Suara.com - Pakar Hukum Tata Negara Mahfud MD menyoroti kondisi apabila semua partai politik bergabung ke dalam pemerintahan alias tidak ada oposisi atau yang berada di luar pemerintah. Menurutnya persoalan demokrasi sekarang sudah lebih dari itu.
"Nah persoalannya sekarang ini, sudah lama demokrasi kita itu dianggap bergeser dari demokrasi menjadi oligarki," kata Mahfud saat mengisi kuliah umum di Fakultas Hukum UGM, Rabu (14/8/2024).
Oligarki itu menjadi sistem yang tidak baik untuk sekarang ini. Memang yang memilih adalah rakyat namun penentuannya sebenarnya sekelompok kecil orang atau pemilik-pemilik modal dan elite politik yang diperalat oleh pemilik modal.
"Tapi sekarang lebih jelek lagi, bukan oligarki, sekarang sudah berubah menjadi kartelisasi. Partai bergabung, lalu politik ini dibagi-bagi gitu, itu kartelisasi namanya, itu lebih jelek lagi," ucapnya.
"Di samping itu sebelum itu, oligarki dan kartelisasi itu bernapaskan kleptokrasi atau pencurian terhadap kekayaan negara oleh para oligark ini," sambungnya.
Meminjam tulisan Buya Syafii Maarif, kleptokrasi itu, disebutkan Mahfud, sebagai bentuk dari negara pencuri. Di sana pejabat-pejabat berkolusi untuk mencuri kekayaan negara.
"Membackingi kejahatan agar dia dapat bagian, itu kleptokrasi namanya. Sehingga orang yang mau mencuri bergabung di situ semua," ucapnya.
Sebenarnya, Mahfud bilang negara tanpa partai oposisi pun tidak masalah. Asalkan semua dapat memposisikan dirinya secara benar.
"Tidak harus oposisi, kalau baik dukung kalau ndak ya tolak, itu namanya kerja sama. Kalau oposisi itu kalau sana ini, saya bikin lain itu namanya opisisi. Kalau tidak oposisi ya seperti dulu lah konsepnya. Demokrasi itu ya baik-baikan ajalah, kalau enggak baik kita lawan, ndak ada yang membela, kalau baik kita dukung sama-sama," tandasnya.
Baca Juga: Kisah Para Penjaga Surga Bawah Laut di Pulau Bunaken: Kerja Nyata UGM dan Inovasi Batok Kelapa
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Minta Maaf ke Publik, Kapolri: Anggota Cederai Keadilan Akan Kami Tindak Tegas!
-
Polisi Tahan Ayah dan Anak Penganiaya Tetangga di Cengkareng, Terancam 7 Tahun Penjara
-
Ugal-ugalan dan Lawan Arus, Mobil Calya Diamuk Massa di Gunung Sahari
-
Golkar Dukung Langkah Sufmi Dasco Tunda Impor 105 Ribu Mobil Niaga India
-
Pasca-kecelakaan Beruntun, DPRD DKI Minta Transjakarta Evaluasi Penempatan Depot dan Jam Kerja Sopir
-
Sulap Kawasan Padat Jadi Destinasi Kuliner, Pemprov DKI Dukung Gentengisasi Menteng Tenggulun
-
Kemensos Gelar Operasi Katarak Gratis di Bekasi
-
Jelang Mudik Lebaran, Kapolri Minta Jajaran Maksimalkan Pengamanan Nasional
-
Polisi Turun Tangan Dalami Kasus Relawan Diteror Bangkai Anjing Tanpa Kepala di Aceh Tamiang
-
Adian Napitupulu Murka Ketua BEM UGM Diteror: Ini Kemunduran Demokrasi!