tahun lalu di Malaysia.
Majelis hakim yang beranggotakan tiga orang, terdiri dari Datuk Hadhariah Syed Ismail, Mohamed Zaini Mazlan, dan Datuk Azmi Ariffin, dengan suara bulat memutuskan untuk mengizinkan banding jaksa penuntut untuk menerapkan kembali dakwaan berdasarkan Bagian 302 KUHP, mengesampingkan hukuman penjara 18 tahun sebelumnya, lapor New Straits Times.
Pada tahun 2017, lima dari enam narapidana awalnya didakwa berdasarkan Pasal 302 KUHP atas pembunuhan, sementara satu orang lainnya didakwa berdasarkan Pasal 109 undang-undang yang sama karena bersekongkol dalam pembunuhan tersebut.
Namun, pada tahun 2021, Pengadilan Tinggi mengubah dakwaan menjadi Pasal 304(a) KUHP atas kesalahan pembunuhan yang tidak termasuk pembunuhan dan menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara kepada mereka.
Dalam persidangan hari ini, 23 Juli, Hadhariah menyatakan dia setuju dengan penuntutan, dan menyatakan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh enam orang tersebut "tidak hanya mengejutkan hati nurani peradilan tetapi juga hati nurani kolektif masyarakat", lapor The Star.
“Kasus ini merupakan kasus paling langka yang melibatkan kejahatan keji. Kekejaman seperti ini harus dihentikan,” tambahnya.
Hadhariah menghabiskan waktu tiga jam membaca putusan setebal 93 halaman tersebut, sebelum menjatuhkan hukuman mati kepada Muhammad Akmal Zuhairi Azmal, Muhammad Azamuddin Mad Sofi, Muhammad Najib Mohd Razi, Muhammad Afif Najmudin Azahat, Mohamad Shobirin Sabri, dan Abdoul Hakeem Mohd Ali.
Keenam narapidana tersebut kini berusia 28 tahun.
Orang tua Zulfarhan, Zulkarnain Idros dan Hawa Osman, terlihat berdoa dan menangis di luar ruang sidang usai putusan dibacakan.
Baca Juga: Awas Timnas Indonesia Bisa Ketiban Sial saat Malaysia Menggila di Piala AFF U-19 2024
Dua bulan lalu, jaksa menuntut hukuman mati bagi enam terpidana untuk membuat masyarakat jera dan menyoroti penolakan terhadap penindasan dan pelecehan.
Wakil Jaksa Penuntut Umum K Mangai berargumen bahwa Zulfarhan mengalami 90 luka bakar yang menutupi 80% tubuhnya, dan menggambarkan penyiksaan yang dilakukan para terpidana sebagai tindakan ekstrem, lapor FMT.
Dia juga mengatakan kepada pengadilan bahwa luka bakar yang menyengat adalah penyebab kematiannya.
Zulfarhan meninggal pada 1 Juni 2017 setelah diikat, dipukuli, dan dibakar dengan setrika uap selama berhari-hari.
Para narapidana menyiksanya dengan dalih bahwa dia telah mencuri salah satu laptop mereka. Namun dugaan laptop hasil curian tidak pernah ditemukan di tangan Zulfarhan.
Kematian Zulfarhan menarik perhatian nasional setelah terungkap banyak teman-temannya yang terlibat dalam perundungan dan pelecehan terhadapnya.
Selain enam terpidana mati karena pembunuhan, 12 mantan mahasiswa UPNM juga divonis tiga tahun penjara karena sengaja melukai Zulfarhan untuk memaksa pengakuan bahwa ia telah mencuri laptop tersebut, lapor The Star.
Berita Terkait
-
Piala AFF U-19: Usai Libas Fase Grup, Siapa Lawan Timnas Indonesia di Semifinal?
-
6 Siswa Sekolah Militer Malaysia Dihukum Mati Karena Penganiayaan Kadet Hingga Tewas
-
Dede Akui Beri Keterangan Palsu Di Kasus Vina Cirebon, Rela Dipenjara Gantikan 7 Terpidana
-
Viral! Pria Diduga ODGJ Mandi Tanpa Busana di Air Terjun Kuala Lumpur, Netizen Berdebat
-
Awas Timnas Indonesia Bisa Ketiban Sial saat Malaysia Menggila di Piala AFF U-19 2024
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian