Suara.com - Selama 10 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, sebagian besar warga menilai kerap terjadi pelanggaran konstitusi dan perundang-undangan yang dilakukan pemerintah. Tak hanya itu, sebagian besar warga mengaku takut berbicara politik selama 10 tahun Jokowi berkuasa.
Fakta tersebut terungkap dalam hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada periode 4 Oktober 2024 hingga 11 Oktober 2024.
"Dalam 10 tahun pemerintahan Jokowi, tingkat ketakutan bicara politik melonjak dari 22% menjadi 51%, ketakutan terhadap kesewenang-wenangan aparat naik dari 32% menjadi 51%," ungkap Pendiri SMRC, Saiful Mujani, Rabu (16/10/2024).
Dalam pemaparannya, Saiful Mujani menyoroti tren peningkatan ketakutan publik terhadap kebebasan berpendapat dan perilaku represif aparat penegak hukum.
Temuan survei juga menunjukkan bahwa persepsi pelanggaran konstitusi oleh pemerintah meningkat dari 40% pada awal Pemerintahan Jokowi menjadi 52% pada 2024.
Ia juga menilai bahwa gejala ini sebagai bentuk proses otokratisasi, atau pergeseran Indonesia menuju sistem yang lebih otoriter. Fenomena ini paling dirasakan oleh warga dengan pendidikan SLTP ke atas.
Dalam rincian data survei, 51 persen warga berpendidikan tinggi menyatakan masyarakat kini takut bicara politik, berbanding 43 persen dari kalangan berpendidikan SD.
"Dari kelompok lulusan perguruan tinggi, 58 persen merasa pemerintah sering mengabaikan konstitusi, sedangkan dari kalangan lulusan SD, angkanya hanya 40 persen," ujarnya.
Kualitas Demokrasi Turun
Tak hanya itu, ia juga menyatakan data tersebut menunjukkan adanya penurunan kualitas demokrasi di Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi.
"Demokrasi yang hampir terkonsolidasi sebelum Presiden Jokowi memimpin, kini mengalami kemerosotan menuju otoritarianisme, terutama dalam lima tahun terakhir," paparnya.
Lebih lanjut, Saiful mengutip laporan V-Dem yang mengindikasikan memburuknya berbagai aspek demokrasi di Indonesia, seperti indeks demokrasi elektoral dan perlindungan hak-hak sipil.
Pada 2004, indeks demokrasi elektoral Indonesia berada di angka 0,7 (skala 0-1), stabil di era Susilo Bambang Yudhoyono dengan 0,67 pada 2014, namun menurun menjadi 0,54 pada 2023 di era Jokowi.
Bahkan, skor komponen liberal juga terus merosot dari 0,53 pada 2004, menjadi 0,36 pada 2024.
"Indonesia sedang mengalami otokratisasi, sebuah kemunduran demokrasi yang nyata," pungkas Saiful.
Berita Terkait
-
Rocky Gerung Kritisi Data Kepuasan Publik ke Jokowi yang Meningkat 75 Persen, Netizen: Survei di Family 100 Kali
-
Istana Apresiasi Survei Indikator Politik Soal Kepuasan Kinerja Jokowi: Bukti Kepercayaan Masyarakat
-
Indeks Kepuasan Haji 2024 Naik Jadi 88,20, Alvara: Tak Ada Alasan Sebut Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Gagal
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Dituduh Gembong Narkoba, 4 Orang Tewas Dirudal Militer AS di Perairan Pasifik
-
Seksisme Bukan Candaan! Kemendukbangga Sentil Kasus Pelecehan di Grup Chat Mahasiswa FHUI
-
Alasan Hizbullah Boikot Pertemuan Diplomatik Lebanon-Israel di Washington
-
Kasus Wanita Linglung Dilepas Polisi, Propam Turun Tangan Periksa Anggota Polsek Pasar Minggu
-
Makassar Ubah Sampah Jadi Listrik, Bisa Jadi Solusi Krisis Sampah?
-
Asal Bapak Senang! Pete Hegseth Dituding Sesatkan Donald Trump soal Perang Iran
-
Baru Bertemu Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Perang AS Pete Hegseth Dihantam Isu Diskriminasi
-
Blokade Selat Hormuz Oleh Amerika Serikat Picu Protes China, Dinilai Memperburuk Krisis Timur Tengah
-
Italia Tangguhkan Perjanjian Pertahanan dengan Israel, Ini Penyebabnya
-
BPKP Bongkar Borok Proyek Chromebook: Negara Rugi Rp2,1 Triliun, Ini Rinciannya