Suara.com - Janji Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kesejahteraan guru kembali dipertanyakan. Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai tidak ada kebijakan baru yang signifikan untuk memperbaiki nasib para pendidik, termasuk dalam hal sertifikasi guru yang antreannya semakin panjang.
Alih-alih cari solusi dari antrean sertifikasi guru yang panjang, pemerintah justru akan memangkas kuota peserta dalam program pendidikan profesi guru (PPG).
"Kalau soal janji presiden peningkatan kesejahteraan guru sampai sekrang belum terbukti. Pidato presiden saat hari guru itu juga sebenarnya program yang sudah ada sejak zaman presiden SBY, dilanjutkan oleh Pak Jokowi, dilanjutkan lagi oleh pak Prabowo. Barunya apa soal kesejagteraan? Gak ada," kata Ubaid kepada Suara.com, dihubungi Jumat (14/2/2025).
Ia menyoroti antrean sertifikasi guru yang semakin tidak masuk akal. Namun belum berhasil ditangani oleh pemerintah.
"Sebagai ilustrasi, guru madrasah saja antreannya sampai 53 tahun. Kalau ada guru yang mengajukan sertifikasi sekarang usia 30 tahun, nanti baru dipanggil usia 83 tahun. Jadi lebih panjang dari antrean haji dan sangat menyengsarakan guru," kritiknya.
Ubaid menekankan bahwa program sertifikasi sejatinya berdampak pada dua hal utama, yaitu peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan guru. Namun, tanpa strategi yang jelas dari pemerintah, kualitas pendidikan justru terancam menurun.
Buruknya tata kelola guru akan berdampak terhadap rendahnya minat generasi muda untuk menjadi pendidik.
"Anak berprestasi ogah jadi guru. Kualitas buruk, ekosistem buruk. Kemudian dari sisi kesejahteraan juga buruk. Akhirnya guru diisi oleh calon-calon tidak berkualitas, gak punya visi. Dampaknya terhadap kualitas pendidikan, lama-lama ya tambah nyungsep," pungkasnya.
Baca Juga: Manfaat Lifelong Learning Bagi Anak Indonesia: Lebih dari Sekadar Pendidikan Akademik
Berita Terkait
-
Prabowo Tegaskan Efisiensi Tak Berimbas ke Sektor Pendidikan dan Pemotongan Gaji ASN
-
BEM SI Lakukan Konsolidasi di Kantor ICW, Tolak Efisiensi Anggaran Pendidikan Era Prabowo!
-
Harap-Harap Cemas Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia Di Balik Rencana Pemerintah Pangkas Anggaran
-
KIP-K Lahirkan Sarjana Pertama di Keluarga, Efisiensi Ancam Pendidikan!
-
Manfaat Lifelong Learning Bagi Anak Indonesia: Lebih dari Sekadar Pendidikan Akademik
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Kritik Pedas Idrus Marham: Komunikasi Menteri Prabowo Jeblok, Kebijakan Bagus Malah Salah Paham!
-
Gelar Lebaran Bersama Rakyat di Monas, Pemerintah Bagikan 100 Ribu Kupon Belanja
-
Satgas Damai Cartenz Ringkus Dua Anggota Jaringan Senjata dan Amunisi Ilegal di Jayapura
-
Komisi III DPR RI Gelar RDPU Terkait Dugaan Korupsi Videografer Amsal Sitepu
-
Serangan AS-Israel di Bandar Khamir Tewaskan 5 Warga Iran, Teheran Balas Hantam Fasilitas Aluminium
-
Presiden Prabowo Bertolak ke Jepang, Bahas Investasi hingga Temui Kaisar Naruhito
-
Rudal Houthi Yaman Hantam Israel di Hari ke-30 Perang Timur Tengah
-
USS Tripoli Tiba di Timur Tengah Bawa Ribuan Marinir Saat Isu Serangan Darat ke Iran Memanas
-
Harga BBM Filipina Melambung Tinggi Akibat Perang Iran, Sopir Jeepney Terancam Kelaparan
-
Pembatasan Medsos Anak Tak Cukup, IDAI Soroti Peran Orang Tua dan Kesenjangan Pendampingan