Suara.com - Alih-alih menjadi solusi penyelamat lingkungan, kendaraan listrik (electric vehicle) justru berpotensi menyumbang emisi karbon di beberapa negara, terutama bila listriknya masih bersumber dari bahan bakar fosil.
Temuan mengejutkan ini datang dari studi gabungan Universitas Auckland dan Universitas Xiamen, ketika dunia berlomba-lomba beralih ke kendaraan listrik demi menyelamatkan iklim.
"Temuan ini tampak bertentangan dengan pendapat populer saat ini," ujar Miaomiao Tao, kandidat doktor dari Pusat Energi Sekolah Bisnis, Universitas Auckland, melansir EurekAlert!, Rabu (21/5/2025).
Dalam studi yang dimuat di jurnal Energy tersebut, peneliti menyatakan bahwa kendaraan listrik hanya benar-benar ramah lingkungan bila diisi menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan.
Masalahnya, hingga 2023, energi terbarukan seperti angin, matahari, dan air baru menyumbang sekitar 30 persen dari listrik global. Angka itu masih jauh dari ambang batas 48 persen, tingkat minimum yang menurut studi tersebut diperlukan agar kendaraan listrik mulai efektif mengurangi emisi karbon secara global.
Kendaraan Masa Depan, Listrik Masih dari Batu Bara
Kendaraan listrik kerap diasosiasikan sebagai “kendaraan masa depan” yang ramah lingkungan. Namun, seperti dijelaskan Profesor Stephen Poletti dari Universitas Auckland, logikanya tidak sesederhana itu.
"Bayangkan kendaraan listrik diisi dari listrik yang dihasilkan pembangkit batu bara. Dalam skenario itu, justru emisinya bisa lebih tinggi dibanding mobil bensin modern," ungkap Poletti.
Studi ini menganalisis data dari 26 negara selama 15 tahun, dan menyimpulkan bahwa transisi ke EV harus berjalan beriringan dengan reformasi besar dalam sistem energi. Jika tidak, maka EV hanya memindahkan sumber emisi dari knalpot ke cerobong asap pembangkit.
Baca Juga: Seberapa Menjanjikan Green Jobs Bagi Zilenial, dan Bagaimana Tips Memulainya?
Hingga tahun 2025, PLTU batu bara masih menyumbang sekitar 50% dari total energi listrik Indonesia. Inilah yang membuat batu bara masih menjadi andalan untuk memenuhi beban dasar (base load) kelistrikan nasional.
Di sisi lain, Indonesia tengah mempercepat transformasi ke arah ekonomi hijau dengan fokus pada pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Pemerintah menargetkan 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik beroperasi pada 2030.
“Proyeksi penggunaan EV bisa mencapai 31,1 juta unit pada 2030,” ujar Dendy Apriandi, Direktur Deregulasi Penanaman Modal BKPM, dalam Podcast On The Go di YouTube Suara.com, yang tayang Januari 2025 lalu.
Berbagai insentif pun diberikan, mulai dari subsidi Rp7 juta untuk motor listrik, hingga insentif fiskal dan non-fiskal lainnya bagi kendaraan roda empat. Pemerintah juga mendorong pembangunan ribuan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk mendukung infrastruktur EV.
Namun, survei dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia belum menjadikan EV sebagai kendaraan utama, melainkan hanya tambahan. Artinya, selain infrastruktur, tantangan juga datang dari persepsi dan kesiapan pasar.
Tantangan Pembangunan Ekosistem Kendaraan Listrik
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 5 HP Murah 5G di Bawah Rp2 Juta, Koneksi Kencang untuk Multitasking
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Serahkan Rp11,4 Triliun, Prabowo Sentil Oknum Birokrasi Nakal
-
Rumah Saksi Kasus Ijon Bekasi Dibakar, Eks Penyidik KPK: Teror Serius terhadap Pemberantasan Korupsi
-
Gantikan Anwar Usman Jadi Hakim MK, Liliek Prisbawono Punya Harta Rp5,9 Miliar
-
Pembahasan RUU Perampasan Aset Kembali Bergulir, Dinilai Tepat Usai KUHAP Baru Berlaku
-
Deddy Sitorus Respons Ajakan Gibran Ngantor di IKN: Dengan Senang Hati, Tapi Masalahnya...
-
Kronologi Ahmad Sahroni Diperas Rp 300 Juta oleh Oknum yang Mengatasnamakan KPK
-
Resmi Dilantik Jadi Ketua Ombudsman 20262031, Hery Susanto Siap Benahi Internal Lembaga
-
Tradisi Taklimat Prabowo Dinilai Perkuat Koordinasi Pemerintahan
-
Wacana Pelarangan Vape di Indonesia, Apa Sebenarnya yang Terjadi dan Apa Risikonya?
-
Momen Prabowo Berdiri di Hadapan 'Gunungan' Uang Rp11,4 Triliun di Kejagung