Suara.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi buka suara mengenai kasus meninggalnya balita di Tambun, Kabupaten Bekasi, karena menjadi korban kekerasan. Dari kasus tersebut, Arifah menyebutkan kalau pemerintah maupun masyarakat belum berhasil mewujudkan lingkungan yang aman bagi anak.
“Kami tentu sangat prihatin dan berduka cita atas meninggalnya anak korban di tangan orangtua kandungnya. Apapun alasan dan kondisinya sangat tidak dibenarkan orangtua yang semestinya memberikan perlindungan bagi anak malah menyiksa dan mengakhiri hidup anaknya sendiri," kata Arifah dalam keterangannya, Rabu (15/1/2025).
Terkait penanganan kasus tersebut, Kemen PPPA berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Bekasi dan Polda Metro Jaya untuk mengawal proses penanganan kasus.
Arifah menekankan, fungsi keluarga sebagai komunitas terdekat anak harus bisa memberikan perlindungan dari segala bentuk kekerasan. Salah satu faktor yang mungkin dapat menjadi penyebab belum optimalnya peran keluarga dalam perlindungan anak, yaitu situasi rentan yang dihadapi keluarga, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun budaya sehingga dapat menimbulkan kompleksitas, tekanan, dan perilaku berisiko pada orang tua yang berdampak negaif bagi anak.
“Selain itu, ketimpangan relasi kuasa di dalam keluarga, khususnya antara orangtua dan anak, juga dapat menjadi faktor lain terjadinya kekerasan terhadap anak. Oleh karena itu, kami mengingatkan kepada seluruh masyarakat, khususnya para orangtua untuk senantiasa mengupayakan pengasuhan dan komunikasi yang positif dan terbuka antar keluarga, baik antara orangtua dengan anak maupun antar pasangan," pesan Arifah.
Menurutnya, kesiapan orangtua untuk menerima kehadiran anak dalam kehidupan mereka juga menjadi landasan penting. Sehingga nantinya dapat memberikan pengasuhan yang baik bagi anak di dalam keluarga.
Arifah juga meminta kepada masyarakat untuk bersama-sama saling menjaga dan memberikan perlindungan bagi anak di lingkungan terdekat.
"Kasus ini membuktikan peran masyarakat sebagai lingkungan sosial tempat anak bertumbuh dan berkembang memiliki andil besar dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak," ucapnya.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Wira Satya Triputra menerangkan motif pembunuhan anak kandung itu dilatarbelakangi rasa kesal karena korban muntah di teras minimarket sehingga kedua tersangka, yang merupakan orangtua kandung, mendapat teguran dari karyawan minimarket.
Lebih lanjut, Kombes Pol Wira menceritakan kronologi kejadian, mulai dari penyiksaan hingga pembuangan jasad anak korban dan pelarian kedua pelaku hingga akhirnya berhasil ditangkap di daerah Karawang.
Berita Terkait
-
Sadis! Nanang Gimbal Tikam Aktor Sandy Permana di Kepala, Leher, dan Perut!
-
Detik-detik Penangkapan Nanang Gimbal, Pembunuh Sandy Permana
-
Pilu, Ini Keinginan Terakhir Sandy Permana untuk Anak-anaknya yang Belum Terwujud
-
Tampang Pembunuh Aktor Sandy Permana, Sempat Cukur Rambut untuk Kelabui Polisi
-
Ditangkap, Pelaku Pembunuhan Sandy Permana Lagi Dibawa ke Polda Metro Jaya
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Sentil BGN Borong Motor Listrik, Hasto PDI-P: Belajarlah dari Gojek, Jangan Hamburkan Anggaran
-
Roy Suryo Dukung JK Polisikan Rismon Sianipar, Bantah Terima Dana Rp50 M di Kasus Ijazah Jokowi
-
AMSI Minta Dewan Pers Lindungi Magdalene dari Pembatasan Akses Konten
-
Riset WRI Ungkap Paradoks Banjir: Investasi Besar Tak Selalu Kurangi Risiko, Kenapa?
-
DPR Kutuk Serangan Israel ke Beirut, Dinilai Cederai Gencatan Senjata IranAS
-
Kubu Roy Suryo Bantah Keras Isu Dana Rp5 M dari JK: Satu Rupiah Pun Tidak Pernah!
-
Menaker Lapor Ada 1.590 Aduan THR 2026, DKI Jakarta dan Jabar Terbanyak
-
Eks Dirut Inhutani V Divonis 4 Tahun Penjara Kasus Suap Hutan Lampung, Rubicon Dirampas Negara
-
Prabowo: Alhamdulillah Antrean Haji Paling Lama 26 Tahun, Tidak lagi 48 Tahun
-
Kutuk Serangan Israel, Macron Desak Lebanon Harus Diikutsertakan Dalam Gencatan Senjata AS dan Iran