Suara.com - Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Rabu (19/2) mengadakan pertemuan lanjutan mengenai Ukraina untuk mengoordinasikan tanggapan Eropa terhadap ancaman dari Rusia. Langkah ini dilakukan setelah perubahan kebijakan mendadak di Washington, yang mengindikasikan kemungkinan pendekatan baru terhadap Moskow.
Dalam pertemuan tersebut, Macron berbicara kepada para pemimpin dari 19 negara, termasuk Kanada. Sebagian besar dari mereka berpartisipasi melalui konferensi video, menurut keterangan resmi dari kantor kepresidenan Prancis.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengejutkan Uni Eropa dengan menunjukkan niat untuk kembali berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pendekatan ini menimbulkan kekhawatiran di Eropa, terutama karena Trump tampaknya siap untuk membahas masa depan Ukraina tanpa melibatkan pemimpin Eropa maupun Kyiv.
Sebagai respons, Macron pada Senin sebelumnya telah mengadakan pembicaraan darurat dengan para pemimpin utama Eropa serta pejabat tinggi NATO dan Uni Eropa. Namun, beberapa negara Eropa yang tidak diundang ke pertemuan awal, termasuk Rumania dan Republik Ceko, mengungkapkan keterkejutan mereka. Hal ini mendorong Macron untuk menggelar pertemuan baru pada Rabu.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden sementara Rumania Ilie Bolojan dan Perdana Menteri Luksemburg Luc Frieden hadir secara langsung. Sementara itu, para pemimpin Lithuania, Siprus, Finlandia, Belgia, Bulgaria, Kanada, Kroasia, Estonia, Yunani, Irlandia, Islandia, Latvia, Norwegia, Portugal, Swedia, Slovenia, dan Republik Ceko bergabung melalui konferensi video.
Beberapa negara tidak hadir dalam pertemuan ini, termasuk Hongaria dan Slowakia, yang pemimpinnya memiliki hubungan dekat dengan Putin. Turki, yang Presiden Recep Tayyip Erdogan ingin bertindak sebagai mediator, juga tidak masuk dalam daftar peserta.
Surat kabar Prancis Le Monde menyoroti ketidakpuasan beberapa negara Eropa yang tidak diundang dalam pertemuan Senin lalu. Namun, media tersebut juga mencatat bahwa beberapa pemimpin negara-negara tersebut menghadapi tantangan politik domestik akibat meningkatnya kekuatan pro-Rusia di dalam negeri mereka.
Dalam wawancara dengan media regional Prancis pada Selasa (18/2), Macron memperingatkan bahwa Rusia merupakan ancaman eksistensial bagi warga Eropa.
"Jangan berpikir bahwa hal yang tidak terpikirkan tidak akan terjadi, termasuk yang terburuk," katanya.
Baca Juga: Donald Trump: Saya Cinta Ukraina
Macron juga membuka kemungkinan untuk mengirim pasukan ke Ukraina, meskipun dalam kapasitas yang terbatas dan tidak dalam zona konflik langsung. Menurutnya, Prancis dan Inggris sedang mempertimbangkan pengiriman para ahli atau bahkan pasukan dalam jumlah terbatas ke Ukraina.
Sementara itu, pernyataan Trump pada Selasa yang menyalahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy atas invasi Rusia semakin memperumit situasi. Juru bicara pemerintah Prancis Sophie Primas menilai pernyataan Trump sebagai "tidak dapat dipahami" dan mempertanyakan konsistensi kebijakan AS terhadap Ukraina.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan bahwa negaranya mungkin harus mengambil keputusan sulit dalam menghadapi ancaman Rusia.
"Rusia telah memutuskan untuk menjadikan kita sebagai musuh, dan kita harus membuka mata serta menyadari skala ancaman ini untuk melindungi diri kita sendiri," ujarnya kepada penyiar RTL.
Sebagai bagian dari tekanan terhadap Moskow, negara-negara Uni Eropa pada Rabu menyepakati putaran sanksi baru terhadap Rusia, menurut laporan para diplomat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi
-
Sentil Pihak yang Suka Gaduh Usai Pemilu, Prabowo: Saya Kalah 4 Kali Tak Pernah Ribut
-
Penolakan JC Sony Sonjaya Dinilai Hambat Pengungkapan Nama-Nama Penting di Kasus MBG
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Dishub DKI Siapkan Shelter hingga Relaksasi Parkir bagi Ojek Online
-
Jejak Sadis Taufik Hidayat: 4 Indekos Jadi Saksi Bisu Yuvita Dibuat Buta hingga Lumpuh
-
Polisi Bongkar Home Industri Narkoba, Kamar Apartemen Disulap Jadi Tempat Produksi
-
Sekap dan Siksa Yuvita Pakai Helm, Sajam hingga Rokok: Taufik Hidayat Ternyata Penjahat Kambuhan!
-
Jokowi Safari Pakai Kemeja PSI, Golkar Santai Tak Khawatir Pemilih Migrasi
-
Jakarta Rangkul Konten Kreator untuk Jembatani Informasi Ibu Kota ke Warga